Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kontingensi

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 2 Februari 2016 | 05:20 WIB

Profesor Palepu dkk dalam buku teks Valuasi, memberikan dua contoh kasus perusahaan yang menarik. Pertama, adalah perusahaan Belanda ICT Getronics, dan kedua adalah perusahaan Jerman KarstaddQuelle AG.

 

CT Getronics adalah perusahaan yang sangat ambisius, memiliki target melipatkan penjualan (laba) untuk setiap tiga tahun. Target ini diharapkan dicapai melalui beberapa strategi agresif, yakni ekspansi secara alamiah (internal growth), akuisisi, dan investasi secara strategis. Untuk membiayai ekspansi ini, mereka menggunakan cara menerbitkan saham baru dan berutang dalam jumlah yang besar.

 

Delapan tahun kemudian, setelah mengalami kerugian yang fatal karena terlalu banyak menanggung utang perusahaan ini diambilalih. Kedua, perusahaan Jerman KarstaddQuelle AG, yakni sebuah perusahaan yang mengoperasikan berbagai departemens store yang nyaris bangkrut namun dalam dua tahun kemudian sukses menjadi perusahaan untung dan menyatakan sebagai bebas utang. Pada periode tersebut sejarah harga saham Karstadd Quelle AG dari berkisar 19 euro turun menjadi 7 euro; lalu naik lagi menjadi 12 euro dan terakhir menjadi 20 euro.

 

Belajar dari Getronics

Getronics adalah contoh dampak utang yang masif terhadap nilai perusahaan. Getronic juga mempergunakan financial engineering menerbitkan utang untuk membayar utang lama; membuat utang yang dapat dikonversi (convertible bond) menjadi saham. Dua tahun kemudian Getronic sukses mengubah utangnya menjadi saham senilai 295 juta euro. Padahal, satu tahun sebelumnya, Getronics mengumumkan earning-nya di bawah ekspektasi dan harga sahamnya turun sebesar 42%.

 

Di sini tampak investor utang dapat terbuai oleh sihir Getronics. Setelah itu perusahaan mengalami kerugian, diikuti dengan turunnya harga saham, masih mendapatkan utang baru, namun pemegang utang lama tak bersedia mengubahnya menjadi pemegang saham. Enam tahun sesudah itu Getronic masih mampu menerbitkan saham baru senilai 388 juta euro.

 

Ini menunjukkan masih ada investor bertipe risk-taker, yaitu mereka yang bersedia melawan arus mainstream tentang investasi. Dua tahun kemudian Getronics diakusisi. Kasus Getronics ini dapat menjadi pelajaran jika melihat sebuah perusahaan terbuka (Tbk) di Indonesia yang terbelit utang besar dan berharap dapat menerbitkan saham baru untuk pendanaan ke depan.

 

Getronics mungkin memang tipe perusahaan ambisius, super optimistis. Pada saat mengakuisisi Wang Global (perusahaan Amerika Serikat) penjualannya meningkat dari 1,5 miliar euro menjadi 3,7 miliar euro, namun tenaga kerjanya meningkat hampir tiga kali lipat. Situasi bisnis ini tidak sesuai perkiraan, dengan besarnya biaya operasi, besarnya beban utang, yang merupakan pukulan ala juara tinju dunia dan membuat Getronics KO hanya dalam beberapa ronde. Ini menjadi pelajaran bagi berbagai pihak, untuk lebih berhati-hati memperkirakan ke depan.

 

Lain Getronics lain KarstadtQuelle AG. Pada saat nyaris bangkrut, KarstadtQuelle melakukan langkah mengganti direksinya, menegosiasikan utangnya dengan kreditor dan meminta pemegang saham lama untuk menambah setoran modal, baik sebagai saham maupun convertible bonds. Setelah hal ini berhasil dilakukan, perusahaan melakukan pembenahan manajamen, mem-fokuskan bisnis, melakukan sale-lease-back assets termasuk juga harapan melakukan cost saving senilai 360 juta euro dan juga melakukan PHK sebesar 1/5 karyawan atau berkisar 25000 tenaga kerja.

 

KarstadtQuelle juga mampu membuka penetrasi pasar baru di Asia, bekerja sama dengan perusahaan Tiongkok (Li &Fung) dan untuk keberhasilan ini perusahaan sudah berhemat modal kerja senilai 500 juta euro. Kombinasi langkah jitu, luar-dalam; memperbesar potensi revenue dan menghemat biaya, telah menyelamatkan KarstadtQuelle dari kebangkrutan.

 

Dana dan Manajer

Ada beberapa hal yang bisa dipetik dari dua kasus di atas. Pertama, soal utang. Ekspansi perusahaan memang mesti dibiayai, dan utang solusi yang lazim bagi perusahaan. Utang membuat hiddick direktur lantaran tekanan kas yang besar dan utamanya saat bisnis turun. Persoalan ekspansi ini merupakan problem utama, karena hasil bisa saja sangat berbeda dengan skenario.

 

Ekspansi menunjukkan peluang, dimana peluang tidak boleh diabaikan begitu saja, tetapi juga tidak boleh ditelan bulat. Untuk hal ini, barangkali nasehat Timothy A Luehrman, yang ditulis pada Harvard Business Review (HBR) dapat menjadi panduan. Luehrman menyatakan, untuk sebuah peluang sebaiknya hal itu dinilai melalui pendekatan opsi, sebagai komplemen bagi metode yang telah standar yakni nilai bersih sekarang (NPV).

 

Ide Luehrman ini setara dengan membayar sebagian (uang panjar) terhadap sebuah proyek. Dengan cara ini, jika sebuah bisnis dirasa cukup baik, maka dapat dilanjutkan, tetapi jika tidak maka ini dapat diberhentikan dengan segera tanpa biaya yang besar. Berkenaan dengan utang, maka harus diupayakan utang yang bersifat kontingensi (komitmen) seperti ini. Utang ini, kedua belah pihak terikat perjanjian akan nilai pokoknya, namun belum dicairkan. Untuk hal ini, jika situasi bisnis turun, maka beban utang tidak terlalu besar, karena utangnya tidak/belum direalisasikan.

 

Luehrman juga menuliskan, sebuah ketidakpastian investasi di masa depan menunjukkan kadar risiko yang lebih tinggi. Untuk hal ini, maka tingkat diskonto yang dipakai harus lebih rendah, sehingga nilai sekarang dari biaya investasi tersebut akan tinggi dan dapat mengubah kesimpulan investasi dari layak menjadi tidak layak. Apa yang terjadi pada Getronics sebenarnya mensinyalkan biaya investasi ke depannya menanggung risiko namun tidak didiskonto dengan rate yang sesuai!.

 

Kedua, bisnis adalah pengelolaan. KarstadtQuelle menunjukkan kemampuan mengelola (internal) sembari mencari celah pasar. Isu cost saving adalah tindakan pertama yang dilakukan oleh perusahaan jika mengalami turbulensi bisnis. Namun, hal ini sebenarnya tidak mudah, karena akan mengurangi kenyamanan.

 

Hal yang juga sulit untuk dilakukan adalah pengurangan tenaga kerja karena berbagai alasan. Sedangkan kemampuan manajerial direksi ditunjukkan oleh ‘pemilihanpemilihan’ fokus bisnis sambil memanfaatkan network. Pebisnis paham betul, network dan nama baik merupakan dua hal yang dapat dimanfaatkan menyelamatkan bisnis.

 

Ketiga, KarstadQuelle melakukan tindakan radikal yakni mengganti direksi saat perusahaan nyaris bangkrut. Dengan adanya direksi baru, diharapkan akan ada aura ide dan harapan baru. Hal ini ternyata lazim dalam bisnis sepakbola, di mana pelatih yang tidak perform, segera digantikan dengan pelatih baru, demi harapan adanya ‘mantra aura baru bagi klub, tanpa lagi mempertimbangkan sisa kontrak yang tersisa atau kompensasi yang mesti dibayar.

 

Meskipun tidak seperti sepakbola, setidaknya KarstadQuelle percaya orang baru-jampi baru bisa memainkan gitar dengan lagu baru. Hal ini bukan keharusan, karena banyak perusahaan justru bersikap sebaliknya, yakni memercayai nakhoda lama untuk mengatasi karam perusahaan. Apa yang terjadi pada KarstaddQuelle mungkin saja hanya kebetulan, namun tepat.

 

Dana, pengelolaan, dan manajer tampaknya merupakan tiga hal utama dari bisnis. Salah satu dari ketiga hal ini tidak ada/timpang, tampaknya akan menyebabkan bisnis ada pada ketidakseimbangan. Manakah yang lebih penting? Sebaiknya hal itu tak ditanyakan, karena akan seperti memisahkan pasutri. Semoga pada 2016, ketiga hal tersebut dimiliki oleh perusahaan Indonesia, sehingga siap menghadapi turbulensi bisnis, siap menghadapi MEA.

 

Said Kelana, Ketua Program Studi Manajemen Kwik Kian Gie School of Business Jakarta

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN