Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo membuka Rakernas Pertanian, Senin (11/1/2021). Sumber: Setpres

Presiden Joko Widodo membuka Rakernas Pertanian, Senin (11/1/2021). Sumber: Setpres

Presiden Minta Mentan Lebih Serius Mengelola Pangan Nasional

Senin, 11 Januari 2021 | 11:19 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo lebih serius dalam pembangunan sektor pertanian, khususnya pengelolaan pangan nasional  untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas impor.

Saat ini, Indonesia sangat bergantung pada impor kedele, jagung, bawang putih, dan gula. Padahal pemerintah menggelontorkan dana sebesar Rp 33 triliun per tahun untuk subsidi pupuk dan bibit tanaman.

“Kita tahu  penduduk Indonesia sudah 270 juta jiwa lebih. Oleh sebab itu, pengelolaan yang berkaitan dengan  pangan harus diseriusi.  Pembangunan pertanian betul-betul harus kita  seriusi, terutama yang berkaitan dengan komoditas pertanian yang impor,” kata Presiden Jokowi pada pembukaan Rakernas Pembangunan Pertanian Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Senin (11/1/2021).

Presiden Joko Widodo membuka Rakernas Pertanian, Senin (11/1/2021). Sumber: Setpres
Presiden Joko Widodo membuka Rakernas Pertanian, Senin (11/1/2021). Sumber: Setpres

Ia mengatakan, pada  beberapa pekan terakhir ini, pemerintah disibukkan oleh permasalahan terkait  tahu,  tempe,  dan kedele. Harga kedele impor melonjak hingga 35% sehingga mempengaruhi harga tahu dan tempe di tingkat konsumen.

“Kedele hati-hati. Jagung hati-hati. Gula hati-hati. Ini   yang masih impor jutaan ton, bawang putih, dan beras. Meskipun ini sudah hampir 2 tahun kita tidak impor beras.  Saya mau melihat betul pangannya kondisinya seperti apa, apakah konsisten bisa kita lakukan untuk tahun-tahun mendatang,” jelas dia.

Menurut Presiden Jokowi, saatnya pemerintah mengurangi secara berkala komoditas pangan yang diimpor melalui cara-cara modern seperti penggunaan teknologi dan penyediaan lahan pertanian yang luas hingga ratusan ribu hektara, seperti food estate (lumbung pangan), yang kini dikembangkan di Provinsi Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah.

“Tolong,  itu menjadi catatan dan dicarikan desain yang baik agar kita bisa  selesaikan. Menurut saya  tidak bisa kita melakukan hal-hal yang konvensional, rutinitas, monoton seperti yang kita lakukan bertahun-tahun,”kata Presiden Jokowi.

Presiden Joko Widodo membuka Rakernas Pertanian, Senin (11/1/2021). Sumber: Setpres
Presiden Joko Widodo membuka Rakernas Pertanian, Senin (11/1/2021). Sumber: Setpres

Ia mengatakan, pemerintah harus harus membangun sebuah kawasan pertanian yang economic skill seperti food estate untuk menanam komoditas pertanian yang sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia. 

Disebutkan bahwa food estate  di Provinsi Sumatera Utara dan  di Kalimantan Tengah  harus  diselesaikan tahun ini sehingga pemerintah dapat mengevaluasinya.
“Problemnya apa, masalah  di lapangannya apa, teknologinya yang kurang apa, dan juga dengan cara-cara teknologi, bukan cara-cara  konvensional di food estate. Karena ini akan  menjadi   contoh. Nanti kalau  ini  benar, semua provinsi sudah datang, tinggal di-copy saja,” jelasnya.

Menurut Presiden Jokowi, food estate  harus dalam skala yang luas dan memerlukan economic skill sehingga dapat  berproduksi dalam jumlah besar dan harganya dapat bersaing dengan komoditas impor.   

Tanaman kedele, kata Presiden Jokowi, yang tumbuh baik di Indonesia kini enggan dilirik petani  karena harganya kalah bersaing dibanding kedele impor. Sebab harga  jual di tingkat petani jauh lebih tinggi dibanding  harga impor. Akibatnya, harga pokok produksi tidak tertutupi.

“Harus ditanam dalam jumlah besar agar harganya   bisa melawan yang impor. Bawang putih, kenapa dulu kita produksi bawang putih dan sekarang  petani tidak mau tanam? Karena harganya kalah dengan bawang putih impor. Wonosobo bawang putihnya banyak, NTB bawang putihnya banyak. Kenapa tidak bisa diperluas dalam jumlah besar sehingga bisa melawan harga impor. Ada competitive price-nya,” katanya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN