Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kota Kediri dan Cerita Panji yang Jadi Warisan Budaya Dunia

Gora Kunjana, Senin, 19 Maret 2018 | 22:10 WIB

JAKARTA- Kisah-kisah masa lalu dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi, selain mengandung nilai sejarah, dan pesan moral. Apalagi Indonesia secara geografis luas, yang menyebabkan budaya masyarakatnya sangat beragam. 

 

Salah satu kisah masa lalu itu, adalah ‘Cerita Panji’ yang cukup mendapat perhatian para ahli. “Namun sayangnya, cerita Panji ini banyak dilupakan,” ujar Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro, kepada wartawan, usai menyaksikan Pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Kota Kediri Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (18/3).

 

Organisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (Unesco), secara resmi mencantumkan ‘Cerita Panji’ adalah salah satu rangkaian cerita tentang karakter kesatria Raden Panji Asmorobangun yang berlatar di Jawa Timur, resmi sebagai ‘ingatan dunia’ atau disebut ‘Memory of the World’ (MoW). Usulan penetapan ‘Cerita Panji’ sebagai MoW Unesco tersebut sudah dilakukan sejak 2016. 

 

Acara apresiasi budaya yang rutin digelar setiap minggu oleh Badan Penghubung Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini, menampilkan drama tari bertajuk, ‘Labuh Tresno Sejati.’ Drama tari ini dibawakan oleh grup kesenian dari Kota Kediri, dan disutradarai Guntur Tri Kuncoro, dengan Penata Tari Yolanda Putri Probosekar.

 

‘Labuh Tresno Sejati’ yang ditulis Ety Kusumaningtyas merupakan representasi ‘Cerita Panji’, yang mengetengahkan tokoh-tokohnya, seperti Raden Inu Kertapati, dan Panji Semirang. Atau Dewi Sekartaji, Klana Sewandana, Ragil Kuning / Dewi Onengan, Tumenggung Pakencanan, dan karakter peran lainnya.

 

Selain Wardiman Djojonegoro, ikut menyaksikan pertunjukan ini, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Kediri Jawa Timur, Sunawan, dan Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo. 

 

Hadir di acara tersebut, Suryandoro (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Munarno (Praktisi, Analis Kesenian dan Budaya Daerah Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur, di Jakarta), serta Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII).

 

Para budayawan ini secara rutin bertindak sebagai tim pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, yang digelar setiap hari Minggu, di Anjungan Jawa Timur TMII.

 

Menurut Wardiman Djojonegoro, banyak orang tidak tahu bahwa ‘Cerita Panji’, adalah karya sastra dan budaya Indonesia, yang pengaruhnya hingga ke luar negeri. ‘Cerita Panji’ memiliki banyak versi, dan telah menyebar ke seluruh jazirah Nusantara; Jawa, Bali, Kalimantan

 Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina.

 

“Saya minta ke Pemerintah Kota Kediri, agar anak-anak SMP dan SMA didorong mulai memviralkan cerita Panji, bisa melalui tulisan, lukisan atau kreasi kartun. Dengan begitu cerita Panji akan eksis, termasuk budaya lainnya,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan IV pada masa Presiden Soeharto ini.

 

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Kediri Jawa Timur, Sunawan menjelaskan, cerita Panji, adalah kumpulan cerita masa Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri. Isinya mengenai kepahlawanan dan cinta, terkait dengan tokoh utamanya, Raden Inu Kertapati (Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana). Beberapa cerita rakyat seperti ‘Keong Mas’, ‘Ande-ande Lumut,, dan ‘Golek Kencana’ juga merupakan turunan dari cerita ini. 

 

“Kita ingin terus menggali seni budaya Panji ini. Salah satu bukti cerita ini dapat dilihat di situs kuno peninggalan abad 14-15 Masehi di desa Gambyok, yang disebut-sebut sebagai awal naskah utuh asli Panji Sumirang,” terang Sunawan.

 

Selain itu, kata dia, Kediri juga memiliki khasanah budaya lain, di antaranya seni Jemblung, dan seni Jaranan. “Jemblung adalah kesenian tradisional sebagai sarana penyebaran Islam pada masa lalu. Kesenian Jemblung menampilkan musik gamelan Jawa yang diselingi dakwah Islam,” ujarnya. 

 

Sementara Seni Jaranan, adalah tarian tradisional khas Kediri yang memiliki ciri tersendiri, baik dari tarian, pakaian yang dikenakan, serta irama musik yang mengiringi.

 

“Kami memandang seni Jaranan memerlukan kreator supaya dapat tampil lebih inovatif. Walau kota Kediri relatif kecil, namun potensi seni jaranan luar biasa. Ada sekitar 120 grup seni jaranan potensial yang belum sepenuhnya tergali dan dikembangkan,” ujar Sunawan. (gor)

BAGIKAN