Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Indef: Industri Nasional Melambat

Leonard Cahyo Putra dan Triyan Pangastuti, Rabu, 13 Maret 2019 | 11:04 WIB

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho yang dihubungi Investor Daily mengatakan, hal yang luput dari keluhan Presiden Jokowi pada acara Kemendag dan BKPM adalah Presiden tidak berbicara masalah industri nasional. Padahal, pelemahan ekspor terjadi karena industri dalam negeri yang melambat.

“Ketika industri melambat, ini memberikan sinyal ke investor asing. Itu membuat mereka ogah menanamkan modalnya. Pertumbuhan ekspor tidak sejalan dengan pertumbuhan impor, kondisi ini membuat defisit,” ucap dia.

Menurut Andry, pelemahan industri nasional terutama disebabkan dua hal, yaitu insentif fiskal dan nonfiskal. “Apakah keduanya kurang? Tidak, tapi tidak tepat sasaran. Insentif fiskal kita seperti menembak ke segala arah,” ujar dia.

Dia mencontohkan, pembebasan pajak untuk jangka waktu tertentu (tax holiday) terlalu diobral. Padahal perlu dibedakan, minimal dari jenis industrinya, misalnya untuk industry padat karya atau padat modal, juga didasarkan pada teknologinya. “Lalu, untuk nonfiskal, ini masalah birokrasi yang jauh dari kata efisien,” tutur dia.

OSS, kata Andry Satrio, juga belum sepenuhnya terimplementasi dengan baik. “Belum lagi obral pejabat daerah dalam menaikkan upah minimum regional (UMR),” papar dia.

Jika pemerintah menyelesaikan kedua hal tersebut, Andry optimistis masalah yang membelit industry nasional secara perlahan dapat terselesaikan.

Menurut Andry, untuk mengatasi CAD, bisa saja pemerintah memanfaatkan keunggulan pariwisata nasional. Persoalannya, tidak semua daerah bisa dibuat sebagai daerah wisata. (ark/ts/az)

BAGIKAN