Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Hedging, Lindung Nilai

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 5 Mei 2015 | 05:59 WIB

Di akhir tahun 1980-an, ada slogan yang berbunyi: “Yang pasti adalah ketidakpastian”. Ternyata slogan tersebut masih relevan hingga saat ini.


Slogan itu mencerminkan konjungtur, tidak stabil atau sulit diprediksi. Bagi dunia bisnis, konjungtur dapat menjadi risiko, dan sebaiknya dihindarkan, atau diupayakan pada kadar yang bisa ditoleransi, tolerable risk. Upaya untuk menerima risiko pada kadar tertentu ini dikenal sebagai hedging atau lindung nilai.


Pada prinsipnya upaya hedging tidak harus dinyatakan sebagai keuntungan. Hedging paling sederhana dapat ditemukan pada keseharian yakni dalam bentuk pembelian polis asuransi. Upaya perlindungan dari accident membutuhkan biaya premi. Sekalipun tidak terjadi accident, biaya premi tetap harus dikeluarkan. Dengan demikian upaya hedging tidak selalu diartikan untung secara moneter tetapi lebih tepat pada memiliki tingkat tolerable risk.


Hedging sangat penting bagi bisnis untuk mendapatkan kestabilan biaya atau pun pendapatan. Kestabilan ini dapat menghindarkan perusahaan dari perangkap kesulitan keuangan sehingga jangka panjang dalam situasi baik. Hedging dapat dilakukan secara natural maupun dengan bantuan instrumen keuangan. Hedging natural adalah menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran, sehingga tidak terjadi lonjakan keperluan kas.


Beberapa waktu lalu, Kementerian Keuangan mewacanakan hukuman bagi pelaku bisnis yang menerapkan harga produknya dalam valas (dolar). Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meresmikan gedung tertinggi di Indonesia, dan pengelola gedung menyatakan sewa gedung tersebut dalam dolar. Pengelola gedung beralasan bahwa utang/biaya membangun gedung dalam dolar, sehingga wajar jika penerimaannya pun dalam dolar.


Secara khusus Kementerian BUMN sebelumnya telah menerbitkan prosedur operasi standar (POS) berkenaan dengan transaksi valas. Adanya POS ini menjadi acuan untuk menjalankan hedging (manajemen risiko) sekaligus juga menunjukkan pentingnya hedging.


Instrumen Keuangan

Hedging dengan instrumen keuangan dapat dilakukan baik dengan instrumen pasar uang maupun derivatif. Hedging dengan instrumen pasar uang dilakikan dengan menyiapkan/meminjam sejumlah dana terlebih dahulu untuk keperluan pembiayaan/penerimaan yang akan dilakukan. Perusahaan yang memiliki piutang (tagihan) valas di masa akan datang dapat mengijonkan valasnya. Caranya perusahaan meminjam valas sejumlah nilai sekarang dari piutangnya. Dengan demikian perusahaan mendapatkan kepastian dana saat ini.


Sebaliknya, jika perusahaan memiliki utang valas di masa akan datang, itu berarti perusahaan harus menyiapkan valas dimana nilai ke depannya (future value) setara utangnya. Itu berarti utang perusahaan telah memiliki nilai tertentu saat ini. Nilai tertentu (kepastian) inilah yang dikenal sebagai hedging.


Pokok persoalannya adalah bagaimana mencari counterpart yang dapat bekerja sama. Untuk piutang, tentunya counterpart yang bersedia memberikan pinjaman, sedangkan untuk utang, ini justru memerlukan dana valas awal dari perusahaan. Untuk alasan inilah maka natural hedging menjadi alternatif yang tepat. Jika perusahaan tidak mampu melakukan natural hedging maka perusahaan dapat melakukan dua cara berikut, yakni pada saat jatuh tempo menukar mata uangnya menjadi valas; atau berutang valas saat ini, dimana utang ini ditujukan untuk menutupi utang valas yang jatuh tempo.


Apakah hedging tetap dilakukan jika prediksi ke depan situasi menguntungkan?. Bagi eksportir (perusahaan yang memiliki utang valas), situasi yang menguntungkan adalah jika mata uang domestik mengalami penurunan (depresiasi), sebaliknya bagi importir (perusahaan yang memiliki utang), jika mata uang domestik mengalami kenaikan (apresiasi). Di setiap negara terjadi proses keluar-masuk valas, proses produksi serta ekspor-impor, maka secara teoritis, tak dapat dipastikan apakah kurs ke depan memihak hanya pada satu kelompok. Demi berjaga-jaga mengurangi risiko fluktuatif, maka hedging perlu dilakukan, walaupun hanya sebagian saja (partial hedging).


Secara langsung dan tidak langsung, pemerintah dapat memengaruhi kurs sehingga itu akan membantu perusahaan dalam mengelola keuangannya. Upaya pemerintah untuk memperbesar produksi akan berdampak bagi masyarakat melalui dua cara yakni: jumlah barang/ jasa yang dapat dinikmati bertambah, dan potensi penguatan nilai tukar. Dengan cara ini juga, koruptor (menerima valas), secara langsung telah berandil melemahkan kurs, karena menyebabkan tambahan permintaan valas.


Hedging dengan Derivatif

Secara umum hedging menggunakan derivatif, baik dengan opsi (option) ataupun forward/future. Hedging dengan opsi, berarti investor membeli hak beli (opsi call) atau membeli hak jual (opsi put). Jika eksportir memiliki piutang valas (misalkan US$1), maka eksportir membeli opsi put, misal dengan harga ekskusi (harga hak) sebesar Rp 12.700 per dolar AS.


Seandainya pada saat jatuh tempo kurs spot berlaku Rp12.500 per dolar AS, maka eksportir ini dapat memakai hak jualnya dan mendapatkan nilai (payoff) sebesar Rp 200/opsi put (12.700-12500); sebaliknya jika kurs spot jatuh tempo sebesar Rp13.000 dolar AS, maka eksportir tidak memanfaatkan opsi put, karena lebih baik menjual valasnya pada mekanisme pasar (kurs spot). Sebaliknya, jika importir memiliki utang valas (misalkan US$1), maka importir membeli opsi call, misal dengan harga ekskusi (harga hak) sebesar Rp12.700 per dolar AS. Seandainya saat jatuh tempo kurs spot berlaku Rp12.500 per dolar AS maka importir tidak memakai hak belinya, karena lebih baik membeli pada mekanisme pasar.


Sebaliknya, jika kurs spot jatuh tempo sebesar Rp 13.000 per dolar AS, maka importir memanfaatkan opsi call karena akan mendapatkan manfaat sebesar Rp300 per opsi (13.000-12.700). Untuk mendapatkan opsi ini eksportir/importir perlu membayar fee/premi dan bersifat hangus, misalkan saja US$0,01 per opsi. Biaya premi inilah dapat dinyatakan sebagai biaya hedging. Perhatikan di sini, untuk kasus eksportir/importir, besaran kurs minimal/maksimal adalah Rp12.700. Jika terdapat situasi kurs yang menguntungkan, maka kurs kesepakatan Rp12.700 ini tidak berlaku.


Jika eksportir/importir melakukan hedging dengan future/forward maka kesepakatannya berupa kewajiban, bukan hak. Untuk eksportir dapat mengambil posisi short (wajib jual) sedangkan untuk importir posisi long (wajib beli), misalkan saja dengan kesepakatan pada kurs Rp12.700/$. Berapa pun kurs yang terjadi maka kurs kesepakatan yang dipakai sebagai bagian risiko yang dapat diterima. Jika pada saat jatuh tempo situasi kurs ternyata lebih baik, maka situasi ini tidak dapat dinikmati. Namun, untuk kesepakatan ini tidak ada fee/premi dibayarkan Demi kelangsungan dan memudahkan perencanaan bisnis, alangkah baiknya jika prosedur hedging diterapkan, sebagai bagian dari kehati-hatian.

BAGIKAN