Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Informasi Vs Rumor

Selasa, 17 Februari 2015 | 18:41 WIB

Jagat informasi kini sudah menjadi komoditas. Ia menjadi sebuah kekuatan. Dalam dunia bisnis, informasi merupakan bahan baku utama dalam aktivitas investasi.

 

Ibarat air, informasi mengalir dari satu tempat menuju tempat lainnya. Apakah informasi bermanfaat atau tidak, itu sangat tergantung pada individu yang menyampaikan atau orang yang meneruskannya. Informasi yang mengalir deras itu tidak selamanya berguna atau bermanfaat bagi si penerima. Ia harus dipilah dan dipilih menjadi informasi relevan saja.

 

Informasi yang relevan dikatagorikan menjadi tiga yakni informasi publik, informasi privat, serta informasi yang jarang dan tidak beraturan atau yang disebut noise information. Informasi publik merupakan informasi yang sama diterima oleh analis/investor, misal informasi kebijakan pemerintah, laporan keuangan yang telah diaudit, dan lain-lain.

 

Sementara itu, informasi privat diterima oleh sebagian investor, tapi tidak diterima oleh sebagian investor lainnya. Investor privat ini sering dicurigai sebagai insider information atau insider trading walaupun secara umum tidaklah harus demikian. Informasi yang tidak berhubungan sebaiknya sejak awal diabaikan. Fokus terhadap informasi yang teruji kebenaran dan keakurasiannya dapat merupakan satu kunci sukses.

 

Well Informed Investors

Sekalipun investor menerima informasi yang sama, dalam praktiknya tanggapan setiap investor dapat berbeda-beda. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan sikap investor, dan itu merupakan resultan dari berbagai faktor, seperti pengalaman, karakter risiko, pengetahuan, dan juga informasi lainnya yang dimiliki. Perbedaan sikap investor justru menjadi berkah bagi pasar, karena hal itu akan mendorong terjadinya transaksi dan meningkatkan likuiditas. Literatur menyebut hal itu sebagai disagreement in belief atau heterogenous expectation. Lalu, benarkan saham yang aktif itu hasil dari disagreement in belief?

 

Bamber & Cheon (BC) pada ‘seminal research’ memperhatikan reaksi financial analist dari 8180 pengumuman laporan keuangan. Hasilnya seperti yang diharapkan, saham-saham yang memiliki transaksi/volume yang tinggi (aktif) memang memiliki disagreement in belief yang tinggi. Jika demikian, apakah jumlah informasi yang melekat pada saham aktif tersebut lebih banyak? Dengan kata lain, apakah untuk mengaktifkan saham maka perlu ditambah dengan informasi? Jika ya, apakah itu rumor?

 

Rumor harus diperhatikan oleh investor sebagai petunjuk di muka, lalu carilah informasi yang berhubungan saja. Rumor tentunya dikemas dengan sangat halus dan kerja tim. Goreng-menggoreng saham dapat dikatagorikan rumor.  Ternyata, selain dengan bicara, rumor juga dapat dilakukan dengan tindakan dan lebih efektif. Dalam menghadapi gelombang rumor, kata kuncinya, investor tidak panik, meski gelombang informasi begitu deras. Namun, investor tidak panik jika ia memiliki fondasi yang kuat, dan hal itu berarti kembali pada informasi fundamental!. disagreement in belief? Seberapa paham investor terhadap situasi fundamental bisnis sehingga dapat memprediksi lebih akurat?

 

Informasi privat biasanya lebih bersifat personal dan tidak berpotensi rumor. Jika informasi diperoleh dengan curang maka hal ini dapat dikatagorikan sebaga I kecurangan. Tentunya otoritas, dalam hal ini Bursa Efek Indonesia (BEI) harus menjatuhkan hukuman. Akan tetapi jika investor mendapatkannya dengan cara wajar maka hal itu menjadi keuntungan bagi investor tersebut. Investor dengan diam-diam, dapat melakukan transaksi yang menguntungkan atas dasar informasi ini. Bagaimana jika informasi ini disebarkan atau tersebar?

 

Tentunya ini bukan lagi informasi privat melainkan informasi publik. Jika menjadi informasi publik, lalu apa keistimewaan yang diperoleh investor? Anda harus menduga, informasi itu mungkin ini rumor. Pada dasarnya tak seorang pun yang bersedia membagi informasi (keuntungan) kecuali tindakan itu menguntungkan dirinya.

 

Dalam salah satu artikelnya pada harian ini, guru investasi, Hazan Zein Mahmud menulis: “Pasar modal merupakan pasar yang sangat rentan terhadap aksi manipulatif. Karena itu pasar modal di mana pun di dunia ini selalu diatur dengan ketat. Namun pada akhirnya kualitas pasar akan sangat ditentukan oleh kualitas investor. Betapa pun rapinya aturan main di pasar modal, hanya well informed investors yang bisa menghasilkan pasar modal yang efisien.

 

Jagoan-jagoan keuangan sejak lama memperhatikan peran informasi di pasar modal. Teori pasar efisien dari pemenang Nobel Ekonomi, Fama (1970), jelas merujukkan peran informasi yang ditransformasikan menjadi harga. Miller (1977) menyatakan perdagangan terjadi karena adanya sebagian investor yang bersikap optimistis.

 

Investor yang optimistis ini akan menyebabkan harga pasar berubah. Namun demikian, Miller juga menyatakan divergensi opini ini akan menurun seiring dengan perjalanan waktu. Hal ini mungkin merujuk pada kesepahaman tanggapan investor akan berbagai informasi yang ada. Pertanyaannya, kapan waktu itu datang? Dalam konteks transaksi kontinyu, Roll & French menyatakan informasi privat akan bermanfaat direalisasikan pada sesi perdagangan, dan menjadi tidak relevan jika sudah tutup jam kerja.

 

Karena itu informasi penting pada jam sibuk dapat menjadi vitamin bagi investor. Dvorak, pada Journal of Finance menyoroti kelakuan investor asing di Indonesia. Kata dia, investor domestik memiliki informasi superior sedangkan investor asing memiliki kemampuan dan pengalaman. Karena itu, dalam jangka pendek, investor lokal akan mendapatkan kinerja lebih baik, sedang dalam jangka panjang sebaliknya, yakni investor asing.

 

Sisi Baik Rumor

Sekalipun dikonotasikan buruk, rumor sebenarnya juga memiliki sisi baik. Pertama, rumor berfungsi sebagai ‘oli’ bagi pasar. Pasar menjadi lebih aktif dan likuid, bermanfaat bagi banyak stakeholder. Pasar yang likuid akan menjamin keberlangsung dari bisnis pasar modal itu sendiri. Kedua, rumor juga merupakan pengujian terhadap informasi yang sebenarnya. Pertanyaannya, apakah kebisingan (rumor) informasi lebih buruk dibanding kesenyapan (informasi)?

 

Dengan edukasi yang tepat, maka investor akan dipaksa belajar memilah informasi itu dan ini merupakan hal yang baik. Investor dapat membumbui atau dibumbui, tapi itu harus merupakan pilihan yang cukup adil. Harga yang dibentuk dengan berbagai informasi diharapkan dapat menuju pada true price. Ketiga, pada dasarnya di semua bursa, transaksi perdagangan dibagi menjadi dua sesi yakni sesi I dan sesi II. Data menunjukkan transaksi lebih banyak pada sesi I, sementara sesi II cenderung menjadi senyap.

 

Dalam kondisi ini seyogyanya stakeholder bertanggung jawab bersama untuk memanjangkan waktu transaksi, yakni dengan mengaktifkan sesi II. Caranya, adalah dengan memasok informasi sebanyak-banyaknya pada saat makan siang, bukan pada saat makan malam.

 

Kita berharap presiden, jajaran menteri Kabinet Kerja, pimpinan (CEO) perusahaan terbuka (Tbk) dan berbagai pihak lainnya memberikan pengumuman/informasi tidak lagi pada akhir jam kerja, tidak juga pada akhir hari kerja (Jumat). Mumpung masih di awal tahun, mari kita sebarkan informasi positif agar pasar terus menggeliat sepanjang2015.

BAGIKAN