Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Franky Widjaja. ( Foto: forbes.com )

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Franky Widjaja. ( Foto: forbes.com )

Rakornas Kadin Fokus Pada Ketahanan Pangan

Ridho Syukra, Selasa, 5 November 2019 | 16:39 WIB

JAKARTA, investor.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin Indonesia) mengadakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dengan tema “Produktivitas dan Daya Saing Pertanian dan Industri Pangan” pada Selasa (5/11) di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.

Rakornas tersebut akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing pertanian dan program kerja dunia usaha ke depannya.

Pasalnya ketahanan pangan masih menjadi fokus utama pemerintah karena menyangkut kebutuhan hidup, ditambah tantangan ketahanan pangan terus meningkat seiring dengan jumlah populasi yang terus bertambah.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Franky Widjaja mengatakan, pada 2045 populasi dunia diproyeksikan mencapai 9 miliar jiwa, dan penduduk Indonesia semakin besar populasinya menjadi 350 juta jiwa.

Peningkatan populasi tersebut harus diimbangi dengan produksi pangan yang mencukupi, tujuannya agar bisa memenuhi kebutuhan pangan nasional. Peningkatan produksi pangan juga memerlukan bibit tanaman pangan yang unggul, dan bisa berproduksi tinggi.

Saat ini, kondisi perbibitan dan perbenihan komoditas pangan belum terkoordinasikan dengan baik, bibit dan benih yang beredar sangat beragam dan belum terstandarisasi bahkan hilang dari pasaran.

Sementara bibit dan benih yang memenuhi syarat dan mempunyai sertifikat masih sangat terbatas sehingga berdampak pada harganya yang cukup mahal sehingga membuka peluang untuk masuknya bibit impor.

Pada kenyataannya, bibit impor tidak sesuai dengan kebutuhan para petani dan sering mendapatkan komplain.

“Dunia usaha menginginkan agar pemerintah memikirkan tentang kebijakan yang mengatur tentang perbibitan dan perbenihan komoditas pangan secara nasional,” ujar dia di Jakarta, Selasa.

Kadin juga menginginkan kebijakan yang dikeluarkan harus terstruktur mulai dari pengadaan, pendistribusian, penyimpanan hingga menanamnya.

Di samping itu, pemerintah perlu mengeluarkan inovasi mengenai tumbuh kembang bibit dan benih agar pangan Indonesia semakin berdaya saing. Pendistribusian bibit dan benih pun harus diperhatikan usupaya masyarakat bisa mendapatkannya secara fair.

Edukasi kepada petani soal penggunaan pupuk berimbang untuk sejumlah komoditas harus dilakukan, dan petani harus mengetahui tentang pupuk yang berkualitas untuk tanamannya. Petani juga harus diajarkan mengenai teknologi pertanian yang semakin berkembang, karena alat alat pertanian sudah berinovasi dan petani harus mengetahui cara mengoperasikannya.

Bahkan ada alat pertanian yang sudah digital dan masih banyak petani yang belum mengetahui cara mengoperasikannya khususnya di daerah. Oleh karena itu, edukasi mengenai penggunaan teknologi pertanian kepada petani sudah menjadi suatu keharusan dan kewajiban dan tidak boleh ditunda-tunda lagi.

Kadin juga menginginkan sistem perdagangan global yang semakin terbuka harus diikuti karena bisa mempengaruhi harga pangan dalam negeri. Agar harga pangan tidak turun maka diperlukan ekosistem iklim investasi dan ketahanan pangan untuk sektor pertanian.

“Strategi industrialisasi berbasis agroindustri perlu disiapkan dengan matang dan tidak boleh asal- asalan karena strategi ini bisa mendorong daya saing Indonesia juga,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan Juan P Adoe menekankan pentingnya pertumbuhan investasi di sektor pangan.

Selain investasi, diperlukan pula infrastruktur pembiayaan perbankan yang lebih inovatif dan kreatif sehingga mempermudah akses permodalan kepada petani dan peternak.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, sektor makanan masih menjadi penyumbang utama penanaman modal dalam negeri sebesar Rp 7,1 triliun dan kedua terbesar di di Penanaman Modal Asing senilai US$ 376 juta.

Ketua Pelaksana Rakornas Franky Welirang mengatakan, rakornas ini menjadi acara penting Kadin di akhir tahun karena melibatkan para pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, asosiasi dan himpunan bisnis, petani dan perbankan.

Ia berharap rekomendasi rakornas ini bisa menjadi referensi pemerintah dalam membuat kebijakan dan diharapkan bisa menguntungkan. “Kami ini kan mitra pemerintah dan kami akan lakukan apa pun untuk kebaikan bersama dengan pemerintah,” tutur dia. (dho)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA