Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Nirwono Joga, Koordinator Kemitraan Kota Hijau

Bersama Membangun Keluarga Hijau

Nirwono Joga, Senin, 22 April 2019 | 21:53 WIB

Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, tetapi tidak akan cukup untuk memenuhi keserakahan sedikit orang. – Mahatma Gandhi.

Hari Bumi diperingati setiap tanggal 22 April sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan bumi tempat kita tinggal. Tema Hari Bumi tahun ini yakni Protect Our Species. Adalah kewajiban semua orang untuk melindungi bumi tempat kita (menumpang) hidup.

Salah satu upaya turut melestarikan bumi adalah membangun kesadaran hijau yang dimulai dari keluarga. Karena keluarga adalah bagian terkecil dan terpenting dalam kehidupan bermasyarakat dalam merawat bumi.

Orang tua memiliki peran penting untuk menentukan proses pembelajaran dan teladan bagi anak-anak dan anggota keluarga lainnya, termasuk asisten rumah tangga, pengemudi pribadi, hingga penjaga rumah.

Bersama mereka dilibatkan secara sadar berlaku hijau dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan rumah. Orang tua memberi arahan dan pengetahuan mengenai apa, mengapa, dan bagaimana berperilaku hijau. Mereka paham keuntungan yang akan didapat oleh setiap anggota keluarga.

Prinsip pembelajaran hijau adalah memotivasi setiap anggota keluarga, pemahaman tentang perilaku hijau, membangun kebersamaan dan keterlibatan seluruh anggota, menjadikan kebiasaan, dan akhirnya menjadi budaya semua anggota keluarga. Perilaku hijau sehari-hari di rumah dapat dimulai dari hal-hal kecil.

Pertama, langkah menghemat energy listrik. Anak diajari mematikan lampu saat terang/siang hari atau ketika meninggalkan ruangan, mencabut semua kabel elektronik saat tidak digunakan (komputer, mesin cuci, microwave), serta mematikan semua alat elektronik jika sudah selesai dipakai (tidak dalam kondisi stand by) (televisi, komputer jinjing). Jika ada lampu yang mati langsung diganti. Penggunaan pendingin udara (AC) dibatasi, missal dinyalakan saat malam hari mau tidur dan mati otomatis di pagi hari.

Seluruh ruangan memiliki bukaan lebar (lubang ventilasi, jendela, pintu) untuk melancarkan sirkulasi udara tetap segar dan mendapatkan cahaya matahari yang cukup untuk menerangi ruangan pada waktu pagisore hari.

Seluruh ruangan menggunakan bola lampu hemat energi, meski harganya lebih mahal sedikit, namun lampu lebih awet dan hemat (tagihan) listrik.

Kedua, aksi menghemat air. Anak dibiasakan mematikan keran air saat menyikat gigi, membersihkan wajah, atau setelah mencuci tangan. Mandi dalam waktu singkat dan berhemat air. Senantiasa menjaga kebersihan sehingga menghemat air dan deterjen untuk mencuci pakaian, seprai, dan handuk.

Seluruh anggota keluarga turut mengecek jika ada keran atau pipa yang bocor, agar tidak ada air terbuang sia-sia. Mari membiasakan diri menghabiskan air yang kita minum, dan jangan lupa membawa botol minum air isi ulang ketika akan bepergian ke sekolah, kantor, atau rekreasi.

Prinsipnya tidak boleh ada air yang terbuang. Meski halaman rumah sempit tetap upayakan untuk menyediakan tangki air (tambahan) untuk menampung air hujan yang dapat digunakan untuk memasak, mandi, mencuci, membilas kloset, hingga menyiram tanaman. Sediakan sumur resapan di taman atau di bawah garasi luar untuk menampung air cucian atau air buangan kamar mandi untuk disaring dan diresapkan secara alami ke dalam tanah.

Ketiga, bertransportasi hijau. Seluruh anggota keluarga dibiasakan berjalan kaki ke tempat tujuan dekat yaitu dengan jarak tempuh 5-7 menit, bersepeda untuk jarak tempuh 7-10 menit, menggunakan angkutan lingkungan untuk jarak tempuh 10-15 menit, atau naik transportasi massal untuk jarak tempuh lebih dari 20 menit ke atas.

Penggunaan kendaraan pribadi hanya sesekali saja, misal di akhir pecan saat jalan-jalan bersama keluarga atau memenuhi undangan pernikahan saudara, teman, atau kolega. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi berarti turut mengurangi pencemaran udara.

Keempat, kurangi sampah. Untuk mengurangi produksi sampah rumah tangga, semua anggota keluarga diajarkan untuk mengambil makanan secukupnya dan habiskan, jangan ada makanan tersisa. Sisa bahan organic sayuran dan buah-buahan dan makanan beserta dedaunan dapat diolah menjadi pupuk kompos (komposter).

Sampah anorganik seperti kertas, botol kaca, plastik, logam, dan kain dipilih dan dipilah mana yang bisa didaur-ulang, digunakan ulang, atau disumbangkan ke bank sampah atau ke pemulung langganan.

Pisahkan sampah kategori berbahaya, seperti baterai bekas, barang elektronik, aki bekas, untuk dikirim ke tempat penampungan khusus limbah berbahaya agar diproses khusus sehingga tidak meracuni lingkungan. Jika seluruh sampah organik diolah menjadi kompos dan sampah anorganik sudah dipilih dan dipilah, maka pada akhirnya sampah dari rumah tangga harusnya tinggal sedikit yang harus diangkut ke tempat pembuangan sampah.

Kelima, budaya hijau. Seluruh anggota keluarga mulai membiasakan diri untuk selalu membawa tas/kantong kain (bukan plastik) dan menolak penggunaan tas kresek saat berbelanja. Biasakan mengurangi sebisa mungkin penggunaan kantong plastic untuk membungkus, minum air mineral dengan gelas atau botol plastik, atau meniadakan sedotan saat minum.

Hal ini bertujuan agar sampah plastic berkurang secara signifikan. Masih banyak lagi aksi dan langkah hijau yang dapat dilakukan oleh setiap anggota keluarga, sesuai peran masing-masing, di lingkungan masingmasing. Anak-anak dapat melakukan aksi hijau di lingkungan sekolah. Ayah dan ibu bisa memberi tips hijau di lingkungan tempat kerja. Asisten rumah tangga, pengemudi keluarga, dan penjaga rumah dapat membawa perilaku hijau ke keluarga masingmasing.

Begitu seterusnya virus hijau menyebar. Harus disadari bersama, sekecil apa pun perilaku hijau pasti akan memberi kontribusi nyata bagi kelestarian bumi. Jangan berkecil hati, tetap semangat untuk berbagi dan menebar keyakinan untuk berperilaku hijau, di mana pun, kapan pun, dengan siapa pun. Membangun keluarga hijau bukan merupakan pilihan, melainkan sebuah keharusan. Selamat merayakan Hari Bumi.

Nirwono Joga, Koordinator Pusat Studi Perkotaan

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN