Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun kelapa. Foto ilustrasi: wikipedia

Kebun kelapa. Foto ilustrasi: wikipedia

Petani Kelapa Tolak Larangan Ekspor Kelapa Bulat

Kamis, 26 November 2020 | 10:51 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Petani Kelapa yang tergabung dalam Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (Perpekindo) menolak permintaan Ketua Komisi IV DPR agar Kementan melarang ekspor kelapa bulat.

Dalam rapat dengar pendapat dengan eselon I Kementan, Ketua Komisi IV DPR Sudin mengatakan ekspor kelapa bulat dilarang karena alasan hilirisasi dan industri kekurangan bahan baku.

Ekspor kelapa bulat sebagian besar ke Tiongkok, semua bagian kelapa yaitu sabut, tempurung, daging dan air bisa diolah jadi produk bernilai tambah tinggi. Dirjen Perkebunan Kementan merespon permintaan ini dan berjanji akan membuat aturan pelarangan ekspor kelapa bulat.

Ketua Perpekindo Muhaemin Tallo mengatakan  sejak awal tahun 1990, kehidupan petani kelapa jauh dari kata sejahtera terutama karena hadirnya minyak sawit yang menggantikan posisi minyak kelapa.

Di saat bersamaan kehadiran industri kelapa tidak menambah kesejahteraan petani, bukan karena tidak terserap semua hasil panennya tetapi karena harga beli di kalangan industri masih di bawah biaya panen.

Petani kelapa tidak sejahtera sudah berlangsung puluhan tahun karena rendahnya nilai jual, keadaan ini mulai berakhir ketika ekspor kelapa dilakukan karena harga beli eksportir melebihi harga beli kalangan industri.

“Kami ingin sejahtera siapa yang akan menjamin kelapa petani akan diserap oleh industri jika ekspor ditutup,” ujar dia kepada Investor Daily, di Jakarta, Kamis (26/11).

Jika larangan ekspor diberlakukan maka harga kelapa akan terjun bebas dan kemiskinan di desa di tengah pandemi Covid-19 akan meningkat.
Jika industri kekurangan bahan baku karena adanya ekspor merupakan kesimpulan yang salah, Indonesia tidak kekurangan bahan baku yang terjadi adalah kalangan industri tidak bisa bersaing dengan harga beli para eksportir di tingkat petani.

Usulan pelarangan ekspor kelapa oleh kalangan industri sudah sering dibicarakan dalam dialog antara Perwakilan Petani dan kalangan industri dan dimediasi oleh Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.

Pihaknya sebagai wakil petani hanya memberikan pertanyaan sederhana berapa jumlah industri kelapa dan berapa kebutuhan per tahun, luas kebun kelapa 3,8 juta hektar dengan produksi sekitar  15,4 miliar per tahun berdasarkan data Kementan, dengan kebutuhan rumah tangga sekitar 1,5 miiar butir per tahun dan industri sekitar 9,6 miliar butir maka terjadi surplus sekitar 4-5 miliar butir per tahun.

Surplus membuat ekspor kelapa bulat ke beberapa negara Asia dan Timur Tengah tidak pernah mengurangi kecukupan bahan baku baik untuk rumah tangga dan industri.

Dengan luas 4,8 juta hektar, Indonesia adalah pemilik kebun kelapa terbesar di dunia setelah Filipina, dan India.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN