Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro.

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro.

Rakornas Kadin: Investasi Sektor Pertanian Harus Diperkuat

Ridho Syukra, Selasa, 5 November 2019 | 18:02 WIB

JAKARTA, investor.id Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengadakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dengan tema “Produktivitas dan Daya Saing Pertanian dan Industri Pangan” pada Selasa (5/11) di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.

Ada pun tujuan rakornas tersebut adalah untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah agar meningkatkan produktivitas dan daya saing pertanian.

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro yang hadir dalam Rakornas Kadin mengatakan, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menyerap tenaga kerja cukup besar, tetapi di satu sisi sektor pertanian masih menghadapi sejumlah tantangan.

Tantangan utama adalah kurangnya investasi yang masuk ke sektor pertanian, padahal sektor pertanian merupakan sektor yang paling potensial dan menyerap tenaga kerja cukup besar. Investasi di sektor pertanian kurang karena pemerintah, pengusaha dan petani tidak saling berkoordinasi dan bersinergi.

Ke depannya, pemerintah berencana mendorong investasi berbasis pertanian dengan meningkatkan kemitraan dengan pengusaha dan mengajak pengusaha melakukan research and development.

Research and development bisa menjadi referensi atau acuan untuk investasi berkelanjutan, investor juga tertarik jika suatu negara sudah mempersiapkan studi kelayakan untuk investasi. Selain mendorong investasi di sektor pertanian, pemerintah akan memperkuat sistem dan teknologi pertanian agar petani naik kelas dan bisa bersaing.

Sekitar 40% petani di Indonesia sudah mengerti teknologi pertanian sementara sisanya masih belum mengetahui teknologi padahal teknologi pertanian semakin berkembang pesat khususnya di alat pertanian.

Perkembangan teknologi tidak bisa dilepaskan dan sudah terjadi di semua sektor termasuk sektor pertanian dan petani Indonesia sudah harus mengikuti perkembangan teknologi yang cepat berubah.

“Petani merupakan fundamental paling mendasar dari sektor pertanian, jadi petani harus diajarkan dan dibimbing,” ujar dia di Jakarta, pada Selasa.

Ia menjelaskan di Indonesia, makna petani merupakan orang yang bekerja di sawah atau di perkebunan. Padahal yang namanya petani, adalah orang yang mencari keuntungan lewat sektor pertanian termasuk pengusaha.

Pengusaha juga bisa disebut petani tetapi dalam skala besar, sementara yang bekerja di lapangan baru petani skala kecil. Makna petani sendiri harus diluruskan karena pengusaha yang mencari keuntungan lewat pertanian juga layak disebut petani dan pengusaha tidak boleh marah disebut petani.

Pemerintah juga mendorong pelaku usaha di sektor industri makanan melakukan kemitraan dengan petani melalui konsep inti plasma, dengan konsep kemitraan tersebut maka bisa meningkatkan produktivitas komoditas pangan strategis.

Inti plasma merupakan konsep kemitraan antara usaha kecil dan menengah dengan usaha besar dimana usaha kecil mempunyai peran sebagai usaha inti sementara usaha besar sebagai plasma.

Konsep kemitraan intiplasma dijamin memberikan keuntungan. Konsep ini bisa diterapkan untuk tanaman pangan dan bisa menghasilkan bibit bibit unggul berkualitas tinggi.

Disamping itu, Ketua Kadin Indonesia Rosan Roeslani mengatakan pihaknya setuju dengan pendapat Menristek Bambang agar pengusaha, pemerintah dan petani bisa saling berkoordinasi untuk mendorong sektor pertanian.

Sektor pertanian merupakan sektor paling menjanjikan tetapi kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) masih belum double digit atau mencapai sekitar 6%-7% setiap tahunnya, padahal penciptaan lapangan kerjanya cukup besar.

Agar kontribusi sektor pertanian lebih tinggi maka perlu ditingkatkan investasinya dan teknologinya.

Investasi di sektor pertanian bisa ditingkatkan melalui kebijakan mulai dari kebijakan perbankan, perizinan dan tentunya kebijakan untuk mendukung research and development. Di samping itu, pemanfaatan teknologi pertanian yang tepat akan memberikan efisiensi waktu dan mendorong peningkatan produktivitas.

Sejak empat tahun lalu, Kementerian Pertanian telah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berbagai alat dan mesin pertanian seperti autonomoustractor drone sebar benih dan sebar pupuk.

Petani juga harus diajarkan mengenai perkembangan teknologi agar tidak gagap teknologi (gaptek) dan bisa membuat sektor pertanian berdaya saing. “Teknologi harus diajarkan kepada petani agar mereka tahu perkembangan teknologi yang sebenarnya,” ujar dia.

Kadin juga melihat hambatan lain dari sektor pertanian, yakni layanan keuangan, meskipun sudah ada model pembiayaan pada komoditas kelapa sawit tetapi komoditas lainnya masih mendapatkan kesulitan sehingga perlu layanan keuangan yang sederhana.

Pengamat Ekonomi Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan kunci utama agar sektor pertanian berdaya saing memang pada investasinya. Pasalnya, investasi akan mendorong tenaga kerja dan tentunya ekspor pertanian, agar investasi di sektor pertanian tumbuh berkembang adalah komitmen kuat antara pemerintah, pengusaha dan petani.

Pemerintah memberikan kebijakan yang menguntungkan, pengusaha yang mempunyai modal dan perencanaan yang matang, dan petani yang menjalankannya di lapangan. Oleh karena itu, kemitraan antara pengusaha, pemerintah dan petani harus kuat dan tidak boleh terpecah pecah dan saling berkomitmen.

“ Investasi adalah kunci sektor pertanian yang paling dibutuhkan dan juga bisa mendorong PDB Indonesia,” katanya. (dho)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA