Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Beras Bulog. Foto  IST

Beras Bulog. Foto IST

Rencana Bulog Buang 20 Ribu Cadangan Beras Dianggap Tidak Pas

Ridho Syukra, Selasa, 3 Desember 2019 | 11:26 WIB

JAKARTA, investor.id – Perum Bulog berencana membuang 20.000 ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang disimpan lebih dari empat bulan, yang harga ekonominya diperkirakan mencapai Rp 160 miliar.

Rencana Bulog itu pun dianggap tidak pas serta menuai pro dan kontra dari sejumlah pihak.

Bahkan Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamudin Daeng menilai, jika rencana Bulog untuk membuang beras sangat keterlaluan.

“Kalau sampai terjadi pembusukan beras sebanyak itu sudah pelanggaran berat, itu bisa dibilang sudah melanggar dan mengecewakan rakyat,” ujar dia di Jakarta, Selasa (3/12).

Dia menambahkan, pimpinan Bulog harus dipanggil dan diminta bertanggungjawab, dan menjelaskan secara detail kenapa beras dibuang.

Pakar pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas mengatakan, rencana Bulog membuang beras menggambarkan tata kelola first in first out tidak berjalan dengan baik.

“Memang benar dalam komoditas pertanian pembuangan tidak bisa terhindarkan, karena beras mudah rusak. Dengan stok Bulog 2 juta ton lebih, jumlah 20 ribu ton rusak mungkin saja terjadi. Namun sebenarnya masih bisa ditekan jumlahnya,” ujar dia..

Berbagai langkah perbaikan bisa dilakukan Perum Bulog, terutama di manajemen barang pertama datang yang pertama keluar. Kemudian manajemen pengaturan suhu dan lingkungan gudang, serta pengemasan beras.

Ia menambahkan, Bulog memang dituntut professional dalam mengelola beras sebagai bahan pokok dan benar-benar harus menerapkan tata kelola yang baik dan terstruktur.

Rencana pemusnahan beras yang sudah setahun di gudang Bulog pun mendapat reaksi dari Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI).

Ketua Umum APPSI Ferry Juliantono menyampaikan, pihaknya meminta Bulog menghibahkan beras ke APPSI dan pihaknya akan mengolah dan mendistribusikannya karena masih banyak yang butuh daripada dimusnahkan.

Dia juga menyatakan bahwa sistem inventory di Bulog seharusnya bisa memberikan sinyal jika stok beras di gudang ada yang sampai setahun. Bulog sebaiknya sekarang menyimpan gabah kering hiking di gudang yang lebih tahan lama.

Namun berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2018, tentang Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah maka beras tersebut harus dimusnahkan. Tetapi karena beras yang terancam dimusnahkan adalah CBP maka Bulog meminta ganti rugi pemerintah, dalam hal ini Menteri Keuangan.

Berdasarkan peraturan Menteri Pertanian juga, beras ini harusnya dijual di bawah harga eceran tertinggi (HET), atau diolah kembali untuk memperbaiki mutu beras.

Sedangkan menurut Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 88 Tahun 2018, dana untuk pengadaan Cadangan Beras Pemerintah 2019 sebesar Rp 2,5 triliun, dan anggaran tersebut mensyaratkan, Bulog harus menyalurkan beras kepada masyarakat. Sebaliknya, pengadaan CBP oleh Bulog dilakukan menggunakan kredit perbankan terlebih dahulu.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengungkapkan bahwa pihaknya sampai saat ini masih menunggu kepastian soal penggantian anggaran 20 ribu ton stok CBP yang akan disposal stock.

Dia mengatakan, rata-rata harga pembelian stok CBP yang tak lain adalah beras berjenis medium berada di kisaran Rp 8.000 per kilogram (kg). Sehingga jika dikalkulasi nilai beras yang akan disingkirkan lewat disposal stock tersebut setara dengan Rp 160 miliar. (dho)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA