Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Bagaimana Menabung Saham?

Selasa, 15 Mei 2018 | 17:45 WIB
Oleh Boy Hazuki Rizal

Sudah cukup lama dan sering kita mendengar tag line “yuk nabung saham”. Bagi pihak bursa maupun otoritas yang berwenang, tag line tersebut selain untuk memasyarakatkan pasar modal Indonesia, juga untuk menambah basis nasabah lokal. Bila selama ini kita sudah mengenal reksa dana berbasis saham, maka menabung saham secara langsung bisa menjadi salah satu alternatif bagi Anda untuk mengakumulasikan saham Anda. Membeli saham artinya membelikan uang Anda untuk suatu kepemilikan di suatu perusahaan. Namun untuk sampai bisa menabung saham, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan.

Menabung saham analoginya sama seperti menabung di bank, Anda perlu untuk buka rekening terlebih dahulu, dan untuk itu Anda bisa buka rekening di perusahaan sekuritas, atau di zaman now, bisa melalui smartphone Anda, tinggal klik di aplikasi, beres.

Setelah membuka rekening di perusahaan sekuritas, dan memasukkan sejumlah dana ke rekening, Anda sudah bisa memilih dan membeli saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tidak seperti halnya orang melakukan trading saham, untuk menabung saham, tidak perlu Anda pantau setiap hari harga saham atau perlu paham mengenai analisa teknikal, karena menabung saham lebih bagaimana menilai fundamental dari saham tersebut. Menilai fundamental adalah menilai bagus tidaknya perusahaan yang terdaftar di bursa efek. Memilih perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa, yang mempunyai potensi pertumbuhan yang bagus dan baik.

Dalam menabung saham, hal pertama yang perlu Anda perhatikan adalah time horizon. Menabung saham itu tujuannya jangka panjang, paling tidak 5 (lima) tahun. Karena bila kurang dari 5 tahun, menunjukkan variasi kenaikan dan penurunan yang cukup tinggi, dan juga menghindari peluang kerugian. Kalau jangka waktu menabung kurang dari 5 tahun, maka pilihannya bukan saham, dalam hal ini bisa obligasi atau deposito.


Anda sadar bahwa menabung biasa di bank itu bunganya sudah kalah dari inflasi. Tidak mungkin Anda mendapatkan untung jika imbal hasil investasi Anda di bawah angka inflasi. Untuk jangka panjang, kenaikan harga saham pilihan akan jauh lebih besar daripada inflasi. Kenaikan harga saham inilah yang menjadi faktor pengali dari saham yang menjadi pilihan tabungan Anda. Semakin besar kenaikan harga saham, semakin besar faktor pengalinya.

Yang kedua, perlu konsistensi dalam menabung saham ini. Artinya, apapun kondisi bursa, apakah itu bearish atau bullish, Anda tetap secara konsisten menabung. Misalnya secara nominal setiap bulan Anda berencana untuk menabung Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah), misalkan kondisi bursa bulan ini bearish, harga saham A sebesar Rp 600 per lembar, Anda beli 8 lot (1 lot = 100 lembar). Bila bulan depan bursa bullish, dan harga saham A naik menjadi Rp 700 per lembar, maka Anda tetap beli dengan nominal yang sama, meskipun hanya dapat 7 lot saham. Secara rata-rata harga saham A yang Anda beli kurang lebih Rp 650 per lembar. Dan seterusnya selama jangka waktu 60 bulan tersebut.


Laporan Keuangan Sebagai Dasar Analisa


Yang ketiga, untuk bisa memilih saham-saham mana yang jadi tabungan Anda, tidak perlu Anda melakukan analisa yang rumit, seperti mengetahui rasio-rasio keuangan, tapi Anda bisa melihat laporan keuangan dari emiten tersebut. Laporan keuangan berisi neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas. Zaman now, informasi laporan keuangan ini bisa Anda lihat secara online lewat portal resmi bursa, web emiten atau portal keuangan lainnya. Ringkasnya, dari laporan keuangan tersebut, ada 3 item yang perlu Anda lihat, yakni pendapatan, utang, dan laba.



Jika kita lihat satu per satu, poin pertama adalah pendapatan, apakah pendapatan dari emiten atau perusahaan yang kita pilih tersebut positif dan naik terus setiap tahun ataukah menurun? Untuk pos pendapatan, Anda bisa melihat dari laporan laba rugi tahunan (year on year) atau laporan kuartal (quarter on quarter). Berapa kenaikannya? Umumnya dalam ringkasan laporan laba rugi, terdapat persentase naik/turun pendapatan tersebut. Tentu saja kita pilih pendapatan yang persentasenya naik terus dari tahun ke tahun.

Poin kedua adalah utang, apakah dalam neraca perusahaan atau emiten, utangnya lebih besar daripada asetnya? Kalau ya, berarti emiten tersebut tidak layak menjadi pilihan. Atau emiten tersebut mengalami kenaikan utang yang signifikan atau tidak? Informasi ini dapat dilihat dalam ringkasan laporan neraca.

Poin ketiga atau terakhir yang perlu diperhatikan adalah laba. Tentu saja tujuan membuat perusahaan adalah untuk dapat untung, bagaimana perusahaan secara konsisten mencetak laba setiap periode. Kalau perusahaan tidak mampu mencetak laba, maka emiten tersebut tidak layak dipilih. Kemampuan mencetak laba per tahun maupun per kuartal bisa dilihat juga dari ringkasan laporan laba rugi. Namun sebagai catatan perlu juga Anda perhatikan, bahwa kinerja tahun lalu, tidak menjamin kinerja masa yang akan datang.

Dari 3 (tiga) poin di atas, untuk dapat lebih cepat memilih emiten atau perusahaan mana yang sahamnya tercatat di bursa yang akan menjadi tabungan Anda, salah satu caranya adalah lewat indeks acuan seperti LQ45 atau indeks lain yang ada di bursa. Atau jika Anda punya preferensi syariah, tinggal pilih indeks syariah. Pantaulah kinerja keuangan emiten pilihan, pilihlah perusahaan yang mempunyai prospek yang bagus.



Selanjutnya, lakukan secara disiplin dan konsisten, artinya beli secara konsisten pada setiap tanggal tertentu setiap bulan, tanpa melihat kondisi bursa naik atau turun. Pantaulah harga saham dari emiten pilihan, selama fundamental dan kinerjanya baik, tetapkan menabung saham emiten tersebut. Sebagai catatan, yang perlu diperhatikan dari menabung saham ini adalah risiko. Setiap investasi di bursa mengandung risiko, dan risiko ini selalu melekat pada investasi yang Anda pilih. Salah satu caranya untuk mitigasi risiko ini dengan memilih emiten yang mempunyai fundamental dan prospek yang bagus.

Zaman now, memilih dan menabung saham bisa dilakukan secara online melalui apps di smartphone Anda. Selanjutnya tinggal Anda mulai, kalau bukan sekarang, kapan lagi?



Boy Hazuki Rizal, Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN