Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Investasi dan Tabungan

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 7 April 2015 | 11:40 WIB

Investasi dan tabungan adalah dua hal yang terpisah, tapi pada kondisi yang lebih makro, kedua hal itu menjadi kesatuan. Seorang yang berinvestasi sesungguhnya dirinya telah menjalankan kegiatan menabung.

 

Karena alasan tersebut maka menabung tidak seharusnya dibatasi dengan tabungan di perbankan melainkan lebih luas lagi. Menabung itu investasi, dan secara tradisional tabungan di perbankan itu investasi. Investa si jenis ini aman dan likuid atau mudah dicairkan.

 

Kekurangannya adalah tingkat bunga sangat rendah. Tabungan dengan saldo di bawah Rp 15 juta, maka pendapatan bunganya akan lebih rendah dari biaya administrasi dan pajak. Akibatnya, setiap bulan akan mengalami penurunan tabungan.

 

Jadi tabungan ini tidak tepat sebagai sarana investasi melainkan hanya sebagai sarana menyimpan uang. Belum lagi jika diperhatikan nilai riil tabungan, yakni dengan membandingkan nilai uang dan tingkat harga/inflasi yang selalu naik, maka akan diperoleh nilai riil tabungan yang negatif.

 

Namun jangan dulu skeptis, karena hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara maju seperti di Jepang. Suku bunga (deposito) di Jepang dengan tenor waktu 1 bulan sampai dengan 1 tahun berkisar 0,07%-0,2%, sedangkan laju inflasi berkisar 2,2%/tahun.

 

Dengan demikian nilai riil tabungan di Jepang berkisar minus 2% per tahun. Untuk hal ini, maka jika uang dibiarkan sebagai dana tabungan, besaran uang akan tergerus.

 

Beragam Bentuk Investasi

Investasi selanjutnya adalah membeli surat berharga. Surat utang (obligasi, bond) menawarkan yield/kupon yang lebih tinggi dibanding tabungan, dan menjamin pengembalian pokok uang. Namun, tidak seperti tabungan, jaminan ini masih bersifat peluang, dalam artian terdapat kemungkinan tidak dapat dikembalikan. Untuk hal ini, kehatihatian investor memilih-memilah diperlukan.

 

Sebagai pemanis, investor bisa mengikat dengan prasyarat yang melindungi dirinya, semisal debitor secara teratur menyediakan dana kas. Prasyarat ini dikenal sebagai protective covenant. Setelah bond, saham merupakan alternatif investasi untuk waktu lebih lama lagi. Saham tidak menjanjikan yield dan pengembalian pokok uang.

 

Karena itu, saham terkatagorilebih berisiko. Tentunya harapan imbalan dari saham lebih tinggi dibandingkan bond. Bagaimana jika imbalan aktualnya lebih rendah? Itulah risikonya. Baik bond dan saham dapat segera diakhiri kepemilikannya dengan menjualnya pada harga pasar. Harga pasar ini secara umum cermin dari fundamental emiten bond/saham tersebut.

 

Jika investor masih memiliki sejumlah dana, maka alternatif investasi selanjutnya adalah derivatif. Derivatif merupakan investasi dengan dasar transaksi suatu aktiva (underlying asset) sebagai dasar perhitungan, namun secara praktik, derivatif adalah berinvestasi dengan marjin atau setoran down payment atau juga dikenal sebagai leverage. Jika besarnya marjin 10%, maka berarti peluang laba adalah 1/marjin atau setara 10x (1000%).

 

Dengan demikian makin kecil marjin maka makin besar potensi laba (juga potensi rugi). Derivatif opsi, berinvestasi dengan membayar premi, dan pembayaran premi ini bersifat hangus (exhausted). Potensi untungnya tentu saja fantastis, setara 1/marjin.

 

Jadi jika pada tabungan, obligasi dan saham, modal investasi masih ada, maka pada derivatif (opsi) tabungan sudah langsung hilang. Hal lain yang perlu dipahami adalah imbal hasil berbanding lurus dengan risiko. Jika ada investasi menjanjikan imbalan sangat tinggi (misal 100-1000%) per tahun, itu artinya investor harus siap menanggung risiko.

 

Sederhananya mengapa orang tersebut tidak memanfaatkan sarana ini? Cara lain untuk mendeteksinya adalah, apakah dunia perbankan ikut membiayai bisnis/investasi ini. Perbankan biasanya sangat menerapkan manajemen risiko dalam hal pemberian kredit.

 

Sebagian orang menabung pada asuransi. Hal ini kurang tepat. Asuransi pada dasarnya dana jaminan untuk kondisi tidak diinginkan. Jadi sifat dari asuransi adalah pengendalian risiko hingga level yang dapat diterima. Investasi di sini bersifat hangus (exhausted) untuk mendapatkan kenyamanan.

 

Jadi imbalan dari kepemilikan asuransi adalah perasaan nyaman, bukan dalam bentuk rupiah. Sekalipun ada asuransi yang mengiming-iming dengan tingkat pengembalian investasi, perlu dipahami bahwa asuransi bukanlah sarana investasi.

 

Dengan kata lain, jika mengharapkan imbal hasil investasi, maka berinvestasi di asuransi mestilah memberikan return lebih rendah, kecuali jika terjadi accident. Dana penyangga (buf fer fund) yang tersedia untuk accident bukanlah imbalan investasi.

 

Bagaimana jika menabung pada aktiva tetap, misal properti? Untuk waktu yang lama, nilai properti biasanya meningkat pesat, namun bersifat illiquid dan biaya pajak dan administrasi cukup tinggi, berkisar 7-8% dari nilai transaksi. Jadi jika Anda membeli properti senilai Rp 1.000, maka biaya keseluruhan berkisar Rp 1.080, dan jika Anda menjualnya berkisar Rp 1.137, maka nilai yang Anda terima Rp 1.080 atau kondisi impas. Perhatikan di sini, untuk kondisi impas diperlukan kenaikan harga berkisar 13,7%.

 

Dana dan Waktu

Investasi manakah yang akan dipilih? Pertama, tergantung ketersediaan dana. Jika dana memadai, maka investor perlu membuat proporsi terlebih dahulu untuk dana tabungan (risk-free rate) dan aktiva berisiko. Karena rendahnya tingkat pengembalian (nilai riilnya tidak beranjak) maka hendaknya dipahami menabung bukanlah investasi.

 

Kedua, kadar risiko investasi harus disesuaikan dengan karakter investor. Pilihan investasi bukan persoalan benar salah, tetapi menyelaraskan antara risiko investasikarakter risiko investor. Investasi yang berisiko, sebaiknya dilakukan oleh risk lover-investor.

 

Untuk investasi US$1 dengan waktu 84 tahun, jika diinvestasikan pada tabungan (risk free rate), itu akan menghasilkan return berkisar 3.7% dan nilai akhirnya menjadi US$ 20,47. Sedangkan jika diinvestasikan pada saham, itu akan menghasilkan return 11,67% dan nilai akhirnya menjadi US$ 2.150 (Bodie, Kane, Marcus: 864). Untuk hal ini, saya teringat perkataan guru investasi bahwa, orang kaya tidaklah memegang uang, tetapi memegang kekayaan.

 

Ketiga, horison waktu yang dipilih. Pilihan investasi apakah akan diekskusi 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun ke depan juga menentukan tipe investasi. Misalnya keperluan dana pendidikan anak 12 tahun ke depan, dapat dipenuhi dengan membeli saham (prospekif), sebagai pengganti dari menabung atau membeli asuransi pendidikan. Tentu saja harus dipahami, membeli saham memiliki konsekuensi (terburuk) emiten mengalami kebangkrutan.

 

Untuk hal ini, mendiversifikasi risiko perlu dilakukan. Caranya, membagi investasi pada berbagai katagori risiko, pada berbagai surat berharga, atau aktiva. Terakhir, jangan dilupakan investasi yang selalu memberikan imbalan (return) positif, yakni berinvestasi di jalan Tuhan. Mari berinvestasi!

BAGIKAN