Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Petani Minta Pemerintah Batasi Impor Kentang Tiongkok

Antara, Senin, 19 September 2011 | 17:23 WIB

BANDUNG- Para petani kentang di Bandung Selatan, Jawa Barat, meminta pemerintah segera membatasi impor kentang dari Tiongkok agar hasil panen bisa terserap pasar setelah sebelumnya mengalami kerugian akibat cuaca ekstrim akhir 2010 hingga awal 2011.

Ketua Kelompok Tani Bintang Saga asal Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung Hasan Mutaqin Senin, menuturkan, serbuan kentang impor yang terjadi sejak dua bulan cukup meresahkan kalangan petani di Bandung Selatan.

Menurut Hasan, keresahan para petani tersebut cukup beralasan karena harga kentang dengan kualitas super yang biasa dijual Rp7000 per kg saat ini harganya turun hingga Rp4000 per kg, sedangkan harga kentang impor di pasaran saat ini dijual Rp3000 hingga 4000 per kg.

"Saat cuaca ekstrim beberapa bulan lalu, walau harga kentang mencapai Rp7000 per kilogramnya, tidak kami rasakan pengaruhnya karena hasil produksinya sangat buruk.

Dalam satu hektare, biasanya kami bisa menghasilkan hingga 15 hingga 20 ton. Namun, karena cuaca ekstrim per hektar hanya menghasilkan rata-rata 10 ton. Tetap saja, walau harga bagus hasilnya tidak menutupi modal," kata H asan saat di Gedung Sate Bandung.

Dikatakannya, pada musim panen ini kualitas hasil panen kentang cukup memuaskan.

Dirinya berharapa dengan kualitas yang baik ini dapat menutupi kerugian pada musim cuaca ekstrim lalu, tapi karena serbuan kentang impor yang terus membanjiri pasar lokal para petani kembali merugi.

"Jadi hasil panen kali ini, kami hanya bisa menjual kentang dengan kualitas super dengan harga murah. Untuk kualitas biasa, kami sudah kesulitan menjualnya. Karena para pasar sudah tidak mau lagi menjual hasil panen kami yang kualitasnya biasa. Mereka lebih memilih kentang import," ujar Hasan.

Hal serupa diutarakan oleh petani kentang lainnya, Yayan Sopyan, ia mengeluhkan atas kebijakan pemerintah yang terus membuka kran impor kentang dari luar.

Yayan meminta pemerintah agar segera membatasi para pengusaha yang mengimpor kentang dari luar negeri.

Ia menilai, jika situasi ini terus dibiarkan akan berubah menjadi lebih buruk seiring masuknya kentang impor ke pasaran yang jelas bisa menjadi ancaman bagi kentang lokal.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Jawa Barat Endang Suhendar mengatakan berdasarkan informasi dari pemerintah pusat jika saat ini Indonesia masih membutuhkan kentang impor.

Endang mengakui, masuknya kentang impor tentu akan berpengaruh terhadap nilai jual kentang lokal bahkan dianggap bisa merugikan.

"Memang pada dasarnya kami tidak memiliki kewenangan untuk menangani ini. Namun, aspirasi dari petani ini tentunya akan kita fasilitasi. Kasian petani jika terus merugi, kami tentu akan menyampaikan aspirasi ini kepada pemerintah pusat," kata Endang.

Menurut dia, pada Selasa (20/9) nanti, pihaknya akan berdialog langsung dengan para petani di wilayah Bandung Selatan, Jawa Barat.

"Pada Selasa (20/9) saya ada undangan dialog dengan petani kentang di Pangelangan dan materi yang akan dibahas salah satunya soal impor ini," kata Endang.(ant/hrb)

BAGIKAN