Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Raw Sugar. Foto: IST

Raw Sugar. Foto: IST

Produksi Turun, RI Perlu Impor Gula Konsumsi 1,3 Juta Ton

Rabu, 12 Februari 2020 | 22:22 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Produksi gula pada tahun 2020 diperkirakan hanya mencapai 2,1 juta ton karena dampak musim kemarau yang berkepanjangan di beberapa daerah sehingga menurunkan produktivitas gula nasional.

Ketua Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Budi Hidayat mengatakan produksi gula tahun ini turun 10% jika dibanding produksi gula tahun 2019 yang mencapai 2,2 juta ton.

Meskipun terjadi perluasan areal tebu di luar Jawa tetap saja tebu membutuhkan pasokan air untuk tumbuh, jika musim kemarau tidak berhenti maka menyebabkan gagal panen.saat ini, luas areal tebu giling sekitar 419.99 hektare.

“Luas areal tebu memang bertambah tetapi kondisi cuaca tetap mempengaruhi produksi gula,” ujar dia dalam acara “Outlook Gula Nasional” di Jakarta, Rabu (12/2).

Produksi gula yang menurun tahun ini tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumsi gula nasional, dalam setahun, konsumsi gula untuk konsumsi mencapai 3,1 juta ton sementara stok awal tahun 2020 hanya mencapai 1,084 juta ton, jika kondisi ini dibiarkan maka akan terjadi defisit gula hingga akhir tahun.

Untuk pemenuhan kebutuhan pada tahun 2020 maka dibutuhkan impor gula untuk konsumsi langsung sebesar 1,3 juta ton.

Keperluan impor ini tidak hanya untuk memenuhi konsumsi tetapi juga untuk persiapan awal tahun 2021.

Produksi gula Indonesia tahun 2019 mencapai 2,2 juta ton sedikit di atas produksi tahun 2018 sebesar 2,1 juta ton, tahun 2019 memang terjadi penurunan luas tebu giling dari tahun 2018 seluas 413.432 hektare menjadi 411.435 hektare.

Harga ritel gula relatif stabil, meskipun tahun 2020 diawali dengan adanya peningkatan harga lelang sebesar Rp 12 ribu/kg, namun kenaikan tersebut tetap akan dikendalikan oleh penetapan harga tertinggi dari pemerintah sebesar Rp 12.500/Kg yang berlaku sampai 30 Juni 2020.

Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen meminta pemerintah berkoordinasi dengan AGI dan APTRI untuk menghitung secara matang kebutuhan impor gula untuk konsumsi.

Jika volume impor melebihi maka akan menekan harga gula di petani sehingga petani dirugikan.Ia juga meminta impor gula harus dalam bentuk kristal putih dan bisa dikonsumsi, bukan raw sugar.

Raw sugar biarlah urusan industri karena industri bisa mengambil pasokan dari petani tebu jadi petani juga untung,” ujar dia.

Ia juga meminta pemerintah agar menaikkan harga acuan gula di tingkat petani dan masih memakai acuan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Harga raw sugar dunia pada tahun 2019 mencapai rata rata US$ 270,27 per ton, pada tahun 2020 belum ada kenaikan dan diperkirakan masih sama.

Harga gula dunia pada semester 1 2020 diperkirakan hanya mengalami sedikit kenaikan dibandingkan kondisi tahun 2019 yang dapat dilihat dari nilai nilai kontrak yang dibuat pada Maret-November 2019 untuk pengapalan bulan Maret 2020 berkisar antara US$ 269,62 per ton.

Harga lelang gula petani rata rata tahunan pada tahun 2019 sebesar Rp 10.196/kg, mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2018 yang tercatat Rp 9.469/kg.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN