Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kapal tanker

Kapal tanker

Berlian Tanker Jajaki Diversifikasi Usaha

C01, Selasa, 23 April 2019 | 07:57 WIB

JAKARTA – PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) menjajaki diversifikasi usaha di luar bisnis utama perseroan sebagai emiten logistik pelayaran. Ini merupakan upaya perseroan meningkatkan apresiasi pasar setelah lepas dari sangsi suspensi perdagangan saham yang sempat berlangsung selama tujuh tahun.

Direktur Independen Berlian Laju Tanker Benny Rachmat mengatakan, diversifikasi usaha merupakan langkah perseroan meningkatkan kinerja keuangan, sehingga nantinya perseroan memiliki modal cukup untuk melakukan ekspansi. Namun, saat ini perseroan belum dapat mengungkapkan secara rinci dari rencana tersebut.

“Kita perkuat dari sisi fundamental. Sementara dari sisi nilai saham, kami belum ada rencana yang spesifik seperti reverse stock. Karena di beberapa kasus, reverse stock malah membuat harga saham emiten kembali ke bottom,” jelas Benny, usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Senin (22/4).

Seperti diketahui, pada 25 Maret 2019, perseroan melaporkan hasil penilaian harga efek ke Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga BEI memutuskan untuk mencabut suspense perdagangan efek pada 28 Maret 2019. Saham perseroan pun mulai diperdagangkan kembali pada 29 Maret 2019. Namun, hingga penutupan kemarin, saham BLTA masih berada di posisi Rp 50.

Berlian Laju Tanker dikenai suspensi oleh bursa pada 25 Januari 2012. Suspensi ini didasari oleh permintaan perseroan yang ketika itu mengalami kendala sehingga tidak mampu melakukan pembayaran atas seluruh fasilitas pinjaman bank dan obligasinya. Perusahaan ini pun kemudian diajukan ke pengadilan dengan gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) oleh salah satu kreditornya.

Dalam proses restrukturisasi utang, perseroan melakukan konversi utang menjadi saham baru seri A yakni sebanyak 11,93 miliar saham dengan nilai nominal Rp 62,5 per saham. Konversi utang tersebut sesuai dengan hasil rapat kreditor pada 14 Agustus 2015.

Hingga saat ini, pihak Berlian Laju Tanker mengklaim sekitar 90% kreditor telah mengkonversi utang menjadi saham. Namun, status kolektibilitas perseroan masih di tingkat 5 (default) hingga saat ini.

Menurut Benny, mengacu pada peraturan Bank Indonesia No 14/15 Tahun 2012, seharusnya status perseroan sudah lancer lantaran perseroan rutin membayar pokok pinjaman dan bunga secara tepat waktu

“Kalau menurut persepsi kami, status kolektibilitas seharusnya berada di tingkat 4 atau tiga. Kami rutin berdiskusi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai hal ini. Karena dengan status tersebut kami sulit mendapatkan pinjaman dana,” jelas Benny.

Tahun ini, kata Benny, perseroan berupaya meningkatkan kinerja melalui penambahan armada melalui penyewaan kapal dari pihak ketiga, penyediaan jasa penerimaan kru kapal, dan penyediaan jasa manajemen kapal.

Selain itu, perseroan juga fokus pada optimalisasi delapan kapal milik perseroan yang beroperasi di Indonesia, terutama untuk pengangkutan biodiesel dalam negeri. Tahun ini, kebutuhan pengangkutan biodiesel diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada 2019 menjadi 6 juta kilo liter, seiring dengan implementasi program B20, yang mewajibkan pencampuran biodiesel dalam minyak solar menjadi 20%.

Berlian Laju Tanker juga menambah porsi pendapatan dari fixed income pada tahun ini. Perseroan telah memperoleh kontrak time charter dengan pihak ketiga sebesar US$ 11,1 juta dan sebesar US$ 2,8 juta untuk tahun 2020.  

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN