Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Donor ASI Ada Aturan Mainnya

Senin, 23 Oktober 2017 | 04:33 WIB

Kesadaran ibu di Indonesia memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan mulai meningkat berkat kampanye yang sangat masif dari berbagai pihak. Namun, pada kenyataannya ada beberapa kasus ibu tidak dapat memberikan ASI. Di sinilah donor ASI bisa menjadi solusi. Namun, sebelum menjadi pendonor ataupun penerima donor ASI, ada aturan yang mesti diketahui kedua pihak.

 

Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Elizabeth Yohmi SpA IBCLC menjelaskan, donor ASI memang dibutuhkan. Tetapi fakta yang berkembang sekarang ini berbeda. Praktek donor ASI di Indonesia sudah berjalan ke arah yang tidak terkendali. Era media sosial membuat komunikasi antara pendonor dan penerima ASI semakin mudah. Sering pencarian donor ASI beredar di grup-grup pesan instan atau media pertemanan sosial.

 

“Ibu-ibu saat ini sudah sangat sadar untuk memberikan ASI kepada bayinya. Namun sayangnya, dengan mudahnya mendapatkan tawaran donor ASI, mereka jadi tidak mau berusaha memeras atau menyusui sendiri,” ungkap dr Yohmi, di Jakarta, belum lama ini.

 

Menurut Yohmi, ASI terbaik adalah ASI dari ibu ke anaknya sendiri karena tubuh ibu memproduksi ASI dengan komposisi menyesuaikan kondisi bayinya, apakah lahir matur atau prematur. Indikasi donor ASI di antaranya jika bayi lahir premature dan ibu belum siap memproduksi ASI, kemudian bayi yang memiliki sindroma kelainan penyerapan usus, yang tidak dapat diberikan susu formula, bayi dengan alergi protein susu sapi yang berat.

 

Donor ASI memiliki keuntungan dan kerugian. Sebagai alternative makanan bayi, ASI donor memang terbaik, karena paling bisa ditolerir. Tetapi ada kerugiannya juga.

 

“Meskipun ASI itu adalah susu, tetapi ia sebenarnya adalah produk darah yang dapat mentransfer berbagai penyakit. Kasus yang paling sering ditemui adalah penularan virus CMV, hepatitis B dan C, dan HTLV (virus pemicu leukemia dan limfoma),” jelas dr Yohmi.

 

Dr Yohmi melanjutkan, Badan Pencegahan dan Penularan Penyakit Amerika Serikat (CDC) tidak merekomendasikan ASI donor tanpa didahului skrining. Skrining atau penapisan tidak hanya dilakukan pada ASI saja tetapi ibu yang memproduksi ASI.

 

Skrining dapat berupa pemeriksaan secara lisan (wawancara) atau tertulis dan dilanjutkan skrining laboratorium yang akan berdampak pada kualitas ASI. Pemeriksaan laboratorium untuk skrining hepatitis dan HIV sudah dapat dilakukan di sini dengan mudah, sayangnya untuk pemeriksaan HTLV belum ada di Indonesia. Jika hasil skrining ibu terbukti sehat, ia pun belum layak menjadi donor.

 

“ASI donor harus diperas dan disimpan dengan cara yang benar bahkan di-pasteurisasi. Pedoman WHO menyatakan sebelum dikasih ke resipien ASI harus dikultur dulu,” papar dia

 

Hasil penelitian 2010 terhadap 1.091 donor ASI ditemukan sekitar 3,3% hasil skrining serologi menemukan kandungan virus sifilis, hepatitis B, hepatitis C, HTLV dan HIV. Penelitian lain menunjukkan hasil skrining pada 810 ASI yang belum dipasteurisasi, ditemukan pertumbuhan berbagai bakteri.

 

“Jadi tidak semudah itu memberikan donor ASI. Belum lagi bicara penyimpanan dan idealnya pengiriman harus diperlakukan seperti darah. Yaitu disimpan dalam kotak pendingin khusus dan petugas pengelolaannya menggunakan alat pelindung diri,” tambah dr Yohmi.

 

Dr Yohmi menjelaskan, saat ini hanya RSCM yang memiliki bank penyimpanan ASI cukup baik. Berbeda di luar negeri di mana Bank ASI sudah sangat terstruktur. Bank ASI tidak hanya memastikan keamanan ASI tetapi menjamin kandungan zat gizi dalam ASI tetap terjaga.

 

Penularan HIV melalui ASI Untuk itu, ia sangat menyarankan pentingnya skrining pada ibu pendonor, terutama berkaitan dengan penulatan HIV. Data terbaru HIV di Indonesia menunjukkan tren kenaikan, dan kasus HIV tertinggi ketiga adalah pada kelompok ibu rumah tangga.

 

Umumnya ibu rumah tangga ini tertular dari suami dan belum tentu ia menyadari terinfeksi HIV. “Bisa dibayangkan jika mereka menjadi pendonor ASI tentu akan menularkan pada bayi-bayi lain. Kasus HIV prenatal juga cukup tinggi, yaitu 2,8% transmisi yang mendapatkan virus dari transmisi ibu ke anak,” tutup dia. (*)

BAGIKAN