Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Menteri LHK Alue Dohong

Wakil Menteri LHK Alue Dohong

Wamen LHK: Wisata Alam Penggerak Ekonomi Hijau

Rabu, 7 April 2021 | 12:36 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

Jakarta, investor.id-Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) Alue Dohong menyatakan bahwa pemanfaatan kawasan konservasi untuk pengembangan wisata alam (ekowisata) akan membantu menggerakan ekonomi hijau (green economy) di Indonesia. Salah satu kawasan konservasi yang dimanfaatkan untuk wisata alam adalah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), taman nasional ini sudah dikelola dengan baik dan memberikan manfaat secara ekonomi terutama untuk masyarakat di sekitarnya.

Wamen Alue mengatakan, konservasi alam tidak hanya bisa dimanfaatkan sebagai bentuk forest healing yang bisa membuat jiwa dan raga tenang tetapi jika konservasi alam dimanfaatkan dengan sebaik mungkin maka Indonesia bisa menuju green economy yang bernilai tambah. Potensi alam Indonesia sangat luar biasa dan bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan konservasi alam seperti taman nasional atau TN. Kawasan konservasi alam berupa TN sudah banyak yang mengarah kepada konsep green economy di antaranya TNGGP.

"Dengan kawasan TN yang diarahkan ke green economy maka masyarakat di sekitar tidak perlu melakukan eksploitasi besar-besaran untuk mendapatkan keuntungan. Penerapan green economy bisa membuat ekosistem alam dan komponen di dalamnya mempunyai peran dan fungsi yang luar biasa, TNGGP sudah  berkontribusi mendorong ekonomi di sekitarnya dengan adanya kegiatan pendakian," kata dia saat menghadiri kunjungan jurnalistik ke TNGGP, kemarin.

Pendaki yang datang ke sekitar TNGGP tentu akan memberikan dampak secara ekonomi dan tentunya memberikan nilai tambah. "TNGGP merupakan contoh konservasi alam yang berhasil tidak hanya mendatangkan para pendaki tetapi terdapat juga objek wisata lain seperti Jembatan Gantung Situgunung,” ujar Alue. TNGGP dengan luasan mencapai 24.270,80 hektare (ha) itu mempunyai banyak potensi, TN itu mencakup tiga wilayah, yaitu Cianjur, Sukabumi, dan Bogor, dalam pengembangannya dibagi ke dalam 15 resor. TNGGP juga merupakan hulu dari empat Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu Cimandiri, Citarum, Ciliwung, dan Cisadane.

Dengan curah hujan tahunan yang mencapai 3.000-4.000 milimeter (mm) menjadikan TNGGP sebagai sumber air tawar dengan kapasitas 594 miliar liter per tahun. TNGGP adalah salah satu dari lima TN tertua di Indonesia sehingga TNGGP bisa menjadi ikon nasional dan wisata alam yang menjadi kebanggan Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Wamen Alue mengatakan, Kementerian LHK juga akan meningkatkan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ke masyarakat sebagai bentuk/langkah pencegahan karhutla. Sosialisasi terhadap masyarakat dilakukan dengan berbagai tindakan antara lain patroli keliling oleh Manggala Agni, TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan anggota Masyarakat Peduli Api. Selain itu dilakukan teknik modifikasi cuaca (TMC) untuk daerah  yang mempunyai potensi titik api dan pembasahan lahan gambut untuk memastikan tetap basah.

Tindakan pencegahan tersebut dilakukan berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir dengan terjadi penurunan signifikan luasan yang terbakar pada tahun 2020. Berdasarkan data Kementerian LHK, luasan karhutla pada 2020 sebesar 296.942 ha jika dibandingkan dengan 2019 yang mencapai 1.649.258 ha.

Wamen LHK Alue Dohong juga mengatakan, pihaknya sudah memprediksi bahwa beberapa wilayah di Indonesia akan mengalami cuaca ekstrem siklon Seroja. Prediksi tersebut bahkan sudah diketahui sebelum bencana banjir bandang di NTT dan sebagian wilayah NTB. "Kami sudah prediksi dari awal tetapi tidak secara detail dan terus diantisipasi,” ujar dia. Selain itu, curah hujan tinggi menjadi pemicu terjadinya musibah banjir bandang di NTT dan NTB.

 

Editor : Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN