Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Klaten Awali Gerakan Anti Serangan Fajar

Alex Dungkal dan Emral Ferdiansyah, Rabu, 25 Juni 2014 | 10:09 WIB

KLATEN- Lewat pagelaran budaya ketoprak “Arya Penangsang Gugur”, Klaten, Jawa Tengah akan mengawali gerakan pertama di Indonesia yang secara tegas menolak politik uang termasuk serangan fajar. Gerakan anti serangan fajar itu dituangkan dalam bentuk tandatangan di atas kain putih sepanjang 100 meter. Tandatangan anti serangan fajar ini dilakukan sebelum pagelaran ketoprak yang akan digelar di Lapangan Sumberejo, Klaten Selatan, Jawa Tengah pada Rabu (25/6) ini.
 
Demikian diungkapkan Ketua Panitia Pagelaran Budaya, Harri Pramono di Padepokan Budaya Omah Wayang “Paguyuban Cipta Manunggal’, dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Selasa (24/6). Diperkirakan lebih dari 2000 penonton akan memadati gelar budaya ini yang diadakan oleh relawan Jokowi-JK.
 
“Relawan Jokowi-JK yang berasal dari Klaten dan sekitarnya akan memulai gerakan menolak serangan fajar. Sikap ini harus dilakukan untuk membangun budaya politik yang santun, berbudaya serta bermartabat dengan menempatkan para pemilih sebagai subyek dan bukan obyek politik," kata Harri Pramono.

"Indonesia milik bangsa Indonesia dan bukan milik partai ataupun koalisi. Sehingga, adalah kewajiban kita semua untuk menjaga demokrasi Indonesia dari sikap arogansi yang melecehkan kehormatan bangsa,” tegas Harri Pramono, yang mantan Ketua DPRD Klaten.
 
Dijelaskan lebih lanjut, aksi anti serangan fajar ini perlu disebarluaskan serta dijadikan gerakan bersama di semua daerah. Oleh karena itu, aksi yang disosialisasikan dengan pendekatan budaya tersebut dikatakan sebagai bentuk harapan masyarakat akan berdirinya tatanan Indonesia baru yang secara filosofis tidak terlepas dari perjalanan panjang sejarah Indonesia. Hal itu terkait khususnya dengan kisah berdirinya Kerajaan Mataram di Alas (hutan) Mentaok setelah Arya Panangsang yakni Adipati Jipang gugur karena kerisnya sendiri.
 
“Orang Jawa melihat pemilihan presiden selalu dikaitkan dengan munculnya tatanan baru politik yang tidak bisa dilepaskan dari dua kerajaan besar yakni Mataram dan Majapahit. Karena Klaten berada dalam wilayah Kerajaan Mataram pada waktu itu, maka dipilihlah sejarah yang berhubungan dengan lahirnya Kerajaan Mataram yang didirikan di Alas (Hutan) Mentaok, Kota Gede,” ujar Harri yang juga anggota DPRD Propinsi Jateng dari PDIP.
 
Dalam Babad Tanah Jawi hutan Mentaok merupakan hadiah dari Adipati Kerajaan Pajang, Hadiwijaya atau yang sebelumnya bernama Mas Karebet (Jaka Tingkir),  kepada Ki Ageng Pemanahan karena berjasa dalam menumpas Arya Penangsang yang dianggap sebagai  ancaman serius bagi eksistensi Kerajaan Pajang.  Kelak, di atas Hutan Mentaok itu, Kerajaan Mataram didirikan dan Ki Ageng Pemanahan menjadi raja Mataram yang pertama.
 
Pagelaran ketoprak ini akan dihadiri juga para kepala daerah di Jateng yang berasal dari Partai PDIP termasuk di dalamnya Bupati Klaten H Sunarna dan Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo.
 
Pertunjukan ketoprak yang disutradarai Ki Joko Krisnanto itu menghadirkan bintang tamu, Marwoto Kawer, Anang Batas dan Rabies. Para pemain ketoprak berasal dari Padepokan Budaya Omah Wayang “Paguyuban Manunggal Cipta” Klaten yang profesi para anggotanya adalah MC (pembawa acara). (*/gor)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA