Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Impor Gula Sudah Kebanyakan

Minggu, 20 Januari 2019 | 01:47 WIB

Sekjen Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Nur Khabsyin mengatakan, pemerintah sudah seharusnya menyetop impor gula, baik gula mentah, gula rafinasi, maupun gula konsumsi. Impor gula saat ini sudah kebanyakan.

“Harus disetop karena sudah kebanyakan. Impor gula mentah misalnya, itu hanya akan membuat gula local tak akan laku di pasaran. Hal tersebut akan berimbas pada perekonomian petani tebu di berbagai daerah, membuat petani tebu sengsara,” ungkap dia.

Sedangkan peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakakan, upaya untuk menekan impor gula dapat dilakukan apabila produksi dalam negeri sudah mencukupi permintaan dan tersedia pada harga yang terjangkau di pasar. Ini artinya, baik produsen maupun konsumen harus sama-sama untung.

Hanya saja, menurut Assyifa, harga gula yang beredar di pasar domestic dan global (gula kristal putih/GKP) -- berdasarkan data USDA dan BPS -- pada 2009-2018 menunjukkan perbedaan mencolok. Harga gula produk domestik, lanjut dia, hampir tiga kali lebih mahal dari harga dunia.

“Upaya menekan gula impor kalau dilakukan sekarang dalam kondisi seperti ini, tentunya dapat berpotensi mengurangi peredaran gula di pasar, yang akhirnya bisa meningkatkan harga menjadi jauh lebih mahal. Konsumen dan perusahaan UMKM yang menggunakan gula sebagai bahan baku dalam produksinya akan menanggung kerugian,” ujar dia.

Menurut dia, kondisi saat ini yang menunjukkan bahwa harga gula lokal tiga kali lebih mahal dibandingkan harga tingkat dunia, mengindikasikan biaya produksi yang tinggi di produsen lokal. Masalah inilah yang seharusnya diupayakan lebih utama untuk segera diselesaikan.

Saat ini, produktivitas tebu di Indonesia sebanyak 68,29 ton per hektar (ha) pada 2017. Angka itu lebih rendah dibandingkan negara produsen gula lain seperti Brasil (68,94 ton per ha) dan India (70,02 ton per ha) pada periode yang sama.

Selain itu, banyak pabrik gula di Indonesia sudah sangat tua dan perlu revitalisasi mesin produksinya. “Belum lagi mempertimbangkan kualitas tebu yang ditanam yang dipengaruhi oleh faktor geografis dan iklim lokal. Jadi, mempertimbangkan penekanan impor gula bukan merupakan hal yang salah, namun sebaiknya yang patut diutamakan adalah peningkatan daya saing pabrik gula Indonesia dan kebijakan pemerintah yang mendorong modernisasi pabrik gula. Ini menjadi salah satu langkah awal yang perlu diper timbangkan untuk menekan harga gula,” ujar dia. (tl/ant)

Baca selanjutnya di

https://id.beritasatu.com/home/pemerintah-harus-libatkan-kemenkes-dan-bps/184670

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA