Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
IHSG Berkurang Tipis

IHSG Berkurang Tipis

Antisipasi Capital Inflow

Senin, 1 April 2019 | 08:24 WIB

Setelah mencapai puncak tak ada lagi jalan naik. Laju pertumbuhan ekonomi AS yang dinilai sudah mencapai puncak pada tahun 2018, ke depan akan mengalami penurunan. Kondisi ini akan memengaruhi kebijakan bank sentral AS dalam menetapkan fed fund rate. Suku bunga acuan kemungkinan tidak dinaikkan lagi, bahkan sebaliknya ada indikasi untuk diturunkan.

Apa pun perkembangan ekonomi AS, Indonesia akan terkena dampaknya. Ketika negeri itu menggunakan berbagai instrument untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi, antara lain menaikkan fed fund rate (FFR), ekonomi Indonesia terkena dampak buruk. Dolar kembali pulang kandang. Rupiah melemah. Asing lebih banyak menjual daripada membeli saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pekan lalu, datang kabar dari Negeri Paman Sam. Dua indicator utama ekonomi AS tidak menggembirakan. Pertama, terjadinya inversi atau meningkatnya yield obligasi jangka pendek, bertenor tiga bulan ke level 2,42%. Yield obligasi jangka pendek ini lebih tinggi dibanding yield obligasi janga panjang, bertenor 10 tahun, yakni sekitar 2,41%. Kondisi itu menunjukkan keraguan para investor dalam jangka pendek.

Indikator kedua adalah jatuhnya Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur AS. Pada Maret 2019, PMI Manufaktur berada di level 52,5 atau terendah sejak 2017. Indeks ini memperlihatkan penurunan permintaan. Jika FFR terus dinaikkan, daya beli masyarakat akan tertekan.

Laju per tumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 2,9% merupakan capaian tertinggi. Pada kuartal pertama 2019, laju pertumbuhan ekonomi AS lebih rendah dibanding periode yang sama 2018.

Tahun ini, pertumbuhan ekonomi AS diprediksi sekitar 2,5% atau bahkan lebih rendah dari itu. Untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi, The Federal Reserve (Fed) kemungkinan tidak lagi menaikkan FFR yang sudah di level 2,50%.

Dengan tingkat suku bunga acuan sebesar itu, investasi portofolio di AS, ekuitas maupun surat utang, tidak lagi menarik. Karena return yang diberikan tak lagi sebesar di negara pasar berkembang. Yield yang diberikan surat berharga negara (SBN) bertenor 10 tahun sudah sekitar 7,7%, yield obligasi swasta untuk tenor yang sama sekitar 8,5%.

Di pasar ekuitas, saham akan memberikan return tinggi. Setelah turun tahun 2018, tahun ini indeks harga saham gabungan (IHSG) akan kembali terangkat. Tahun ini, indeks diprediksi menembus level 7.000. Pada penutupan perdagangan saham di BEI, Jumat (29/3), indeks berada di level 6.468.

Salah satu faktor utama pendongkrak IHSG adalah derasnya capital inflow. Selama dua tahun terakhir, dana asing mengalir deras ke AS, mengincar yield yang tinggi. Pada tahun 2017 dan 2018, net selling asing di BEI, masing-masing mencapai Rp 40 triliun dan Rp 50 triliun.

Sedang dalam tiga bulan pertama 2019, terjadi net buying Rp 11 triliun. Meski berpeluang besar, Indonesia tidak sendirian. Banyak negara pasar berkembang, bahkan juga negara maju, yang berusaha menarik investasi asing, termasuk investasi portofolio. Sesama Negara Asean, seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam kini berebut investasi portofolio.

Untuk bisa menarik capital inflow lebih banyak, pertama, Indonesia harus menjaga stabilitas ekonomi makro, terutama kurs rupiah, inflasi, dan suku bunga. Untuk menopang tujuan ini, current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan terus ditekan. Tahun ini, neraca perdagangan tidak boleh lagi defisit, apalagi hingga US$ 8,5 miliar seperti tahun 2018. Selain itu, Bank Indonesia diharapkan tak perlu buru-buru menurunkan suku bunga. Suku bunga acuan di level 6% masih cukup mendukung ekspansi usaha. Penaikan dan penurunan suku bunga acuan yang terlalu cepat bisa mengganggu stabilitas makro ekonomi di tengah situasi ekonomi global yang belum menentu.

Kedua, instrumen investasi perlu diperbanyak dan jumlah pemodal lokal harus terus ditingkatkan. Saat ini, emiten yang tercatat di BEI baru sekitar 626 perusahaan dan obligasi yang diperjualbelikan masih terbatas. Nilai kapitalisasi saham yang baru sebesar Rp 7.391 triliun termasuk masih kecil untuk ukuran investor global. Jumlah investor lokal sekitar 2,1 juta, termasuk satu juta investor reksa dana, masih jauh dari potensi.

Selain foreign direct investment,  Indonesia membutuhkan hot money atau dana jangka pendek untuk investasi portofolio. Meski hot money adalah dana asing yang easy come, easy go, dana jangka pendek itu dibutuhkan untuk menggerakkan pasar saham dan pasar obligasi dalam negeri, selain juga untuk memperkuat posisi cadangan devisa. (*)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN