Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Angkat Tas Tenun Sekelas Hermes

Selasa, 17 Februari 2015 | 11:32 WIB

Keindahan tenun dan batik dalam negeri menggugah Novita Dewi untuk mengoleksinya. Setelah itu, dia tergugah untuk mendesain dan menjadikannya tas yang berkualitas dan bernilai tinggi. Kini, karyanya diburu oleh para sosialita, artis, hingga Ibu Negara.

 

Puluhan koleksi tas Novita Dewi menggoda perempuan mana pun untuk memilikinya. Sebagian besar jenisnya adalah hobo dan tote bag. Warnanya beragam, mulai dari hitam, coklat, hingga warna- warna cerah, antara lain pink, biru, kuning, dan oranye.

 

Tapi jangan berpikir, tas-tas karyanya tersebut dari produsen merek dunia (international brand). Tas tersebut asli buatan Indonesia, hasil karya tangan-tangan halus perajin yang dibuat dari paduan kulit dan kain tenun, serta batik berkualitas tinggi.

 

“Saya memang senang sekali mengoleksi tas. Belakangan, saya kok malu sendiri, kenapa gak mengoleksi tas-tas buatan dalam negeri yang diberi sentuhan kain tenun dan batik,” kata pemilik PT Inaco Global Indonesia ini kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (12/2) pekan lalu.

 

Awalnya, Novi mengoleksi tas-tas merek luar negeri semacam Hermes dan Channel. Tak tanggung-tanggung, koleksinya mencapai 40-an buah. “Tapi kalau sekarang, saya justru lebih bangga memakai tas buatan dalam negeri. Koleksi Hermes dan Channel saya jual satu-satu,” ungkap perempuan kelahiran Solo, 11 November 1071 ini.

 

Biar pun berpaling ke tas buatan dalam negeri, Novi tak asal mengoleksinya. Dia memilih tas yang diberi sentuhan tenun dan batik dengan kualitas tinggi. “Tapi, ternyata susah mencarinya. Memang, desainnya bagus-bagus dan membangkitkan rasa cinta kita kepada produk dalam negeri, tetapi sedikit sekali yang berkualitas tinggi,” keluh ketua Kompartemen Pemberdayaan Kewirausahawan Wanita Kadin dan Dewan Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) ini.

 

Disukai Sosialita

Demi mendapatkan tas tenun dan batik berkualitas tinggi, Novi pun bertekad untuk membuat tas sendiri. Dia mencari perajin yang ahli, meskipun gonta-ganti hingga delapan perajin. “Setelah ketemu perajin yang pas, saya kursuskan dia ke Paris supaya lebih ahli lagi,” tuturnya.

 

Singkat kata, Novi pun berhasil membuat tas sendiri sesuai dengan standar internasional, seperti tas-tas branded yang pernah dia koleksi. Ternyata, teman-teman sosialitanya memuji tas buatannya. Hingga, dia mulai memproduksi tas premium agar orang-orang yang memakai tas branded luar negeri berpindah ke tas buatan dalam negeri.

 

“Ini sekaligus menyadarkan mereka bahwa produk Indonesia pantas dan membanggakan untuk dipakai,” ujar Novi, yang memilih Ende untuk merek tas premium produksinya dan Legi untuk merek tas yang kualitasnya di bawah premium.

 

“Ende itu inisial nama saya, tapi juga bisa nama kain tenun dari Nusa Tenggara Timur,” jelas Novita, yang mematok koleksi Ende dengan harga pada kisaran Rp 1,5-8,5 juta dan koleksi Legi di bawah harga Rp 1 juta.

 

Apakah harga tersebut mahal? Kalau dibandingkan dengan tas branded internasional, harga koleksi Ende itu tentu jauh lebih murah. Tapi untuk buatan dalam negeri, tas buatannya tersebut memang terkesan mahal. Novi pun mengungkapkan, itu harga yang pantas mengingat detail dan kerapihan pembuatan tasnya sangat tinggi.

 

“Selain sangat rapi, mulai dari detail dan jahitannya, kain batik atau tenun yang  digunakan  pun harganya memang mahal. Jadi gak mungkin, kalau harganya bisa murah,” ujarnya,

 

yang menggunakan batik Tiga Negeri, batik kopi tutung, batik sasirangan Kalimantan Barat, tenun Bali, tenun Lombok, dan tenun Nusa Tenggara Barat. Novi mengilustrasikan, harga kain tenun songket Bali yang digunakannya per lembar mencapai Rp 2 juta, dan biasanya hanya dapat dibuat untuk dua tas. Kain batik kopi tutung yang mulai langka, harga per lembarnya Rp 10 juta.

 

“Dari cost pembuatannya saja sudah tinggi. Tapi, buat ibu-ibu yang biasa pakai tas mahal, harga Ende murah. Makanya, hal yang biasa, kalau mereka memborong tas saya, baik untuk koleksi sendiri maupun diberikan lagi ke orang lain sebagai gift,” jelas dia, yang tas produksinya diburu para sosialita, artis Olla Ramlan, Marini Zumarnis, hingga Ibu Negara Irina Joko Widodo.

 

Saat ini, kapasitas produksi tasnya mencapai 30-40 buah per bulan. Uniknya, satu desain dibuat tak lebih dari dua tas, sehingga cukup eksklusif. “Itu karena tas dibuat customized, konsumen memilih kain batik atau tenun sendiri. Dan, tak ada kain batik atau tenun yang sama persis lebih dari satu,” jelas Novi, yang juga gemar berburu kain batik dan tenun sejak lima tahun lalu.

 

Berawal dari hobi mengoleksi tas dalam negeri, kini nilai kepuasan Novi lebih dari itu. “Saya bangga melihat teman-teman sosialita kinilebih bangga memakai tas batik dan tenun buatan dalam negeri. Apalagi, kalau mereka pakai, lalu berfoto, dan fotonya dikirim ke saya. Kata mereka, sudah gak zaman lagi pakai tas Hermes,” tandas Novita, bangga. (*)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN