Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung memotret layar perdagangan saham di gedung BEI. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Pengunjung memotret layar perdagangan saham di gedung BEI. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Kinerja Emiten

ID, Kamis, 4 April 2019 | 09:11 WIB

Meski kinerja harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun lalu minus 2,54% dan terjadi arus modal keluar di pasar saham hingga Rp 50 triliun lebih, kondisi itu tidak menggoyahkan kinerja keuangan emiten. Laporan sementara BEI menunjukkan, performa finansial emiten tidak linear dengan kinerja harga saham.

Dari 140 emiten yang hingga kini menyampaikan laporan keuangan tahunan 2018 kepada BEI, pendapatan mereka tumbuh ratarata 12% sepanjang 2018, dari Rp 1.752 triliun pada 2017 menjadi Rp 1.965 triliun.

Adapun laba bersih meningkat 8% dari Rp 230 triliun pada 2017 menjadi Rp 248 triliun pada 2018. Total aset pun bertambah  sekitar 9% dari Rp 6.793 triliun pada 2017 menjadi Rp 7.416 trilliun pada 2018, atau naik sekitar Rp 624 triliun.

Apabila dilihat dari sisi sektor, kinerja terbaik sepanjang tahun lalu dibukukan oleh emiten-emiten di sektor pertambangan, dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 23% secara tahunan. Peringkat kedua diraih sektor perdagangan, jasa dan investasi, yang laba bersihnya tumbuh 17%. Sedangkan kinerja terburuk dialami oleh emiten-emiten

sektor komoditas perkebunan, terutama CPO, yang laba bersihnya justru merosot 61%.

Sementara itu, pertumbuhan laba sektor finansial, konsumsi, aneka industri, dan property cenderung stabil. Memang, laporan tersebut baru merepresentasikan dari 25% emiten yang tercatat di BEI. Namun ke-140 emiten tersebut umumnya adalah perusahaan papan atas, sehingga relatif dapat merefleksikan indicator kinerja emiten secara keseluruhan.

Terlebih lagi, banyak emiten berkapitalisasi besar dan masuk kelompok saham bluechips yang umumnya meraih pertumbuhan laba dua digit tahun lalu.

Dengan ilustrasi tersebut, kita meyakini bahwa kinerja keuangan emiten di BEI tahun ini akan lebih baik dan kian solid. Ada sejumlah alasan mendasar yang melatari optimism tersebut.

Pertama, semua ekonom, otoritas, dan berbagai lembaga internasional kompak bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan lebih tinggi disbanding tahun lalu yang tumbuh 5,17%. Tahun ini, ekonomi bisa tumbuh 5,3-5,4%.

Kedua, suku bunga berpotensi turun, sejalan dengan langkah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini. Kalangan ekonom dan bankir bahkan meyakini BI akan menurunkan suku bunga acuan tahun ini. Hal itu berarti suku bunga kredit pun berpotensi turun, sehingga menjadi angin segar bagi dunia usaha.

Ketiga, Bank Indonesia melonggarkan rasio intermediasi makroprudensial (RIM) yang bertujuan untuk mendorong perbankan lebih agresif dalam mengucurkan kredit. Dengan kebijakan baru ini, tahun ini ekspansi kredit akan bertambah minimal Rp 36 triliun. Semua itu tentu kian menggairahkan dunia usaha dan sector riil secara umum.

Keempat, hampir semua pelaku usaha bersikap wait and see serta menahan ekspansi, karena menunggu hasil pemilu 17 April. Tapi semua meyakini bahwa pemilu akan berjalan aman dan lancar, berkaca pada pengalaman pemilu sebelumnya yang tak pernah ada gangguan signifikan. Indonesia justru dipuji dunia sebagai Negara besar dengan contoh sukses demokrasi yang gemilang. Data empiris menunjukkan, euphoria pascapemilu akan menggerakkan semua sektor.

Kelima, fundamental makro secara umum dalam kondisi bagus. Inflasi tetap akan terkendali meski ada kemungkinan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi dan tarif listrik usai pemilu. Kurs rupiah stabil, cadangan devisa memadai, defisit transaksi berjalan berada dalam tren menurun, serta kondisi fiskal aman.

Peringkat layak investasi (investment grade) yang kita peroleh dari Standard & Poors, Moody’s, dan Fitch Rating menambah kepercayaan investor. Keenam, aliran modal asing masuk diyakini bakal semakin deras pascapemilu, baik dalam bentuk portofolio maupun dalam bentuk investasi langsung (foreign direct investment/FDI).

Selama kuartal pertama ini saja, capital inflow yang masuk ke pasar saham, Sertifikat Bank Indonesia, dan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai sekitar Rp 90 triliun.

Ketujuh, tekanan yang bersumber dari eksternal jauh berkurang, karena sinyal bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga. Pelonggaran likuiditas juga akan diikuti oleh bank-bank sentral negara maju lainnya karena perlambatan ekonomi. Kondisi itu akan mendorong dana-dana terbang ke emerging markets dan mengurangi volatilitas pasar finansial global.

Berbagai ilustrasi di atas membersitkan optimisme bahwa kinerja emiten tahun ini akan lebih baik. Selain karena belanja modal emiten yang cukup agresif, atmosfer bisnis dan fundamental makro pun sangat kondusif. Sejumlah mega infrastruktur strategis yang dibangun pemerintah mulai beroperasi sehingga bakal mendorong ekonomi melaju lebih kencang. Intinya, perekonomian nasional tengah bertabur sentimen positif.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN