Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sejumlah kapal nelayan. Foto ilustrasi: news.kkp.go.id

Sejumlah kapal nelayan. Foto ilustrasi: news.kkp.go.id

Sedimentasi Tak Halangi Nelayan Menangkap Ikan

Rabu, 9 Juni 2021 | 11:03 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

HALMAHERA TIMUR,investor.id – Cuaca ekstrem yang menyebabkan sendimentasi di wilayah pantai Moronopo, Halmahera Timur, tak menyurutkan para nelayan untuk mencari ikan. Shandy, salah satu nelayan di sana mengatakan, sedimentasi sedimentasi itu tidak menyebar ke laut. 

“Paling sedimentasinya berada di kedalaman 70 sentimeter. Penyebaran pasir merah itu sebatas itu saja dan tidak sampai ke laut. Jadi orang yang berlabuh atau memancing dari radius 400 meter itu masih bisa dapat ikan,” kata Shandy.

Malah, kata Shandy, nelayan masih bisa dapat ikan bahkan mencapai 5 boks ikan teri. “Dapat ikan teri 4 boks sampai 5 boks itu dalam semalam termasuk banyak, karena rata-ratanya hanya 2 boks ikan teri,” tuturnya.

Ia menambahkan, Shandy dan beberapa nelayan yang lain tidak terganggu dengan adanya sedimentasi, karena tangkapan ikan masih relatif banyak. Terkait penjualan, biasanya ikan Shandy kirim ke Ternate dan ada juga pembeli yang datang ke Halmahera Timur. Ragamnya pun cukup banyak, mulai dari ikan teri sampai ikan kembung. 

“Kalau kami mancing di kisaran 15-17 hari kami bisa mendapatkan 30 ton ikan teri. Kami biasanya main ikan teri kering 600 kg, dan perkilonya Rp 43 ribu, kalau ikan teri sedang Rp 50 ribu dan rata-ratanya di atas Rp 30 jutaan perbulan,” kata Shandy.

Nebuchadnezzar Akbar, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Khairun, Ternate, mengatakan proses sedimentasi di Maronopo itu biasanya terjadi di hulu dan kemudian muaranya di hilir di daerah mangrove. 

“Sehingga yang diperlukan sebetulnya adalah penanganan di hilir untuk melakukan penanaman, rehabilitasi, dan introduksi,” katanya. 

Terkait cuaca ekstrem, ia juga merujuk pada data BMKG yang biasanya terjadi hujan atau curah hujan tinggi di bulan Januari hingga April.

“Intensitas hujan itu membawa material alami dari pegunungan kemudian masuk di daerah mangrove, dan salah satu fungsi ekologi mangrove itu salah satu fungsinya menangkap sedimen ke perairan laut dalam, sehingga terjadi perangkap sedimen di daerah mangrove daerah hilir. Dan itu hal yang normal dan yang namanya vegetasi dan ekosistem mangrove secara ekologinya itu pasti mengikat sedimen dari arah darat ke laut,” tuturnya.

Begitu juga sebaliknya, kalau dari laut ke darat itu sebagai bufferzone menahan laju gelombang. “Jadi yang terjadi di daerah mangrove itu dari darat, fungsinya untuk menangkap sedimen dari darat jadi jangan heran mangrove penuh dengan sedimen daerah lumpur dan itu normal berarti fungsi ekologinya berjalan,” lanjutnya.

Nebuchadnezzar menambahkan, dari catatannya, sedimentasi itu masuk kategori normal dan kedalamnya tidak seperti yang disampaikan di berita.

“Kedalaman mangrove yang paling ujung yang saya maksud paling dalam saya ukur paling 30 sentimeter, ke arah laut sedikit itu kedalamannya 70 sentimeter dan itu normal dan dipastikan itu berlumpur,” katanya.

Sehingga dengan kondisi ini, para nelayan masih bisa menangkap ikan, karena aktivitas masih normal. Saat ini belum ada laporan terkait menyusutnya penangkapan ikan di Maronopo.



 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN