Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Komitmen Memacu Daya Saing

Edy Purwo Saputro, Jumat, 15 Maret 2019 | 08:10 WIB

Daya Saing menjadi faktor kunci keberhasilan di era global, dan karenanya publikasi dari World Economic Forum terkait indeks daya saing global atau Global Competitiveness Index menjadi menarik dicermati. erkait hal ini, daya saing Indonesia di urutan 45 dari 140 negara dengan skor total 64, sedangkan tahun lalu di posisi 47. Posisi ini menjadikan kita dalam kawasan Asean di atas Filipina (56), meski masih kalah dibanding Malaysia (25) dan Thailand (38).

Sementara itu, Singapura di urutan ke-2. Oleh karena itu, ke depan tentunya ada banyak tantangan untuk bisa memacu daya saing, dan ini menjadi PR bagi siapapun pemenang pilpres 2019. Artinya, persoalan makro dan mikro ekonomi penting untuk dicermati, termasuk juga iklim sospol menuju pilpres 2019 demi perbaikan daya saing.

Daya saing terbaik dimiliki oleh Amerika Serikat (AS) yang mengalahkan Singapura, Jerman, Swiss dan Jepang. Padahal AS sendiri baru pulih dari krisis keuangan tahun 2007-2009. Swiss sendiri dulu di peringkat utama dan bergeser ke urutan 4.

Fluktuasi daya saing memberikan gambaran betapa komitmen memacu daya saing menjadi tuntutan mutlak dan di era global. Hal ini tidak bisa diabaikan, sehingga semua komponen yang ada harus ter fokus kepada upaya memacu daya saing. Indonesia dengan model pembangunan desentralisasi melalui otonomi daerah (otda) juga diharapkan mampu memacu daya saing melalui geliat ekonomi di daerah dengan mengacu potensi unggulan di daerah berbasis sumber daya lokal dan kearifan lokal. Tapi sayang yang terjadi justru banyak kasus korupsi di daerah dan ironisnya dilakukan juga secara berjamaah.

Padahal, era otda seharusnya bisa memacu produk unggulan setiap daerah yang berdaya saing sehingga memberikan kontribusi positif secara nasional.

Kewirausahaan

Faktor utama keberhasilan AS yang berdaya saing tinggi adalah budaya kewirausahaan yang sangat dinamis dan didukung pasar tenaga kerja serta sistem keuangan yang kuat. Meski pernah terguncang oleh krisis keuangan tahun 2007- 2009, kebangkitan dari system keuangan AS menjadikannya lebih tangguh dalam menghadapi fluktuasi yang ada.

Tidak bisa dimungkiri bahwa sektor keuangan termasuk yang paling rentan dalam menghadapi gejolak yang ada. Paling tidak, ini terlihat dari kasus depresiasi rupiah yang sempat menembus batas psikologis Rp 15.000 per dolar AS dan karenanya beralasan jika pada tahun 2019 sesuai revisi RAPBN asumsi kurs diubah menjadi Rp 14.800-15.200. Fakta ini sejatinya adalah melihat perspektif realistis, bukan pesimistis.

Kuatnya faktor kewirausahaan dalam mendorong daya saing suatu negara secara tidak langsung menegaskan pentingnya menumbuhkembangkan etos kewirausahaan jangka panjang. Indonesia juga berkepentingan terhadap hal ini, dan karenanya generasi milenial perlu dipacu agar tidak terkurung oleh stigma menjadi ASN, tapi harus bisa menciptakan lapangan kerja, setidaknya bagi dirinya sendiri.

Kebangkitan bisnis start-up dan realitas perkembangan e-commerce yang didukung murahnya tariff internet sejatinya menjadi muara untuk mengembangkan kewirausahaan secara berkelanjutan. Betapa tidak, semua transaksi kini sudah berbasis online dan jasa pengiriman juga semakin mudah, sehingga perkembangan dan pengembangan berbagai bisnis star t-up dan e-commerce bisa semakin pesat terutama yang dikelola oleh generasi milenial.

Sepak terjang bisnis star t-up di Indonesia sebagai identifikasi kebangkitan kewirausahaan kaum muda bisa terlihat dari sukses Gojek yang kini berpredikat sebagai unicorn startup karena nilai jualnya di atas US$ 1 miliar. Diversifikasi usaha Gojek meski sempat juga memicu kontroversi ternyata mampu menobatkannya sebagai salah satu yang terbaik dan mendapatkan anugerah Asean Entrepreneur Award dari World Knowledge Forum di Seoul, Korsel pada Oktober 2016.

Selain itu, ada juga bisnis start-up yang sukses, misal Traveloka dan Tokopedia. Bahkan Tokopedia pada Agustus 2017 mendapatkan investasi dari Alibaba US$ 1,1 miliar. Prestasi ini tentu harus menjadi cambuk untuk memacu lebih banyak lagi bisnis start-up di Indonesia pada umumnya dan menumbuhkembangkan etos kewirausahaan pada khususnya, utamanya yang melibatkan anak muda kaum milenial.

Komitmen

Belajar sukses dari kewirausahaan di AS yang mendongkrak daya saing, setidaknya ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, yaitu pertama: kesiapan teknologi. Tidak bisa dimungkiri bahwa perkembangan ekonomi ke depan menuntut efisiensi dan produktivitas sebagai bagian dari komitmen industrialisasi.

Fakta ini pada akhirnya menuntut adanya penggunaan dan adopsi teknologi di semua lini produksi dan bisnis, apalagi tuntutan dari industri 4.0 yang semakin mendesak.

Kedua, intuisi bisnis yang cemerlang. Intuisi itu sendiri bisa dimunculkan dengan sigap dan siap menghadapi semua tuntutan perubahan yang ada. Betapa tidak, cermat dalam membidik peluang bisnis pada dasarnya bisa dicermati dengan melihat perkembangan di sekitar, baik itu akan dikembangkan dalam bentuk bisnis online atau offline.

Ketiga, kepemimpinan. Bisnis, baik star t-up atau yang sudah mapan tetap membutuhkan kepemimpinan yang cerdas. Hal ini sekaligus untuk menepis adanya degradasi struktur kepemimpinan seperti yang banyak terjadi dalam bisnis keluarga, yaitu generasi pertama membangun, generasi kedua membesarkannya dan generasi ketiga menghabiskannya.

Keempat, manajemen. Tidak bisa disangkal bahwa manajemen yang baik dan tepat bisa mendukung terhadap sukses bisnis dan kewirausahaan. Kasus pailitnya sejumlah bisnis seperti Sariwangi yang dikenal sebagai pelopornya teh celup dan jamu Nyonya Meneer perlu menjadi pembelajaran.

Kelihaian penanganan manajemen sejatinya adalah proses yang bersifat on going dan learning by doing karena tidak ada pendidikan manajemen yang paling tepat, karena yang paling tepat adalah yang sesuai dengan kasus di setiap bisnis yang ada. Sehingga pembelajarannya sangat tergantung dari bagaimana pelaku bisnis menyelesaikan persoalan manajemen internalnya sendiri.

Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

BAGIKAN