Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Jauhi Reaksi Berlebih

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 14 Oktober 2014 | 11:44 WIB

Profesor De-Bondt dan Thaler menulis sebuah artikel terkenal di Journal of Finance. Keduanya membahas hipotesis reaksi berlebih (overreact-hypothesis). Reaksi berlebih itu ditunjukkan oleh adanya keterkejutan, lalu lompatan, dalam artian mendapatkan untung besar atau buntung besar. Katanya, yang buntung bisa jadi untung, dan yang untung jadi buntung. Cerita ini mudah dicerna, yakni kalau ingin mendapatkan untung besar di masa depan, maka justru yang dibeli saat ini saham-saham yang mengalami kerugian (looser).

Sebaliknya, saham yang untung saat ini (winner), kelak memiliki kinerja lebih buruk. Benarkah begitu? Tulisan De-Bondt dan Thaler ini sontak menjadi inspirasi ahli keuangan di seantero dunia untuk meneliti pasar modal dengan berbagai variannya, yakni memerhatikan berbagai faktor fundamental. Apakah emiten yang memiliki sejarah pertumbuhan penjualan yang bagus besok akan mendapatkan kinerja saham yang bagus juga? Logikanya harusnya demikian, dan faktanya memang seperti itu.

Over-react juga terjadi pada saat pengumuman pembagian dividen. Jika dividen dikabarkan naik, maka harga saham akan naik dan jika dividen dikabarkan turun, maka harga saham akan turun lebih besar lagi. Dikatakan, kabar baik direspons baik, dan kabar buruk direspons lebih buruk lagi. Untuk hasil yang demikian dikatakan over-react juga, namun dalam pengertian positif.

Jika dikaitkan dengan ukuran kapitalisasi pasar (size) emiten, ditemukan bahwa jika size sama, maka pada kelompok untung (winner) dan kelompok rugi (looser) ditemukan kinerja imbalan yang sama. Dengan demikian, jika berbeda ukuran (size) maka akan berbeda pula kinerjanya.

Itu berarti, yang membuat beda kinerja besok bukan pada kelompok winner atau looser melainkan pada kelompok size apakah besar atau kecil. Begitu kira-kira Zarowin memprotes De-Bondt dan Thaler.

Reaksi Berlebih di BEI
Pada bursa saham Jerman terdapat bukti over-react. Pada bursa saham Malaysia khusus pada saham berbasis syariah, juga mendapatkan bukti kesahihan hipotesis ini. Jauh sebelumnya, Baytas dan Cakici (1999) juga sudah mencoba mengamati pada tujuh (7) bursa dunia, yaitu Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia.

Hasilnya, hanya pada bursa AS tidak terjadi over- react. Sudah sedemikian ampuhkan hipotesis ini? Bagaimana jika di bursa saham kita? Bursa Efek Indonesia (BEI) mempublikasikan 20 saham yang mendapatkan gain tertinggi, kelompok hijau (winner) dan juga 20 saham rugi tertinggi, kelompok merah (looser). Penulis mengikuti kinerja saham dari kelompok ini setelah 1,2,3, dan 4 tahun berikutnya.

Sepanjang waktu tersebut rerata return kelompok hijau lebih tinggi dari kelompok merah. Hasilnya tidaklah seperti temuan Prof De-Bondt dan Thaler. Sekalipun begitu ternyata angka reratanya tidak cukup menjanjikan. Apakah hasil 6.3% selama dua tahun merupakan hasil yang layak? Atau 7.10% selama tiga tahun sudah memuaskan investor?

Untuk hal ini dapat kita bandingkan dengan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebagai acuan investasi bebas risiko. Hasil menarik lainnya adalah di kelompok hijau terdapat saham yang mengalami penurunan harga sepanjang periode yang disebutkan!.

Saham ‘hijau’ pun ternyata tidak selamanya hijau. Tentu hasil ini tidak serta merta merekomendasikan saham ‘merah’. Penulis membandingkan lebih lanjut antara kelompok hijau (winner) dan merah (looser) ini untuk variabel price earning ratio (PER) PER, ratio harga dan nilai buku (PBV) serta besaran utang (leverage). PER sering dinisbahkan untuk pembeli sebagai pengorbanan (harga dibayar) terhadap harapan hasil (earning per share/EPS).

PER kelompok merah ternyata lebih tinggi. Namun tingginya PER ini ternyata bersumber dari EPS yang sangat rendah. Hal ini sebagai sebuah konsekuensi logis saja. Biasanya perusahaan yang bagus akan memiliki PER yang lebih tinggi. Untuk fakta ini mohon investor tidak terkecoh.

Rasio harga pasar terhadap harga buku saham [PBV] menunjukkan respons pasar terhadap nilai buku yang ada. Contoh paling mudah adalah harga pasar sebuah mobil bekas dibandingkan harga bukunya. Pada kelompok hijau ditemukan PBV yang lebih tinggi. Berarti Anda akan membayar lebih mahal untuk saham yang Anda beli. Namun, juga pada kelompok merah ditemukan rerata
PBV lebih dari satu. Artinya, harga pasar sahamnya masih lebih tinggi dari nilai bukunya.

Apakah harga sahamnya kemahalan? Mohon Anda renungkan sejenak! Rasio utang terhadap asset (leverage) kelompok merah selalu lebih tinggi pada T+1 hingga T+4 tahun. Apakah perusahaan merah, akan diikuti dengan petunjuk leverage yang lebih tinggi? Tentunya leverage tinggi ini tidak serta merta ada, atau berarti kondisi awalnya telah menunjukkan utangnya tinggi. Mungkin beban utang yang tinggi ini telah memberatkan emiten, sehingga menggerus labanya hingga menjadi rugi.

Kemampuan aset menghasilkan penjualan dikenal sebagai perputaran aset (asset turnover) kelompok winner pun setelah itu selalu lebih baik dibandingkan looser. Ini berarti aktivitas bisnis kelompok W juga akan lebih baik. Adanya utang yang rendah, serta kinerja usaha (turnover) yang tinggi pada kelompok winner tentunya buah dari periode sebelumnya. Pastinya investor memerhatikan kondisi ini dan akan bereaksi.

Melihat Faktor Fundamental
Memerhatikan perubahan harga, lalu menduga apa yang akan terjadi besok dapat dikatagorikan sebagai over-react. Sama saja jika menyimpulkan hasil voting Pilkada DPR terhadap kegaduhan pasar modal dapat terkatagori over- react.

Kita memang harus melatih untuk melihat hal-hal yang lebih fundamental, apa sesungguhnya yang berbeda, dan perbedaan itu akan memberikan hasil nyata pada jangka panjang. Dalam situasi yang buruk sekalipun terdapat perusahaan yang baik. Jika investor berperilaku over-react, maka kejernihannya untuk menangkap peluang menjadi sirna.

Sebaliknya juga, yang dinyatakan baik, haruslah diyakini secara fundamental baik, sehingga tidak tergesa-gesa atau over-react. Ingat sejenak kasus harga saham dot.com (2000-an) yang naik lebih dari 1000% per ahun hanya karena diisukan pangsa pasarnya global. Faktanya ternyata tidak seperti itu. Kata Damodaran, sang guru besar valuasi, saham yang dicitrakan hightech sering memiliki PER lebih dari 100. Itu artinya harga dibayar sangat tinggi dibanding dengan laba yang diperoleh.

Sesungguhnya tak ada yang baru di dunia ini. Matahari masih sama. Saham dengan capital loss terbesar itu disebabkan oleh faktor-faktor fundamental yang buruk. Reaksi wajar ini menunjukkan investor berfikir jernih bahwa tidak ada yang tiba-tiba. Kata Einstein: melakukan hal yang sama, namun mengharapkan hasil berbeda, merupakan tanda penyakit gila.

Selamat datang presiden baru! Semoga ada langkah atau tindakan revolusioner ke arah positif dan rakyat pun tidak over-react.

Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business

BAGIKAN