Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Edhy Prabowo. Foto: IST

Edhy Prabowo. Foto: IST

Sektor Perikanan Ungkin Ekonomi

Minggu, 22 November 2020 | 13:36 WIB
Tri Listiyarini

JAKARTA, investor.id –Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo meyakini pengembangan sektor kelautan dan perikanan (KP) nasional bisa menjadi daya ungkit ekonomi di masa pandemic Covid-19. Alasannya, potensi produksinya sangat besar, bisa menciptakan efek pengganda (multiplier effect) bagi berkembangnya sektor lain, dan pangsa pasarnya sangat luar biasa, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

“Sektor KP mampu menggerakkan roda perekonomian di masa depan, selain potensinya, sektor KP juga memiliki efek pengganda dan pangsa pasarnya sangat besar,” papar Menteri Edhy, Jumat.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki luas lautan dua pertiga dari luas total wilayahnya, tentu memiliki keunggulan kekayaan sumber daya KP. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, baik dari sisi kuantitas maupun diversitas.

Dengan sentuhan teknologi, saat ini sumber daya KP bisa diperbanyak, tidak sekadar diambil dari laut, rawa, pantai, atau laut lepas. Indonesia sukses memperbanyak ikan kerapu, baramundi, kepiting, kakap putih, kakap merah, dan sebagainya.

Di sisi lain, potensi lahan budidaya perikanan baru termanfaatkan 8%, artinya potensi masih sangat besar.

“Apalagi untuk 1 hektare (ha) tambak udang saja sekarang sudah bisa menghasilkan 40 ton per ha, itu masyarakat, kalau pelaku usaha bisa di atas 100 ton per ha, artinya potensi pengembangan budidaya begitu besar,” papar dia.

Sektor KP juga terkait dengan sektor lain, memiliki efek pengganda. Jika lima tahun lalu, industri KP terhenti karena diperhadapkan pada kebijakan keberlanjutan (sustainability) dan kemakmuran (prosperity) maka saat ini keduanya bisa dijalankan secara berdampingan dan saling terkait.

Keduanya harus dilihat secara bijak, untuk apa bicara sustainability apabila tidak mendapatkan prosperity dan untuk apa mengharapkan prosperity bila mengabaikan sustainability.

Kalau kita bijak, tekun, dan teliti menganalisa, keduanya bisa dijalankan bersama,” kata dia.

Contohnya, dulu pembukaan tambak sulit dilakukan karena dikhawatirkan menghabiskan banyak lahan dan mengganggu mangove, nyatanya saat ini budidaya tambak cukup pada lahan 1.000 meter persegi, dengan intensifikasi lahan seluas itu bisa menghasilkan pendapatan sama dengan lahan tambak yang luasnya mencapai 10 ha.

Potensi pasar sektor KP sangat besar, baik domestic maupun ekspor. Contohnya, saat pertama Covid-19 merebak pelaku usaha udang datang ke KKP agar membeli kembali udang mereka dengan harga pokok saja karena khawatir akan anjloknya permintaan.

Jika biasanya mereka menjual Rp 75 ribu per kilogram (kg) udang berisi 40 ekor mereka hanya minta dibeli Rp 35 ribu per kg, faktanya saat ini pelaku usaha udang menikmati untung Rp 20 ribu per kg.

“Ini artinya, produk KP tidak mengenal Covid-19, restoran dan warung boleh tutup, negara boleh lockdown tapi rakyat butuh makan. Italia adalah negara yang pertama kali menutup diri karena Covid- 19, tapi impor ikan dari Indonesia tidak berhenti,” ungkap dia.

Produk KP juga bisa membantu pemerintah dalam penyelesaian masalah stunting. Apabila ini terealisasi maka penyerapan pasar domestic akan produk KP sangatlah besar.

Selama ini, persoalan stunting seolah-olah hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan, padahal apabila seluruh anak-anak Indonesia bisa mengubah kebiasaan dengan makan ikan maka stunting bisa terselesaikan dengan sendirinya.

“Mengatasi stunting bisa dimulai dari kebiasaan. Produk makanan ringan yang mengandung monosodium glutamat yang biasa dikonsumsi anak-anak bisa secara pelan-pelan diganti dengan produk berbahan dasar ikan,” jelas Edhy.

Di sisi lain, produk KP juga bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup nonkonsumsi, seperti bahan baku kosmetik. Apabila itu terjadi berarti pandemi Covid-19 bukanlah petaka tapi peluang bagi sektor KP untuk berperan serta membangkitkan perekonomian nasional.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN