Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Joko Widodo

Joko Widodo

Kebodohan Kita

ID, Rabu, 13 Maret 2019 | 09:29 WIB

Jika Presiden Joko Widodo sampai melontarkan kata-kata “bodoh banget kita” sebagai bangsa, itu adalah tamparan buat semua pemangku kepentingan. Ya, Presiden kesal karena Indonesia menderita defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) berpuluh tahun dan belakangan menderita defisit neraca perdagangan.

Selain soal defisit, Presiden juga mengeluhkan masalah investasi. Dia melihat, banyak investasi asing langsung yang berbondong-bondong masuk, namun eksekusinya seperti tidak ada. Presiden akan mengejar dan mencari akar permasalahannya, apakah di pusat, di provinsi, atau di kabupaten?

Di sini jelas bahwa Presiden kecewa dengan menteri yang berkompeten tentang investasi dan perdagangan, termasuk juga jajaran birokrasi yang mestinya dapat mendukung realisasi investasi serta mengatasi defisit transaksi berjalan dan deficit neraca perdagangan.

Jika dilihat secara menyeluruh persoalan yang menyelimuti perekonomian Indonesia, yang utama adalah CAD yang berlangsung berpuluh tahun, defisit neraca perdagangan yang tahun lalu menembus rekor tertinggi dalam sejarah sebesar US$ 8,57 miliar, arus modal masuk (capital inflow) yang rendah, serta cadangan devisa yang minim.

Devisa yang minim itulah yang membuat nilai tukar rupiah selama ini menjadi bulan-bulanan dan rentan terdepresiasi. Ketika nilai tukar melemah, maka hal itu akan menyulut inflasi yang dipicu oleh barang impor (imported inflation) dan mendorong kenaikan suku bunga. Kenaikan suku bunga jelas akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan mempersempit ruang gerak ekspansi kredit perbankan.

Itulah sebabnya, strategi jangka pendek dan menengah yang harus ditempuh adalah menggenjot ekspor, menekan impor khususnya minyak dan gas, mendorong investasi asing langsung (foreign direct investment/ FDI) masuk, menggenjot sector pariwisata, serta mengoptimalkan remitansi dari pekerja Indonesia di luar negeri dan kaum diaspora.

Sementara itu, dalam konteks investasi, pemerintah pusat dan daerah harus secara bersamasama membenahi persoalan yang selama ini menjadi keluhan investor. Di antaranya adalah regulasi yang tidak mendukung investasi. Masuk dalam kategori ini adalah UU Ketenagakerjaan, peraturan yang tumpang tindih antarkementerian- lembaga atau antara pusat dan daerah, serta pemerintah daerah yang acap kali tidak mendukung peraturan pusat.

Selain itu, pemerintah juga harus merevisi sejumlah kebijakan perpajakan yang selama ini cenderung merugikan. Yakni pajak impor barang jadi lebih rendah dari pajak impor komponen dan bahan baku. Demikian pula penjualan bahan baku ke industri lokal lebih mahal dibanding pajak ekspor, sehingga mendorong produsen untuk mengekspor barang mentah.

Di luar itu, investor juga masih mengeluhkan rumitnya sistem perizinan, sulitnya pembebasan lahan, banyaknya pungutan tidak resmi, dan tingginya korupsi di Indonesia. Biaya logistik juga masih tinggi serta infrastruktur masih kurang memadai. Semua itu pada akhirnya memicu timbulkan ekonomi biaya tinggi dan menurunkan daya saing pelaku ekonomi di negeri ini.

Seluruh persoalan tersebut harus dibenahi secara simultan jika Indonesia ingin terlepas dari persoalan defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, dan rendahnya investasi langsung.

Seperti sindiran Presiden, sebenarnya semua pejabat yang berkompeten sudah tahu persoalan dan masalah yang terjadi, sudah tahu kekurangan yang ada, hanya saja tidak ada kesungguhan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Itulah mengapa Presiden menyebut “betapa bodohnya kita sebagai bangsa”.

Semua pemangku kepentingan harus mampu mengoptimalkan dan mengkapitalisasi potensi dan sumber daya yang kita miliki. Modal yang kita miliki saat ini demikian besar untuk menarik investasi serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Antara lain peringkat layak investasi yang kita sandang dari tiga lembaga pemeringkat dunia, indikator ekonomi makro yang solid, populasi besar yang didominasi oleh penduduk usia produktif, serta sumber daya alam yang berlimpah

Dengan segala potensi tersebut serta dibarengi berbagai upaya pembenahan lintas sektoral secara sungguh-sunggu dan political will yang tinggi, kita optimistis mampu mewujudkan Indonesia sebagai destinasi investasi favorit bagi investasi global. Seperti dalam survei terbaru yang dilakukan oleh United Nation terhadap CEO multinasional, saat ini Indonesia menempati peringkat keempat sebagai tujuan investasi terbaik dunia.

Paralel dengan itu, persoalan defisit transaksi berjalan dan deficit perdagangan juga teratasi dan Indonesia mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi tinggi yang berkesinambungan dan inklusif. Alhasil, pengangguran pun menurun, demikian pula kesenjangan pendapatan dan kemiskinan bisa dikurangi. (*)

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN