Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mangrove. Foto ilustrasi: lestari-indonesia.org

Mangrove. Foto ilustrasi: lestari-indonesia.org

YKAN Serukan Aktivitas Bisnis Dukung Pelestarian Alam untuk Kurangi Dampak Bencana

Minggu, 2 Mei 2021 | 09:08 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Dr. herlina Hartanto, Executive Director Yayasan Konversi Alam Nusantara (YKAN), mengajak para pelaku bisnis untuk peduli terhadap kelestarian alam dalam menjalankan bisnisnya. 

Herlina mencemaskan beberapa kerusakan alam yang disebabkan beberapa aktivitas bisnis yang ada di sekitarnya. Hilangnya mangrove misalnya. Ini bisa menjadi masalah yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Padahal, hutan mangrove berfungsi sebagai sistem pertahanan atau pembatas fisik alami yang melindungi daratan dan penduduk pesisir dari berbagai bahaya dari laut, seperti gelombang pasang, badai, angin topan, bahkan tsunami. Sistem akarnya mengikat tanah menjadi satu dan mengubah aliran air, mencegah pembuangan sedimen dari garis pantai.

“Mereka juga membantu mengurangi dampak badai, gelombang besar, dan angin kencang, dengan mengurangi energi gelombang saat melewati hutan bakau. Dengan menjaga atau memperbaiki keberadaan dan kondisi mangrove atau ekosistem alam lainnya, kita dapat mencegah atau setidaknya mengurangi dampak bencana alam,” kata Herlina dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (2/5).

Melihat beberapa kejadian yang dapat merusak kelestarian alam dari adanya aktivitas bisnis di sekitarnya, Dr Herlina melalui Yayasan Konvers Alam Nusantara (YKAN), mengajak para pelaku bisnis, terutama yang berbasis alam, seperti konsesi kayu, perkebunan kelapa sawit, hingga perkebunan pulp dan kertas, harus menerapkan sistem pengelolaan bisnis mereka yang berhubungan dengan alam secara berkelanjutan dan jangka panjang. Dengan begitu, mereka bisa turut mengelola sumber daya alam. 

Salah satu peran YKAN untuk membantu para pelaku bisnis berbasis alam ini bisa dilihat di daratan kalimantan. Konsesi penebangan yang terjadi di Kalimantan dilakukan secara berkelanjutan.

Perusahaan harus melakukan praktik penebangan dengan dampak yang rendah terhadap hutan. Dengan begitu, sangat memungkinkan hutan yang ditebang untuk tumbuh kembali. Hal ini pun dapat mempertahankan bisnis mereka selama lebih dari 30 tahun dan sekaligus menguntungkan.

Dampak lainnya dari aktivitas positif tersebut juga terlihat pada habitat orangutan yang ada di dalamnya tetap terjaga dengan baik.

Bahkan untuk bisnis kelapa sawit yang ada di sana, mereka bisa menghindari investasi tambahan akibat pohon kelapa sawit yang rusat. Hal ini karena penerapan pelestarian hutan yang dilakukan, bisa meminimalkan risiko pohon kelapa sawit turut dimakan oleh orangutan.

Melihat usahanya yang tidak kenal lelah dalam mendorong dan mengajak para pelaku bisnis untuk peduli terhadap kelestarian alam, YKAN pun menyambut undangan dari Temasek Foundation dalam forum diskusi Temasek Shophouse Conversations (TSC) yang diselenggarakan pada 9 April 2021.

Forum diskusi ini dianggap menjadi ajang yang tepat untuk mengajak para pemimpin di sektor publik, swasta, dan komunitas, agar turut peduli terhadap tantangan sosial dan lingkungan hidup. Forum diskusi yang dilakukan secara virtual ini pun dihadiri oleh kurang lebih 1.000 peserta. 

Acara yang bertajuk “Climate Action” dan bertema “Leadership in a Sustainability Journey” ini menampilkan sesi-sesi utama dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, Siti Nurbaya Bakar dan Menteri Pembangunan Nasional Singapura, Desmond Lee.

“Kami senang jadi bagian dari Temasek Shophouse Conversations, platform yang sangat bagus untuk melakukan diskusi penting dan mendapatkan inspirasi untuk melakukan aksi. Dengan semakin besarnya kesadaran dan keterlibatan sektor publik dan swasta, kami yakin bisa mencapai target restorasi 500.000 hektar ekosistem bakau pada 2025 dan mengelolanya secara berkelanjutan. Ini akan membantu mata pencaharian masyarakat pesisir dan menjaga keanekaragaman hayati Indonesia,” ujar Herlina . 

TSC sendiri dianggap YKAN menjadi platform yang baik untuk menonjolkan pekerjaan YKAN dalam menjalin kemitraan publik-swasta-masyarakat dan untuk menginspirasi orang lain untuk bertindak, dan ikut serta dalam melindungi alam.

Oleh sebab itu, memanfaatkan forum diskusi ini, YKAN pun mengajak para pelaku sektor publik dan swasta untuk bersatu dalam sebuah aliansi yang disebut  Aliansi Restorasi Ekosistem Bakau/ Mangrove Ecosystem Restoration Alliance, (MERA).

MERA adalah platform dengan berbagai pemangku kepentingan yang berfokus pada pengembangan model dan pengetahuan untuk melindungi dan memulihkan hutan bakau dalam mengurangi kerentanan masyarakat pesisir, melindungi keanekaragaman hayati, serta berkontribusi pada mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Perlindungan Hutan Bakau

YKAN juga turut mendukung perlindungan dan pengelolaan hutan tropis dataran tinggi yang berkelanjutan. Hal ini karena hutan tropis juga menyimpan karbon dalam jumlah besar sehingga harus dihindari dari deforestasi dan degradasi.

YKAN selalu mempromosikan praktik pengelolaan berkelanjutan untuk menjaga agar hutan yang dialokasikan untuk produksi kayu tetap ada sebagai hutan yang sehat, sehingga tidak hanya menghasilkan kayu namun juga berguna sebagai daerah aliran sungai, dan bermanfaat secara sosial, budaya, dan iklim.

YKAN pun mengajak masyarakat untuk berperan dalam perlindungan sumber daya alam melalui pendekatan SIGAP (AkSI Inspiratif WarGA Untuk Perubahan). Ini berguna untuk membantu masyarakat meningkatkan tata guna lahan desa dan proses perencanaan pembangunan, memperkuat keterampilan dan kemampuan mereka dalam mengembangkan mata pencaharian ramah lingkungan, sekaligus melindungi sumber daya alam sekitarnya. 

Melalui SIGAP, penduduk desa dapat meningkatkan kesejahteraan mereka sekaligus berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.

Saat ini, SIGAP telah diterapkan di seluruh desa (99 desa) di Kabupaten Berau (Provinsi Kalimantan Timur) melalui program yang dipimpin pemerintah, serta sekitar 50 desa lain di berbagai wilayah di Indonesia.

Di YKAN, yang merupakan mitra utama The Nature Conservancy di Indonesia, Dr Herlina Hartanto memimpin tim beranggotakan lebih dari 100 orang untuk melestarikan alam.

Berkat pengalaman sebagai peneliti di Center for International Forestry (sebelum bergabung dengan YKAN), Dr Herlina bersama YKAN terus mendukung pengelolaan berkelanjutan hutan hujan tropis dan ekosistem laut di Indonesia, termasuk bekerja sama dengan masyarakat lokal, perusahaan dan pemerintah daerah dan nasional.

 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN