Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Panen perdana tanaman hortikultura di lahan seluas sekitar 5.000 m2 program PHE WMO dengan Kelompok Tani Sangga Buana di Desa Bandang Dajah, Kec. Tanjung Bumi, Kab. Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Senin(11/1/2021). Foto:Istimewa

Panen perdana tanaman hortikultura di lahan seluas sekitar 5.000 m2 program PHE WMO dengan Kelompok Tani Sangga Buana di Desa Bandang Dajah, Kec. Tanjung Bumi, Kab. Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Senin(11/1/2021). Foto:Istimewa

PHE WMO Sulap Lahan Tandus Jadi Penghasil Tanaman Holtikultura

Rabu, 13 Januari 2021 | 04:29 WIB
Amrozi Amenan (ros_amrozi@yahoo.com)

SURABAYA, investor.id - Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) bersama Kelompok Tani Sangga Buana menyulap lahan tandus di Desa Bandang Dajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur menjadi lahan subur yang mampu menghasilkan beragam tanaman holtikultura.

Ketua Kelompok Tani Sangga Buana Desa Bandang Dajah, Jazi, mengungkapkan, lahan tandus itu adalah lahan tadah hujan, yang ditanami kalau ada hujan dan hanya ditanami tanaman jagung dan kacang ijo yang panen sekali dalam setahun.

Namun, setelah PHE WMO bersama kelompok tani memberi sentuhan melalui Program Eco Edufarming, lahan tandus itu menjadi lahan subur dan menanaminya dengan berbagai tamanan hortikultura.

Seperti tanaman bunga Koll varietas Liberti, Semangka varietas Esteem, Jagung varietas Madura, Pakcoy varietas Nauly, Bawang Merah varietas Sumenep, Cabe varietas Imola dan Tomat varietas Servo.

“Kini berbagai tanaman hortikultura itu sudah bisa di panen dan merupakan panen raya perdana di awal tahun 2021," ungkap Jazi, Selasa (12/1/2021).

Jazi lebih lanjut menjelaskan, Program Eco Edufarming yang diterapkan PHE WMO kepada kelompok tani telah memberikan wawasan dan harapan baru bagi masyarakat sebagai pendongkrak potensi pendongkrak perekonomian dari sektor pertanian.

Panen perdana tanaman hortikultura di lahan seluas sekitar 5.000 m2 program PHE WMO dengan Kelompok Tani Sangga Buana di Desa Bandang Dajah, Kec. Tanjung Bumi, Kab. Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Senin(11/1/2021). Foto:Istimewa
Panen perdana tanaman hortikultura di lahan seluas sekitar 5.000 m2 program PHE WMO dengan Kelompok Tani Sangga Buana di Desa Bandang Dajah, Kec. Tanjung Bumi, Kab. Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Senin(11/1/2021). Foto:Istimewa

Mengingat luas lahan tidur dan tadah hujan di desa Desa Bandang Dajah mencapai hampir 80%. Tak heran pula, program tersebut telah menarik warga lain untuk bergabung dengan kelompok tani dengan lahan yang telah disiapkan. Hingga saat ini warga yang bergabung dengan Kelompok Tani Sangga Buana bentukan PHE WMO itu mencapai 15 orang.

“Hasil panen beragam tanaman holtikultura rencananya akan dijual ke pasar-pasar di Bangkalan,” terang dia.

Panen perdana di lahan demplot seluas sekitar 5.000 meter persegi itu menarik perhatian Ketua Kelompok Bisnis Hortikultura Indonesia, Mohammad Maulid.

"Ini bagus, mudah, dan menjanjikan. Semacam trigger bagi masyarakat agar semangat bercocok tanaman holtikultura," kata Maulid.

Ia menyarankan agar para petani holtikultura lebih fokus pada satu tanaman saja. Misalnya, tanaman tomat. Ketika nantinya berkembang, Desa Bandang Dajah bisa menjadi kawasan atau sentra penghasil tomat.

"Satu desa bisa jadi sentra tomat atau tanaman lainnya. Kami akan membantu dari segi market. Selain membantu pemasaran, kami juga akan membantu dalam bentuk sarana produksi. Seperti kebutuhan pupuk ataupun bibit. Petani fokus bertani," ujarnya.

Sementara untuk mengubah lahan tandus menjadi lahan subur sehingga bisa ditanami tanaman hortikultura itu, PHE WMO ini juga menggandeng pendamping program pertanian.

“Kesuburan tanah tidak dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat yang enggan bertani. Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan tentang pola pertanian, pemahaman tentang besarnya modal pertanian dan pangsa pasar yang tidak menjanjikan sehingga masyarakat melihat sektor pertanian di Desa Bandang Dajah tidak bernilai ekonomis,” kata pendamping program pertanian, Nurudin.

Menurut dia, target awal dari program ini adalah memanfaatkan lahan tidur dengan melakukan intensifikasi pertanian biaya murah. Tingginya biaya pertanian karena umumnya menggunakan pola pertanian dengan obat-obatan. Dengan pola bertanam seperti itu, keuntungan yang didapat juga sangat sedikit dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka pun memilih merantau dan bekerja sebagai kuli bangunan. Lahan mereka ditinggalkan dan hanya ditanami rumput untuk pakan ternak.

Berangkat dari masalah tersebut, PHE WMO berinisiatif menemukan formula yang tepat dalam eksplorasi pertanian agar bisa menghidupi masyarakat setempat.

“Kami kenalkan teknologi tepat guna, murah, dan bisa mudah dicontoh masyarakat. Kami pangkas sebagian besar biaya hingga 90,99 persen, tanpa obat obatan. Sehingga cost-nya turun banyak," terang Nurudin.

Selain itu, PHE WMO juga memberikan pelatihan cara pembuatan  pupuk olahan dari kotoran hewan ataupun dari limbah arang sekam. "Artinya, kendala air dan pupuk bisa diatasi. Bahkan selain jagung, semua tanaman bisa tumbuh subur di lahan yang dinilai minim air," imbuh Nurudin.

Field Manager PHE WMO Sapto Agus Sudarmanto menambahkan, melalui program pertanian di Bandang Dajah ini pihaknya berharap bisa memunculkan kemandirian dan potensi peningkatan ekonomi melalui pertanian organik dan hemat biaya.

“Kami juga bisa mengenalkan potensi pertanian yang ada di desa ini,” katanya. Sebelumnya, di Desa Bandang Dajah ini juga PHE WMO telah berkontribusi dalam penyediaan fasilitas air bersih dan pembentukan HPAM Sumber Barokah. “Programnya adalah pemboran dan pipanisasi melalui rumah warga,” tutur Sapto.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN