Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kekhawatiran Mereda

Senin, 12 Maret 2018 | 14:00 WIB

Sementara itu, di pasar finansial global, kekhawatiran yang dirasakan sebelumnya praktis mereda di akhir pekan lalu. Pasalnya, kebijakan tarif AS ternyata tidak segawat yang diperkirakan, merujuk pada pengumuman kebijakan tarif pemerintahan Presiden Donald Trump yang ternyata ada sejumlah pengecualian.

 

Hal itu terkait pengumuman Trump yang secara resmi mengenakan tariff 25% atas impor baja dan 10% atau impor aluminium, yang akan berlaku 15 hari setelah diumumkan, untuk melindungi industri dalam negeri AS dan mendorong negara-negara mitra untuk membeli produk buatan AS.

 

Namun demikian, dalam pengumuman itu, Kanada dan Meksiko dikecualikan karena Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) masih dirundingkan ulang. Investor global juga mencermati bahwa data tenaga kerja AS yang terbaru mengisyaratkan penaikan suku bunga acuan The Fed tidak akan secepat ekspektasi yang ada.

 

Namun demikian, kalangan analis juga memperingatkan, tidak berarti volatilitas di pasar finansial sudah pergi dan koreksi yang mulai muncul di akhir Januari lalu tidak lantas sudah selesai. Koreksi yang terjadi pada Januari 2018 itu terutama disebabkan naiknya upah di AS yang melebihi perkiraan. Di sisi lain, bull market di Wall Street AS juga belum berhenti.

 

Sementara itu, berdasarkan data Biro Statistik Ketenagakerjaan AS atau Bureau of Labor Statistics (BLS), lapangan kerja baru non-pertanian bertambah 313.000 sepanjang Februari 2018. Angka itu jauh di atas ekspektasi kalangan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 200.000. Namun, pada saat yang sama, kenaikan upah di bawah perkiraan, yakni hanya 2,6% secara tahunan.

 

Alhasil, Wall Street AS ditutup dengan kenaikan tajam pada Jumat (9/3). Indeks Dow Jones kembali ke level di atas 25.000, setelah menutup perdagangan satu pekan lalu dengan kenaikan 3,3%. Sebelumnya, indeks saham blue-chip ini terakhir ditutup di atas 25.000 pada 28 Februari 2018.

 

Pada perdagangan terakhir pekan lalu, indeks Dow Jones naik 440,53 poin (1,8%) ke level 25.335,74. Indeks 30 saham utama AS ini juga ditutup di atas level rata-rata pergerakan selama 50 hari, yang merupakan level teknikal kunci.

 

Indeks S&P 500 juga menguat 1,7% (47,60 poin) ke level 2.786,57 dan juga melampaui level rata-rata pergerakan selama 50 hari. S&P mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan kenaikan 3,5%.

 

Demikian pula indeks Nasdaq menutup perdagangan pekan lalu dengan kenaikan 4,2%. Pada Jumat (9/3), indeks ditutup naik 1,8% (132,86 poin) ke level 7.560,81 atau merupakan rekor baru. Sebelumnya, rekor harian terakhir yang dicetak oleh Nasdaq terjadi pada penutupan perdagangan 26 Januari 2018.

 

“Laporan ketenagakerjaan itu adalah potongan ‘pizza’ yang sempurna. Hasilnya menegaskan lagi bahwa fundamental ekonomi AS kuat, tapi juga memupus sebagian kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga lebih dari tiga kali di tahun ini,” tutur Presiden dan Direktur Investasi Hennion and Walsh Kevin Mahn, kepada CNBC. (afp/sumber lain/en)

 

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/international/net-sell-asing-capai-rp-5494-triliun/173105

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN