Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Harga Saham

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 30 Agustus 2016 | 06:58 WIB

Teman saya berkata bahwa saham itu zero sum game, setelah dia bermain sekitar 25 tahun; tetapi papanya mendapatkan return 400% untuk waktu 15 tahun. Cara papanya sederhana saja; beliau membeli saham yang dianggap prospektif (bisnisnya) lalu mengoleksi (hold) untuk waktu yang lama. Papanya dapat dikatakan beraliran ‘fundamental’; menabung saham untuk masa depan dan ternyata menguntungkan.

 

Para orangtua itu dapat menjadi patokan bagi mereka yang sibuk; tidak dapat mengamati irama harga saham yang dinamis dan utamanya juga tidak ingin repot serta ‘jantungan’ jika irama harga memainkan musik rock-n-roll alias bergerak cepat.

 

Senin (8/8/16), saya mengikuti presentasi dari Prof Jianxin Wang (University of Technology Sydney) tentang market-microstructure di kampus Universitas Indonesia (UI). Secara konsep, harga saham dapat disebabkan dua hal, yakni harga yang efisien, di mana harga ini menunjukkan kondisi fundamental ekonomi (perusahaan), dan satu lagi sisa (error) yang dapat bersumber dari ketidakseimbangan order jangka pendek; spread dari bidask; liquidity trading atau berbagai perilaku irasional yang secara sederhana dapat disebut sebagai ‘gosip’.

 

Secara sederhana apa yang dimaksudkan oleh Prof Wang itu menunjukkan bahwa harga saham tidak sepenuhnya persoalan fundamental (penelitiannya untuk data IHSG hanya sekitar 68%; sisanya 30%-an dari berbagai sebab yang dapat rasional maupun tidak rasional).

 

Berbagai Contoh

Pada Januari lalu harga saham ADRO hanya berkisar 400-an dan Agustus ini pernah menyentuh 1.200; termasuk pergerakan harga saham dengan irama rock-n-roll. Anda sudah dapat menghitung return-nya dan hampir pasti sulit mendapatkan ‘hasil investasi’ yang lebih besar dari ini. Jika Anda memegang saham ini dan membiarkan saja, maka terbayang sudah pendapatan yang diperoleh tanpa harus ‘bersusah payah’.

 

Lalu, apakah mesti begitu hasil akhirnya? Ternyata tidak juga. Saya memiliki teman lain, yang membeli saham ANTM pada harga 1.000-an dan terus merosot hingga harga 300-an dan dia memegangnya terus (hold). Namun, tiga bulanan ini, seperti ADRO, harga saham ANTM berirama rock-n-roll hingga level 800-an; namun bagi dia, masih belum memberikan keuntungan walau sudah membuat ia tersenyum.

 

Teman yang lain, menangis ketika tahu harga sahamnya turun 50-an% dalam waktu beberapa bulan saja, dan ia sama sekali tidak mengikuti pergerakan harga saham tersebut karena sibuk. Teman ini kemudian melakukan cut-loss dan hingga saat ini harga saham tersebut belum bergerak dari harga semulanya.

 

Teman ini sudah me-recheck kondisi laporan keuangan perusahaan emiten itu; yang menunjukkan masih bagus dan menguntungkan, hanya saja memang pimpinan perusahaan sedang terkait kasus hukum. Kasus hukum ini yang dianggapnya membuat harga saham perusahaan limbung, sekalipun perusahaan tetap berjalan seperti biasa.

 

Tiba-tiba saja Anda bisa jadi miliuner, namun potensi kehilangan uang juga sangat besar! Saham tambang BUMI dan BRMS ada pada kelompok ‘gocapan’ dan beberapa waktu lalu terbangun dari tidur karena irama yang sangat rockn- roll, menerbangkan harga saham BUMI dari 50 menjadi 80-an atau naik 60%-an hanya dalam beberapa hari. Saham BUMI harus di-suspend menyusul kejadian ini. Bagaimana dengan saham BRMS? Saham ini bergerak juga; di kisaran 50-an dengan lot buy jutaan lot, namun tak berapa lama setelah itu (saat ini) terkapar pada harga 50.

 

Jika sebelumnya harga saham BUMI pada level ribuan, maka situasi harga saat ini seperti kemustahilan. Anda dapat menyimpulkannya, dulu terlalu mahal atau sekarang terlalu murah; atau seperti dinyatakan oleh Prof Wang, harganya terbentuk dari fundamental ekonomi atau dari faktor lainnya?

 

Hal yang dinantikan investor ritel adalah penggerak pasar (market maker) yang dapat mengangkat harga saham tersebut. Beberapa market maker tersebut dapat berupa peralihan kepemilikan kunci; masuknya investor besar; perubahan manajemen dan deal bisnis; sehingga secara bisnis menjadi prospektif kembali. Jika hal itu terjadi, maka harga sekarang akan terlalu murah (karena dahulu terlalu mahal) dan dapat menjadi potensi untung besar bagi banyak pihak.

 

Bagi investor kecil, maka potensi-uangnya dapat menjadi uang sebenarnya sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan personal (liquidity). Bagi SRO (Self Regulatory Organization) program “Yuk Nabung Saham” akan menjadi lebih mudah disosialisasikan, dan di mata masyarakat awam, bursa bukan sebagai ‘kolam kuburan’.

 

Harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan, mungkin ada benarnya. Pada kuartal I tahun 2016, emiten berkode ANTM berhasil memperoleh kenaikan laba bersih perusahaan sebesar Rp 5,29 miliar apabila dibandingkan dengan kinerja pada periode sama tahun lalu yang menderita kerugian sebesar Rp 240,21 miliar.

 

Sedangkan Adaro pada periode sama mengalami penurunan pendapatan 17,4% tetapi masih bisa mencatat kenaikan laba bersih yang tipis: 1,05% senilai US$ 59,68 juta. Pada sekitar Mei-Juni, harga saham ANTM lebih tinggi dan mengalami kenaikan, dibandingkan dengan ADRO. Namun pada Juli-Agustus ini, kondisi terbalik, di mana saham ADRO mengalami kenaikan (kumulatif) dan jauh lebih tinggi dari ANTM.

 

Jadi, apakah kenaikan harga saham ADRO ini merefleksikan laporan keuangannya yang lebih baik dibandingkan dengan ANTM, atau faktor lainnya? Di pasar seringkali terdengar issue akan ‘digoreng’; ‘dikerek’ dan Anda tidak wajib memercayainya sekaligus juga tidak berdosa untuk memercayainya. Faktanya, situasi harga saham dapat berubah sesuai/ tidak sesuai dengan yang Anda percayai.

 

Harga saham yang berirama rockn- roll sebenarnya bagus bagi para investor. Harga ini membuat bursa menjadi likuid dan likuiditas diperlukan sebagai oli bagi pasar saham. Bagi pelaku ‘investor’, harga rock n-roll ini dapat membuat jantungan; karena dia harus memerhatikan pergerakan harganya; mendorong keputusan buy-sell dan pada akhirnya mendapatkan gain-loss.

 

Jadi, kenaikan harga saham ADRO yang sekitar tiga kali lipat tadi dapat saja tidak dinikmati, akibat salah timing keluar-masuknya. Dan jangan salah pula, pada saham bearish (harga turun) dapat saja memperoleh keuntungan akibat tepat timing ‘keluar-masuknya’. Keduanya memerlukan energi stress yang besar.

 

Melalui saham juga, investor memiliki alternatif investasi yang setara. Misal, Anda memiliki usaha biskuit dan ingin mengembangkan usaha. Alternatif lainnya adalah menginvestasikan uang Anda pada PT Biskuit Tbk. Perbedaannya adalah cara pertama sepenuhnya ada pada kontrol Anda, sedangkan pada cara kedua, Anda dapat mengamati perkembangan PT Biskuit Tbk. Sebagai pelaku bisnis, tentunya Anda memiliki ‘cukup’ informasi berkenaan dengan bisnis ini sehingga ‘mampu berenang di kolam’.

 

Teman saya; CEO sebuah holding, bercerita, dia enggan membeli sebuah saham yang IPO (initial public offering), lantaran pada saat expose-road-show, payback period yang disampaikan dianggap terlalu lama; berdasarkan pengalamannya di bidang yang sama. Cara ini adalah cara fundamental.

 

Dampak Tax Amnesty

Benar atau tidak, issue tax amnesty dianggap salah satu faktor yang menyebabkan saham ijo royo-royo. Mudah-mudahan ada langkah yang lebih konkret; yakni aliran dana besar mengalir juga pada perusahaan ‘merah’ sehingga berubah menjadi perusahaan ‘hijau’ dan secara fundamental kondisi ekonomi menjadi terangkat sebagaimana harapan rakyat.

 

Berkaca pada klub bola, banyak klub bola biasa saja, lalu disuntik modal, maka menjelma menjadi kekuatan tim baru. Tentu saja pertimbangan ekonomi-bisnis harus menjadi dasar utamanya. Selamat berinvestasi saham.

 

Said Kelana Asnawi, Ketua Program Studi Manajemen, Kwik Kian Gie School of Business

BAGIKAN