Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun sawit. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Kebun sawit. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

TFA Dorong Aksi Aksi Kolektif Menuju Forest Positive Future dan Investasi Berkelanjutan Indonesia

Minggu, 2 Mei 2021 | 08:55 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.idTropical Forest Alliance (TFA) mengadakan media gathering guna memperkenalkan aksi kolektif sebagai langkah menuju Forest Positive Future dan Investasi berkelanjutan di Indonesia, Jumat (30/4).

Media gathering ini diadakan untuk memperkenalkan Tropical Forest Alliance (TFA). Adapun tujuan dari media briefing adalah mengangkat narasi yang positif tentang hutan tropis melalui kekuatan aksi kolektif para non-state actor (nsa), selaku mitra TFA, dalam upayanya menghasilkan rantai pasok yang berkelanjutan menuju Forest Positive Future di tingkat lokal, nasional, regional dan global.

TFA adalah sebuah serambi kemitraan netral para pihak, meliputi pemerintah, swasta dan masyarakat sipil yang diprakarsai oleh Consumer Goods Forum (CGF) pada tahun 2015. Beranggotakan kurang lebih 170 partner, TFA merupakan platform global yang diwadahi oleh World Economic Forum (WEF) yang peran strategisnya adalah untuk membangun komunitas bersama untuk mencapai visi pemenuhan rantai pasok yang berkelanjutan.

Peran TFA di Southeast Asia (Asia Tenggara) adalah untuk memperkuat kemitraan strategis antar pihak, utamanya Non-State Actors (NSA) untuk mendorong narasi Forest Positive Future; menjadi katalisator terciptanya kemitraan lewat publikasi berbasis data dan fakta serta; memobilisasi investasi ramah lingkungan di tingkat yurisdiksi sebagai solusi untuk mencapai rantai pasok yang berkelanjutan untuk mencapai pertumbuhan rendah emisi di regional Asia Tenggara     

Di penghujung fase 2 bulan Mei 2021, Sekretariat TFA di Asia Tenggara telah memobilisasi diskusi para pihak untuk sebuah studi yang mengangkat prestasi Indonesia dan Malaysia dalam mengurangi deforestasi yang bersumber dari komoditas, selama satu dekade terakhir;  dan diskusi strategis antar pemangku kepentingan dalam pertemuan rutin para komite dewan pengarah (Regional Committee); serta mengembangkan business cases dan policy brief sebagai publikasi berbasis data untuk memperkuat ekosistem pengungkit investasi di tingkat yurisdiksi.  

“Presiden Republik Indonesia dalam pidatonya pada acara puncak Perubahan iklim tanggal 22 April minggu lalu menyatakan bahwa Indonesia telah berhasil menurunkan laju deforestasi dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selaras dengan pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Menteri LHK bahwa deforestasi di Indonesia pada periode 2019/2020 telah terjadi penurunan sebesar 75,03% dibandingkan periode sebelumnya. Pencapaian yang luar biasa.ujar Rizal Algamar, Direktur TFA Southeast Asia.

Selama hampir 8 bulan, lanjut dia, TFA dan Daemeter melakukan studi untuk mendokumentasikan progress, driver dan future priorities” dalam pencapaian satu dekade penurunan deforestasi yang disebabkan oleh komoditas, di dua negara (Indonesia & Malaysia).

“Studi ini dikaji mendalam melalui proses literature review, analisa kebijakan, dan melibatkan hampir 300 peserta secara keseluruhan yang meliputi 5 kali diskusi diskusi terfokus secara virtual, interview (50 organisasi) dan survey. Kebijakan kunci seperti Moratorium Sawit, Perhutanan Sosial dan Hutan Adat, Penguatan tata kelola di tingkat subnational, dibentuknya Badan Restorasi Gambut (BRG) yang bertanggung jawab untuk merestorasi dan memitigasi aksi kebakaran hutan dan gambut, serta pelibatan aktif Indonesia dalam REDD+ adalah terobosan kebijakan pemerintah yang terbukti berhasil mendorong laju deforestasi dan kebakaran hutan dan lahan yang sangat perlu kita apresiasi,” kata Rizal.

Selaras dengan kebijakan pemerintah tersebut, para non-state actors (NSA) mitra TFA juga bergotong royong mendukung pencapaian pemerintah lewat aksi-aksi nyata yang didokumentasikan dalam business case dan policy brief yang akan TFA publikasikan dalam waktu dekat. 

“Mitra-mitra kami di private sektor sangat serius dalam mendukung pencapaian pemerintah lewat langkah langkah nyata, baik melalui program pilot yang dilakukan secara individual ataupun secara aksi kolektif. Tujuannya adalah untuk memperkuat ekosistem bersama dan sekaligus menciptakan lingkungan pengungkit (enabling environment) untuk pencapaian yang lebih besar. Kami melihat bahwa mereka sudah menyadari bahwa komitmen dan aksi nyata mereka dalam melakukan transformasi akan sangat menentukan keberlanjutan perusahaan dan penerimaan masyarakat. Hal ini terefleksi dengan prinsip perusahaan yang diemban yaitu planet dan people sama pentingnya dengan profit.  Bagi TFA, misi kami adalah merangkum upaya kolektif yang berbasis fakta untuk menginspirasi dan memotivasi perusahaan-perusahaan lain yang masih menunggu atau belum mempunyai rencana untuk turut bergabung dalam aksi kolektif yang merupakan shared responsibility kita semua.” Ujar Milka Camelia, Private Sector Lead.

“Dalam konteks rantai pasok, tiga mitra kami yaitu NESTE-GAR dan SPKS berupaya melakukan pemetaan petani sawit di 3 desa prioritas di Kabupaten Siak. Upaya ini bertujuan untuk melibatkan petani sawit ke dalam rantai pasok serta kedepannya mendukung petani yang teridentifikasi, dengan skema pendanaan, pemberdayaan pengetahuan agronomi dan akses pasar. Hal ini nantinya dapat membantu Pemerintah Siak dalam hal target replanting ataupun perlindungan hutan dan gambut. Upaya ini kami dokumentasikan untuk mendorong munculnya aksi kolektif yang lebih banyak untuk mendukung petani terlibat dalam upaya produksi yang berkesinambungan.” ujar Janne Siregar, Jurisdiction Lead

“Demikian pula halnya dengan masyarakat adat. Kolaborasi antara perusahaan dan Suku Anak Dalam di ekosistem Bukit Tigapuluh di Jambi ditunjukkan melalui upaya perusahaan membantu masyarakat adat menjaga wilayah jelajah dan tempat tinggal mereka. Beberapa pembinaan dilakukan termasuk agar wilayah tersebut tidak diperjualbelikan. Bagi perusahaan penghasil seperti RLU, kawasan tersebut sangat penting sebagai buffer untuk mencegah perambahan, sekaligus menjadi bagian penting dari kesepakatan kerja dengan perusahaan pembeli, Michelin.” ujar Erwin Widodo, Head of Government.

Dengan beragam aksi gotong royong yang telah dilakukan dunia global, terutama negara-negara konsumen, kita harus melihat bahwa pemerintah Indonesia dan para non-state actors telah dangat serius dan progresif dalam menangani deforestasi yang didorong oleh komoditas. Sudah saatnya untuk mulai mengubah persepsi negatif menjadi positif bahwa upaya pengurangan deforestasu sejalan dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan di wilayah yang kaya hutan seperti di Indonesia.

“Kita perlu bergotong royong sebagaimana nilai yang dikandung Bangsa kita, agar pencapaian SDGs dan komitmen Indonesia untuk mencapai target NDC sebesar 29% atau 41% dengan dukungan dunia internasional. Diperlukan aksi yang real dan kolaborasi dari berbagai sektor dan juga antara non-state actors agar penurunan emisi tercapai dan rakyat juga sejahtera, ” kata Rizal Algamar.

Salah satu peran strategis TFA adalah membangun dan menjembatani antara sektor swasta dan publik–dan lembaga swadaya masyarakat agar terjadi kolaborasi serta mendorong aksi kolektif untuk bersama-sama menuju pembangunan Indonesia yang rendah karbon. 



 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN