Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Gatot M Suwondo: Kami Fokus ke Industri Dalam Negeri

Senin, 11 Juli 2011 | 11:47 WIB
Antara

Memasuki usia 65 tahun pada 5 Juli 2011, manajemen PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) terus melakukan pemantapan bisnis. Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Gatot Mudiantoro Suwondo, dalam tiga tahun terakhir, bank beraset terbesar keempat di Tanah Air tersebut telah melakukan penguatan fundamental keuangan dan market positioning-nya untuk lebih focus kepada memfasilitasi pemberian kredit ke industri dalam negeri yang memiliki prospek bagus.

“Kami sudah mempelajari sektor-sektor industri yang akan menjadi unggulan Indonesia dalam lima tahun mendatang, baik secara nation wide maupun prospek per wilayah. “By designed BNI adalah corporate banking namun by infrastruktur BNI adalah retail banking dan kami ingin mengkapitalisasi infratruktur yang kami miliki,” ujar Gatot dalam wawancara dengan Investor Daily usai Seminar 10th Anniversary Investor Daily, “Investor Daily Forum: “Tren E-Money Pertajam Persaingan Operator vs Bank” di Grand Ballroom Kempinski, Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (23/6).

Dalam wawancara tersebut, Gatot memaparkan secara rinci industri-industri yang akan menjadi fokus pembiayaan BNI ke depan. Ia juga mengemukakan prospek e-money dan seputar persaingan antara operator telekomunikasi dan bank dalam menggarap pasar produk keuangan yang sedang ngetren tersebut. Untuk mengetahui lebih lengkap hasil wawancara tersebut, berikut petikannya.

BNI merayakan hari ulang tahun (HUT)-nya yang ke-65 pada 5 Juli 2011. Bisa diceritakan sekilas kelahiran BNI?
Pendirian BNI diawali dengan dikeluarkannya Surat Kuasa dari Pemerintah Republik Indonesia, yang ditandatangani oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 16 September 1945, kepada Bapak RM Margono Djojohadikoesoemo, untuk membuat dan mengerjakan persiapan pembentukan Bank Negara Indonesia.

Dalam perkembangannya pada masa setelah kemerdekaan Indonesia, terjadi perpindahan ibu kota ke Yogyakarta. Dengan demikian, secara resmi BNI beroperasi pertama kali di Yogyakarta pada tanggal 5 Juli 1946, kemudian pada tanggal 30 Oktober 1946, BNIlah yang pertama mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI) untuk transaksi di Indonesia.

Sekitar 10 tahun pertama beroperasi, BNI menjalankan fungsi bank sentral. Kemudian ditahun 1955, setelah Konferensi Meja Bundar dan pengambil-alihan De Javasche Bank, yang kemudian dikonversi menjadi bank sentral, BNI beralih fungsi menjadi bank komersial.

Apa misi yang diemban BNI sebagai bank komersial?
Sebagai bank komersial, BNI diminta menjalankan dua misi. Pertama, mendorong dan memfasilitasi pengembangan industri dalam negeri. Kedua, acting as agent of development. Pada tahun 1959, BNI mulai melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai jasa pelayanan perbankan. BNI merupakan bank pertama yang menerapkan sistem mobile banking, pada masa itu untuk edukasi menggunakan mobil VW Combi. Pengembangan cabang terus dilakukan sejalan dengan pemahaman masyarakat tentang jasa perbankan.

Di tahun 1955 kita membuka cabang sampai ke Malaka, yang sekarang dikenal dengan negara Singapura. Jadi Cabang BNI Singapore telah berdiri sebelum negara Singapura merdeka.

Ada tema khusus untuk HUT BNI tahun ini?

Tema HUT BNI tahun ini kami tekankan pada olahraga terkait dengan akan diselenggarakannya SEA Games di Indonesia. Kami mengadakan mini Olympic untuk cabang-cabang olahraga tenis, bulutangkis, dan golf. Salah satu tujuan mendukung olahraga yakni untuk menumbuhkan mental sportivitas dalam menghadapi persaingan.

Bisa dijelaskan target-target bisnis BNI di bawah kepemimpinan Anda?
Saya menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) BNI pada tahun 2008, ini melanjutkan periode sebelumnya sampai dengan 2010. Sekarang saya menduduki jabatan ini untuk periode 2010-2015. Saya melihat dalam 7 tahun terakhir perkembangan makro ekonomi Indonesia terus semakin membaik dan tidak rentan dalam menghadapi gejolak ekonomi dunia, walaupun penompang utama pertumbuhan ini masih mengandalkan sektor konsumsi.

Sedangkan investasi dan belanja pemerintah masih relative kecil. Kedepan untuk dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan perlu ditingkatkan peran industri dalam negeri, baik oleh sektor swasta maupun pemerintah agar dapat membuka lapangan kerja yang lebih besar lagi dan pada akhirnya mengurangi tingkat kemiskinan.

Di awal saya menjabat sebagai Dirut di tahun 2008, saya dihadapkan pada situasi krisis keuangan global. Langkah pertama yang saya ambil adalah memperkuat fundamental keuangan perusahaan agar tahan menghadapi krisis keuangan ini dan kedua mengubah pendekatan bisnis BNI dari product centric ke customer centric alhamdulillah di akhir 2008 fundamental keuangan perusahaan sudah relative kuat, kemudian di tahun 2009 mulai mendesain customer centric operating blue print dengan fokus kepada dua segmen bisnis, yaitu business banking yang akan memfasilitasi perkembangan industri dalam negeri dan segmen consumer and retail banking. Inilah market positioning BNI ke depan.

Bisa dijelaskan lebih detail soal positioning BNI tersebut?
Kami telah mempelajari sektor-sektor industri yang akan menjadi unggulan Indonesia dalam lima tahun mendatang, baik secara nation wide, maupun prospek di masing-masing wilayah kerja BNI. Kami harus mengkapitalisasi infrastruktur yang kami miliki. Kami memiliki kepala ekonom di 10 wilayah kerja BNI yang akan mempelajari dan memberikan masukan tentang potensipotensi yang terdapat di wilayah. Kami juga menyiapkan positioning untuk segmen consumer and retail.

Kalau terkait pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM), kami memandang industrinya dulu yang perlu dilirik, baru kemudian melihat calon debitornya. Oleh karena itu, pendekatan bisnis kami di usaha kecil mengarah kepada one village one product. Bagi suatu daerah (village) yang mempunyai produk unggulan  namun belum bankable, kita Bantu melalui program Kampoeng BNI, yang merupakan salah satu program CSR BNI. Saat ini kami sudah memiliki 7 Kampoeng BNI dan salah satu dari Kampoeng BNI tersebut telah meningkat tidak lagi menggunakan dana CSR, beralih ke komersial.

Apa saja jenis industri yang dianggap menjadi unggulan tersebut?

Kami menetapkan ada delapan sektor industri. Di antaranya, minyak dan gas, telekomunikasi, listrik, konstruksi (terkait dengan infrastruktur dasar), dan agribisnis karena kami lihat prospeknya cukup bagus. Sedangkan untuk industri tekstil, kami akan melihat size-nya, misalnya di Jawa Barat akan kita evaluasi. Sunset Industry tidak ada dalam kamus BNI, yang ada adalah feasisble dan bankable industry.

Dengan arah pembiayaan ini, ada yang berkomentar bahwa BNI membiayai konglomerat, tanggapan kami terhadap komentar ini adalah tidak ada salahnya membiayai konglomerat sepanjang mereka berusaha di Indonesia, memberikan kontribusi pajak yang benar, dan memberikan lapangan kerja bagi ribuan rakyat Indonesia.

BNI tertarik membiayai industri alat berat?
Kami pelajari juga. Alat berat sangat dibutuhkan oleh industri pertambangan dan pembangunan infrastruktur. Berbicara tentang kunci sukses pengembangan industri dalam negeri, menurut hemat kami, adalah perlunya membangun infrastruktur dasar. Infrastruktur dasar itu terkait akses transportasi darat, laut, dan udara. Kalau itu tidak dibangun, bisa menimbulkan biaya tinggi untuk industri.

Kedua, perlu ada ketersediaan listrik sehingga perlu ada dukungan pembangunan pembangkit listrik beserta jaringannya, karena listrik erat kaitannya dengan proses produksi. Ketiga, sektor telekomunikasi juga perlu diperhatikan karena pasarnya berubah cepat. Kalau telekomunikasi terhambat, bisa menimbulkan masalah dalam informasi bisnis. Nah, dalam jangka pendek kami fokus pada sektor-sektor itu.

Jadi perbankan perlu mendukung pembangunan infrastruktur dasar di Tanah Air?
Saya kira demikian. Indonesia ini sangat luas daerahnya dan infrastruktur dasar yang saya sebutkan tadi belum merata, selama ini hanya terfokus di Jawa saja. kalau Indonesia dibagi menjadi dua kawasan, yaitu kawasan Indonesia bagian barat sudah dianggap sebagai kawasan berkembang (developed). Kawasan ini sudah ada track record perbankannya.

Sedangkan kawasan Indonesia bagian timur masih green field, dan belum memiliki banyak track record perbankan. Jadi kita perlu pikirkan bagaimana membiayai proyek-proyek infrastruktur dasar di Indonesia Timur. Kita perlu membangun kerja sama antara swasta dan pemerintah, utamanya pemerintah daerah.

Apakah BNI tertarik untuk membiayai proyek di Indonesia bagian timur yang belum memiliki banyak track record perbankan?
Ya BNI tertarik untuk berpartisipasi dalam membangun kawasan Indonesia bagian timur. Pelaksanaannya kita akan kaitkan dengan implementasi program pemerintah dalam bentuk Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3I). Program ini menurut hemat kami sangat bagus, dalam kaitan upaya membangun ekonomi mikro. Selama ini fundamental makro ekonomi kita sudah baik, namun sebagian orang mengatakan belum menyentuh mikronya, saya rasa MP3I ini adalah salah satu cara untuk menyentuh mikronya

Selain sektor-sektor industri, potensi apalagi yang ingin BNI dukung?
Salah satu program PKBL kita adalah membuka Pojok BNI dan sayembara- sayembara di beberapa Universitas di daerah. Dalam kunjunganan saya ke beberapa universitas, untuk peresmian Pojok BNI, saya melihat bahwa banyak hasil karya adik-adik mahasiswa teknik ini yang sangat baik, namun belum dipasarkan. Hasil karya ini baru maksimal sebatas dipatenkan saja. Mungkin pemikiran mereka baru sampai menciptakan belum ada upaya menjual.

Saya pernah usul kepada salah satu rektor, bagaimana kalau coba membangun Enterprenuer through partnership. Dalam arti membangun kerja sama antar mahasiswa dari bidang yang berbeda. Mahasiswa teknik menciptakan produk, mahasiswa ekonomi menghitung cost of production yang feasible untuk memasarkan produk tersebut. Kalau ini berhasil, berarti kita akan merubah orientasi dari adik-adik mahasiswa ini dari setelah selesai kuliah mencari kerja menjadi setelah kuliah mencari pekerja.

Sewaktu saya menjadi salah satu pembicara dalam seminar kewirausahawan yang diadakan oleh Universitas Andalas di Padang, ada satu mahasiswa yang sibuk mengambil gambar video. Saya tanyakan ke mahasiswa tersebut mengenai karya dia. Setelah saya lihat, saya tawarkan ke mahasiswa tersebut untuk membuat iklan BNI untuk ditayangkan di televise lokal dan kepada pemimpin divisi BNI yang mendampingi saya, saya minta untuk diberikan modal, kalau tidak salah Rp 10 juta. Hal ini maksudnya untuk memotivasi dan membangun industri kreatif. Kreativitas generasi muda Indonesia dari dulu sampai sekarang sangat tinggi, ini dibuktikan dengan kreativitas yang tinggi dari para generasi muda masa lalu sehingga kita bisa merdeka dari penjajahan.

Bagaimana dengan prospek penyaluran kredit BNI tahun ini?
Kami baru melakukan positioning maka penyaluran kredit kami tahun ini akan berada di bawah rata-rata pertumbuhan industri. Kalau rata-rata industri sekitar 20-23%, tahun ini kami sekitar 18-20%. Terkait positioning, kami menyeleksi sektor-sektor kredit. Kalau ada sektor industri yang di luar sektor unggulan, kami tidak akan membiayai. Tantangan positioning terbesar adalah secara internal, yaitu merubah mindset dari being served menjadi to served dan kemudian to sell. Perubahan ini kami lakukan secara bertahap. Alhamdullilah saat ini sudah pada tahap to sell.

Bagaimana perkembangan NPL BNI?
Salah satu upaya memperkuat fundamental keuangan dalam tiga tahun terakhir adalah mengelola kondisi NPL untuk dapat meningkatkan kualitas perkreditan sebagai sumber pendapatan utama BNI. Alhamdulillah NPL BNI sudah dapat terkelola dengan baik, dari 5% pada 2008 menjadi 4% di kuartal 1- 2011. Kami akan terus berupaya agar NPL ini terjaga pada level 2,5 - 3,5% dalam 2-3 tahun mendatang. Tidak akan mungkin NPL perbankan itu 0%.

Tapi, Apakah NPL BNI cukup Stabil?
Kami yakin kondisi NPL ini akan stabil dengan tren menurun menuju level NPL industri perbankan di Indonesia yang berkisar 2,5-3,5%. Kami yakin karena dalam penyaluran kredit untuk masa mendatang kita sudah mulai fokus dan akan tumbuh secara moderat. Ditambahkan lagi kami baru saja memperoleh tambahan modal sebesar Rp 10 trilliun dari hasil rights issue di akhir tahun 2010. Dengan leverage 10 kali berarti kami punya ruang untuk tumbuh sampai dengan Rp 100 triliun. Kami harapkan untuk tumbuh secara moderat jumlah ini akan tersalurkan dalam waktu 2-4 tahun mendatang.

Tapi, persaingan antarbank nasional juga mulai ketat?
Kalau kita melihat dari jumlah bank yang beroperasi di dalam negeri, yang berjumlah 123 bank, kami sependapat bahwa kompetisi akan ketat. Namun kalau kita melihat dari penetrasi perbankan dalam ekonomi yang diukur oleh rasio antara total bank loan dibanding dengan PDB, yang saat ini sebesar 26%, potensi pasar yang belum tergarap oleh industri perbankan Indonesia masih cukup besar.

Ditambah lagi dengan 240 juta penduduk yang belum semuanya menggunakan jasa perbankan. Dibandingkan dengan negaranegara tetangga, seperti Malaysia sudah mencapai 98%, bahkan Singapura sudah 125%, tidak salah kalau mereka melakukan invansi ke Indonesia. Apalagi margin industry perbankan di Indonesia sangat menggiurkan diatas 5%.

Menghadapi persaingan dengan asing ini, kami tidak begitu khawatir karena (1) tahun ini umur BNI 65 tahun, brand name sudah ada dan merupakan kekuatan dari BNI, (2) infrastruktur sudah in place, dengan 1.200 cabang tersebar dari barat sampai ke timur (dari New York sampai ke Merauke) dari utara sampai ke selatan (dari Tokyo sampai Kupang), dan (3) yang paling penting kami paham betul dengan budaya dan sosialpolitik Indonesia.

Bagaimana untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015?
Saya rasa kita tidak perlu khawatir menghadapi MEA 2015. Apa yang harus dikhawatirkan? Negara mana yang mengizinkan asing boleh memiliki saham sampai 99%? Hanya di Indonesia. Sistem izin operasi perbankan di Indonesia itu sudah menganut sistem one licence fit all, jadi sekali diberikan izin operasi bisa beroperasi perbankan penuh.

Sedangkan di negara- negara lain menerapkan multiple licence, artinya izin yang diberikan terbatas, dan kepemilikan asing pun dibatasi. Amerika yang dikatakan negara paling liberal saja membatasi, kalau tidak salah maksimum 5-10%. Kalau tidak salah untuk industri perbankan bukan tahun 2015 tapi diundur ke tahun 2020. Kelihatannya yang khawatir adalah negara-negara tetangga, makanya diundur sampai 2020.

Jadi, pada 2015, selama ini yang dikeluhkan oleh para banker susah membuka cabang di luar negeri, nanti akan semakin mudah?
Ya kalau prinsip perizinan dan kepemilikan kemudian dipersamakan seperti di Indonesia, besar kemungkinan BNI melakukan invansi balik dalam bentuk membuka cabang atau membeli bank lokal setempat.

Ada rencana BNI untuk masuk 10 besar (top ten) bank di Asia?
Sudah pasti ada dong, tapi saat ini kami masih ingin memperkuat pijakan didalam negeri terlebih dahulu baru kemudian melakukan invansi, sambil menunggu diberlakukannya MEA. Kita perlu persiapan agar jangan menjadi big but fragile.

Kalau pertumbuhan kredit BNI saat ini masih di bawah rata-rata industri, apakah untuk mendukung pertumbuhan laba akan dikompensasi pada fee based income?
Pertumbuhan laba dapat diperoleh dari berbagai sumber, utamanya dari pendapatan bunga bersih, kemudian fee based, dan ada satu sumber lain yaitu recovery dari kredit bermasalah. Kita akan berupaya agar dapat me-maintain pendapatan bunga bersih di range 5,5-6% pada tahun ini. Untuk meningkatkan fee based kita lakukan dengan meningkatkan infrastruktur untuk transaksi jasa layanan perbankan. Recovery kita tahun ini diperkirakan akan mencapai Rp 2 triliun. Selanjutnya kami pun akan terus meningkatkan efficiency.

Kalau pertumbuhan kredit BNI saat ini baru sekitar 19%, masih di bawah rata-rata industri, kira-kira kapan bisa tumbuh sama dengan industri?
Kami baru akan tumbuh sama atau melebihi per tumbuhan kredit industri perbankan di Indonesia mulai tahun depan. Beberapa tahun ini pertambahan ATM BNI begitu pesat, kadang dalam jarak begitu dekat sudah ada ATM BNI.

Apa arah dan tujuan dari penambahan ATM ini?
Penambahan ATM dan peningkatan fitur-fitur dari e-banking adalah merupakan upaya kami dalam mengubah pelayanan transaksi jasa perbankan dari branch approach ke electronic channel. Hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operational cost. Berdasarkan survei, biaya bertransaksi di cabang adalah sekitar US$ 1,20, biaya bertransaksi di ATM sekitar US$ 0,60, sedangkan di e-banking US$ 0,20.

Terkait cashless society, bagaimana upaya BNI agar pertarungan operator dan bank ke depan tidak merugikan konsumen?
Manakala masyarakat sudah nyaman menggunakan e-banking untuk bertransaksi, saya rasa itulah awal dimulainya persaingan antara perbankan dan perusahan telekomunikasi. Pada periode inilah akan tercipta cashless society. Orang tidak lagi membawa dompet tetapi cukup membawa handphone. Semua bisa dilakukan melalui handphone dari ber-chating ria sampai bertransaksi. Agar pertarungan ini tidak merugikan konsumen sebaiknya dari sekarang sudah dipikirkan aturan main yang jelas bagi perbankan dan perusahaan telekomunikasi. Berikanlah segala sesuatu kepada ahlinya.

Menurut Anda, kira-kira seperti apa perkembangan e-money ke depan?
Menurut saya ini adalah suatu proses evolusi metode alat pembayaran. Diawali dengan barter, kemudian diganti dengan alat tukar berupa emas dan perak, berlanjut ke uang kertas dan saat ini kita baru sampai di alat bayar plastik, dalam bentuk kartu kredit, kartu debit atau kartu prepaid.

Fase selanjutnya adalah emoney. Di mana masyarakat akan melupakan dompet tapi akan selalu ingat dengan handphone. Telekomunikasi pun berevolusi dari telegram ke telepon kemudian ke handphone. Kontennya pun berevolusi dari hanya pengirim berita, hingga saat ini bisa untuk transaksi. Menurut hemat saya, sebaiknya perbankan dan perusahaan telekomunikasi didorong untuk bersinergi, jangan sampai bersaing. ***

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN