Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Bisa Jadi Disinsentif bagi Konsumen Jalan Tol

Rabu, 20 September 2017 | 12:08 WIB

Chief Economist SKHA Institute for Global Competitiveness (SIGC) Eric Sugandi mengatakan, pengenaan biaya top-up  uang elektronik bisa menjadi disentif bagi penggunaan e-money untuk pembayaran tol dan konsumen jalan tol. Masyarakat tidak punya pilihan lain karena tidak lagi bisa pakai cash mulai Oktober.


Kalau utntuk biaya pembelian kartu masih wajar, tapi biaya untuk top-up akan membebani konsumen dan mestinya tidak perlu,” kata Eric kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.


Dia menjelaskan, bank-bank berharap bisa memperoleh pendapatan berbasis biaya (fee based income) dari pembelian kartu dan isi ulang uang eletronik. Tetapi kalau penetapan biaya ini sepihak oleh bank, konsumenlah yang terbebani,” ucap dia.


Eric menyarankan adanya pembahasan bersama antara perwakilan konsumen, seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), DPR, kalangan perbankan, BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator, sebelum aturan itu dikeluarkan.


Anggota Komisi XI DPR Muhammad Sarmuji mengatakan, pengenaan biaya top-up  uang elektronik akan memberatkan masyarakat. Untuk itu, perlu dipikirkan agar masyarakat mendapatkan manfaat jika akhirnya kebijakan itu diterapkan.


Kompensasinya harus jelas, agar masyarakat tidak merasa terbebani oleh kebijakan ini, misalnya ada diskon untuk e-toll dan jenis layanan lainnya,” papar dia. (is/tl/az)


Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/pengenaan-biaya-top-up-e-money-tidak-tepat/165506

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN