Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Best Practice dan Keteladanan

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 3 Maret 2015 | 07:26 WIB

Empat dekade silam, dedengkot Ilmu Keuangan Prof Jensen & Meckling menulis topik fenomenal tentang manajer/agen. Agen, kata Jensen, seringkali bertindak di luar ketentuan, yakni memanfaatkan perusahaan untuk kepentingan dirinya.

 

Kelakuan agen ini dapat terjadi karena ia memiliki kewenangan dan informasi yang lebih dibandingkan pihak lainnya. Apa yang dilakukan oleh manajer tidak menjurus pada praktik terbaik (best practice), karena didasarkan kepentingan manajer terlebih dahulu.

 

Untungnya, Jensen juga memberikan beberapa solusi. Pertama, manajer diminta menjadi pemegang saham baik secara sukarela maupun terpaksa. Alasannya, manajer yang sekaligus menjadi pemilik, bisa membuat kenakalannya akan berkurang, karena hal itu akan merugikan dirinya sendiri sebagai pemilik.

 

Kedua, pinjam tangan melalui kreditor. Kreditor yang memberikan pinjaman (utang), berkepentingan terhadap dana yang ditanamkan, sehingga akan melakukan monitoring terhadap perusahaan/manajer. Konsekuensi dari kreditor ini adalah adanya tambahan beban keuangan, yang dapat menambah pusing manajer.

 

Ketiga, menyita uang tunai yang ada untuk diserahkan kepada pemilik secara teratur dalam bentuk membagi dividen. Adanya uang menganggur ini, menjadi imingiming bagi manajer tidak bertindak yang terbaik, melalui investasi yang boros. Terakhir, keempat, secara standar melalui monitoring dengan menempatkan wakil pemilik sebagai komisaris.

 

Keempat cara tersebut tentu saja memerlukan ongkos. Cara pertama ongkosnya adalah berbagi kepemilikan, cara kedua melibatkan pihak eksternal ke dalam perusahaan, cara tiga, jika terjadi keperluan investasi maka akan memerlukan utang, dan cara keempat jelas ada biaya gaji. Semua biaya itu menjadi keharusan, demi tercapainya praktik terbaik.

 

Terapkan Manajemen Risiko

Studi kasus menarik tentang buyout PT Scott telah ditulis dengan baik oleh Baker & Wruck. Dalam membeli perusahaan baru, Scott mewajibkan pengelola memiliki saham. Jika pengelola tidak memiliki uang, maka pengelola dapat berutang dengan sepengetahuan perusahaan. Dengan langkah ini, maka pengelola menanggung risiko keuangan. Pengelola harus mendapatkan uang lebih banyak, dimana itu hanya dapat diperoleh jika perusahaan mendapatkan keuntungan yang memadai.

 

Dengan demikian pemilik memaksa pengelola untuk melakukan tindakan best practice. Untuk mencapai hal ini, Scott juga mengimbangi dengan perubahan aturan operasional termasuk meningkatkan besaran bonus yang diberikan. Kata kunci yang harus dituliskan di sini adalah keadilan bagi kedua belah pihak, berupa sharing benefit.

 

Perusahaan farmasi Konimex menyatakan konsep pengelolaan karyawannya dengan kata ngewongke, istilah bahasa Jawa yang berarti mengorangkan. Kata ini memiliki makna yang sangat dalam, yakni menghargai lebih dari sekadar karyawan. Ini yang membuat kar yawan punya rasa memiliki yang tinggi.

 

Beberapa waktu lalu kita dihebohkan oleh kasus keterlambatan masif yang terjadi di maskapai Lion Air. Kejadian tersebut telah menimbulkan kekacauan yang berlanjut dengan tindakan pengrusakan oleh sejumlah calon penumpang yang merasa dirugikan. Ini tentu saja sangat merugikan citra Lion Air di mata konsumen. Sangat boleh jadi perusahaan penerbangan ini akan ditinggalkan konsumennya.

 

Saya bukan ahli teknik, jadi tulisan ini hanya gumaman orang awam. Sebuah perusahaan asing (PMA) di Papua, dikabarkan mampu membuat terowongan sepanjang 450 km, tanpa insiden. Sementara itu, sebuah perusahaan di Jawa Timur, terus bermasalah dengan lumpur, dan ini merugikan seluruh stakeholder, tidak terkecuali pemiliknya. Mengapa terjadi perbedaan dalam dua perusahaan tersebut? Jelas, ini menyangkut bagaimana memberlakukan best practice di perusahaan.

 

Perusahaan yang baik pasti memiliki prosedur operasi standar (POS), atau memiliki standar pelayanan minimal. Pada situasi best practice, POS bukan untuk dipenuhi, tetapi untuk dilewati. Pemenuhan POS cenderung menunjukkan keterpaksaan, tetapi melewati POS menunjukkan sebuah achievement. Walau begitu POS tidak berarti harus dibuat lebih sulit atau lebih mudah melainkan perlu dorongan untuk mencapai lebih dari nilai tersebut.

 

Dengan kata lain perlu upaya setiap stakeholder untuk memberikan nilai tambah (value added). Nilai tambah ini nantinya akan dikembalikan pada seluruh stakeholder berupa high quality service, harga premium, dan kebanggaan. Operator telepon dapat menjadi penyebab perusahaan gagal mendapatkan pelanggan. Dengan sengaja membuat nada dering selalu sibuk, dapat menjadi simalakama perusahaan.

 

Untuk itu perusahaan harus membuat POS, dan kontrol teratur. Kontrol secara rutin terhadap kualitas pekerjaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk praktik terbaik. Selain itu, praktik terbaik hanya dapat dilakukan jika perusahaan menerapkan manajemen risiko secara ketat. Adanya aturan risiko menjadi standar perilaku setiap komponen yang terlibat.

 

Keteladanan Pemimpin

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, best practice dapat didefinisikan sebagai suatu cara paling efisien dan efektif untuk menyelesaikan suatu tugas, berdasarkan suatu prosedur yang dapat diulangi yang telah terbukti manjur untuk banyak orang dalam jangka waktu yang cukup lama.

 

Di perusahaan, best practice adalah keteladanan. Jika aturan perusahaan mewajibkan karyawan datang jam 8, tapi pimpinan datang jam 10, maka itu kebiasaan itu, cepat atau lambat akan menular. Situasi seperti itu hanya akan membenarkan bahwa peraturan tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. Situasi akan sangat terbalik jika pimpinan memberikan teladan. Hal itu pasti akan menular kepada stakeholder lainnya. Ketiadaan hukuman akan menyalahi best practice. Kita bisa saksikan di negeri ini, dimana ingarbingar kasus hukum banyak terjadi karena ketiadaan pelaksanaan praktik terbaik atau tiada keteladanan dalam bidang hukum.

 

Best practice menjadi sangat efektif apabila dilakukan secara sadar oleh mereka yang ahli dan memang layak menjadi contoh. Para wakil rakyat dapat melakukan best practice jika mereka selalu berempati dan memahami suara hatinurani rakyat. Membicarakan soal kemiskinan tapi sambil pesta makan siang di sebuah restoran mewah sudah pasti tidak menunjukkan best practice.

 

Jargon Aku Cinta Indonesia (ACI) adalah sebuah contoh praktik terbaik hanya jika para pemimpin atau penguasa memakai produk dalam negeri dan ber-selfie mengunjungi wilayah-wilayah negeri ini yang amat luas ini. Semua ini tidak sulit dilakukan, hanya butuh komitmen dan siap untuk menjadi teladan. Kita tahu apa yang harus dilakukan, tapi lebih penting lagi kita melakukan yang diketahui. Mari kita mencapai best practice!

BAGIKAN