Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Bagaimana Memulai Investasi?

Boy Hazuki Rizal, Minggu, 3 Maret 2019 | 01:19 WIB

Apa saja yang perlu Anda perhatikan bila mulai berinvestasi? Kenapa harus berinvestasi? Bagaimana cara berinvestasi? Apa saja yang bisa dijadikan instrument untuk investasi? Setiap manusia yang hidup pasti punya kebutuhan dalam hidupnya, mulai dari kebutuhan tempat tinggal, kendaraan, pakaian, yang bersifat tangible (berwujud) sampai yang intangible (tidak berwujud) seperti pendidikan, berlibur dan lainnya.

Kalau Anda hanya berpikiran tentang hari ini makan siang di mana, weekend ini mau pergi ke mana, atau apa yang mesti dilakukan besok, maka Anda belum berpikiran untuk jangka panjang. Jangka panjang dalam investasi contohnya adalah investasi untuk uang pensiun.

Saat ini, banyak pensiunan yang menggantungkan hidupnya hanya dari uang pensiun saja, yang menurut perhitungan saya tidak cukup. Harus ada investasi tambahan untuk menambah kekurangan dari uang pensiun yang diterima tersebut. Karena setiap tahun biaya hidup semakin meningkat.

Ada pensiunan yang baru mulai berinvestasi pada saat baru pensiun, dan dilakukan pada jenis investasi yang sangat berisiko (high risk) karena mengharapkan imbal hasil (return) yang tinggi dalam waktu yang singkat, demi masa pensiun. Padahal pada saat pensiun, justru investasi yang harus dilakukan adalah investasi dengan risiko rendah. Hal itu untuk menurunkan risiko dan stres yang mungkin terjadi.

Dalam hal berinvestasi, investor wajib mengenali apa itu investasi bodong agar tidak tertipu dan terjebak. Ada tiga ciri umum yang bisa dilihat dalam penawaran investasi bodong. Yang pertama, menjanjikan imbal hasil yang tinggi. Kalau rata-rata deposito 7% per tahun saat ini dan imbal hasil reksa dana 15-18% per tahun, tapi ada pihak yang berani menjamin imbal hasil 70% per tahun, maka patut dicurigai. If its too good to be true. Its not true. Terlalu bagus untuk jadi kenyataan.

Kedua, legalitas. Apakah perusahaan investasi tersebut sudah terdaftar resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK)? Kalau belum, jangan dilanjutkan. Untuk mengetahui legal atau tidak, bisa dicek langsung di website resmi OJK. Kalau tidak ada, sebaiknya jangan.

Yang ketiga, menggunakan sistem Multi Level Marketing (MLM). Ada yang menawarkan investasi dengan sistem berjenjang. Apabila sudah mendaftar sebagai anggota, maka harus merekrut sekian orang untuk menjadi downline. Kalau sudah begini, lebih baik dihindari. Bila Anda menemukan investasi dengan ciri-ciri di atas, sebaiknya lapor ke regulator (OJK).

Investasi jangka panjang, umumnya adalah investasi di atas 10 (sepuluh) tahun. Tidak bisa instan, ingin cepat-cepat agar hasil investasinya langsung mendapatkan hasil yang besar. Kunci dari investasi adalah waktu. Semakin panjang waktu yang diberikan, semakin besar hasil yang dapat dicapai. Investasi ini Anda perlukan untuk memberikan Anda dana yang cukup pada saat pension nanti, dengan gaya hidup yang Anda inginkan, atau gaya hidup yang mirip dengan yang Anda lakukan sekarang.

Kalau Anda ingin gaya hidup yang lebih dari sekarang, maka semakin besar uang yang Anda harus investasikan. Untuk memulai investasi, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Anda perlu cek kesehatan keuangan Anda. Caranya dengan membuat laporan keuangan pribadi, membuat arus kas Anda. Apakah pengeluaran Anda sudah lebih kecil daripada gaji yang diterima? Kalau setiap bulan Anda mendapatkan gaji atau pendapatan dari tempat Anda bekerja, maka belanjalah lebih sedikit dari yang Anda terima. Sehingga selisihnya bisa Anda investasikan.

Lakukanlah terus menerus secara rutin setiap bulan, sehingga hasil investasi Anda bisa membiayai gaya hidup Anda. Contohnya, kalau setiap bulan Anda mendapatkan penghasilan Rp 20 juta, maka pengeluaran setiap bulan harus kurang dari itu (misalnya Rp 15 juta), maka selisihnya sebesar Rp 5 juta dapat diinvestasikan.

Yang kedua, tetapkan tujuan keuangan Anda. Apakah tujuan Anda berinvestasi? Untuk pensiunkah? Berapa waktu yang Anda punyai untuk membentuk dana pension tersebut? Pemilihan produk investasi disesuaikan dengan jangka waktu. Semakin panjang jangka waktunya, semakin tinggi risiko produk yang dapat dipilih. Sehingga diharapkan, dapat memberikan imbal hasil yang tinggi pula.

Sebaliknya, semakin pendek jangka waktunya, pilih instrumen yang rendah risikonya. Kalau Anda masih berumur 30 tahun, masih punya waktu 25 tahun sebelum pensiun, maka instrumen investasi seperti saham atau reksa dana saham dapat menjadi pilihan. Sebaliknya, jika Anda sudah berumur 50 tahunan, dan hanya punya waktu kurang dari 5 tahun, maka instrumen seperti obligasi dengan jenis Saving Bond Retail (SBR), Sukuk Tabungan (ST), atau Reksa Dana Pendapatan Tetap dapat menjadi pilihan.

Instrumen lain yang dapat menjadi pilihan adalah emas, deposito, properti, produk turunan atau derivative dari saham dan obligasi seperti Reksa Dana Campuran. Zaman now, peer to peer lending juga dapat menjadi alternatif pilihan investasi. Pelajari terlebih dahulu ketentuannya. Selanjutnya, tinggal klik dari gadget Anda, maka Anda sudah mulai berinvestasi.

Yang ketiga, faktor risiko. Ini terkait kesanggupan Anda menerima risiko yang timbul. Kalau misalnya Anda berinvestasi pada saham, tapi ternyata membuat jantung Anda berdegup kencang melihat harga saham yang naik turun, maka instrument saham bukan pilihan yang tepat. Sebaliknya, semakin konservatif Anda, semakin rendah risiko instrument investasi yang dipilih.  Oleh karena itu, perlu pencocokan antara profil risiko dengan produk investasi yang dipilih. Selamat berinvestasi.

Boy Hazuki Rizal, Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA