Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Stevanus Subagijo, Peneliti pada Center for National Urgency Studies Jakarta

Stevanus Subagijo, Peneliti pada Center for National Urgency Studies Jakarta

Kristus Mencoblos Dosa Kita

Stevanus Subagijo, Selasa, 23 April 2019 | 08:20 WIB

Bagi umat Kristiani, Paskah 2019 menjadi sangat berbeda dibanding Paskah- Paskah terdahulu. Ini karena prosesi Paskah bersamaan dengan tahapan Pilpres-Pileg. Kedua peristiwa ini mempunyai dua makna. Yang satu bermakna duniawi, yakni memilih pemimpin bangsa dan wakil rakyat. Yang kedua bersifat rohani, yakni dipilihnya Yesus dalam Pemilihan Surgawi sebagai Juruselamat untuk mencoblos dosa dunia.

Jika pemilu dalam dunia politik mempunyai hitung cepat (quick count) siapa yang bakal terpilih, Paskah sebaliknya. Sudah sejak zaman nabi-nabi Perjanjian Lama menubuatkan, bayangan tentang siapa yang kelak dipilih, untuk menapaki jalan salib, penangkapan, pengadilan, penyesahan, penyaliban, kematian dan kebangkitan pada hari ketiga.

Hitung cepat politik dunia membutuhkan beberapa menit atau jam usai pemilu. Pemilihan Surgawi tidak perlu hitung cepat, jauh sebelum peristiwa Paskah perdana terjadi, pemenangnya sudah dinubuatkan, sudah ditentukan. Kejatuhan akan dosa, terputusnya Tuhan dan manusia tidak dapat dipulihkan oleh manusia yang sudah berdosa.

Pemulihan hanya bisa dilakukan Tuhan karena begitu jauhnya esensi Tuhan Yang Maha dengan manusia yang berdosa. Tuhanlah yang berinisiatif untuk menebus dosa yang tak tertebus ini dengan Diri-Nya sendiri menjadi korban, dalam personifikasi Anak-Nya kelak, yakni Yesus.

Jeritan Agung

Pemilu duniawi memperebutkan “baju” pemimpin atau kepejabatan. Di masa lalu jubah melambangkan kewibawaan, status, kepejabatan dan kuasa. Tak heran dunia memperebutkannya. Dalam kisah Paskah juga terselip kisah tentang jubah. Pada momen penyaliban, Yesus dikenakan jubah ungu untuk mengolok dan menyindir-Nya sebagai Raja orang Yahudi. Dipakaikan jubah raja tapi disalib. Kisah mana mengilhami rohaniawan Lutheran, Llyoid C Douglas (1877-1951) mengarang novel The Robe (1940). Jubah ungu Yesus sebagai sindiran tentang pemimpin atau mesias yang gagal.

Pemimpin ala dunia datang dengan kereta kuda dan pasukan, massa pendukung dan tim suksesnya. Tapi Yesus justru datang menunggang keledai dengan pendukung melambaikan daun palma. Itupun menjelang Paskah pendukung-pendukungnya bahkan tim sukses ring satu para murid-Nya lari ketakutan. Bahkan murid-Nya, Petrus menyangkali tiga kali sebelum ayam berkokok. Jubah ungu Yesus pun dilucuti dan diundi oleh prajurit Roma dan dimenangkan Marcellus versi novel The Robe. Ia yang tergantung telanjang di atas kayu salib seperti banyak nubuatan dan himne menjadi ratapan iman.

Di mata dunia adalah sosok yang kalah, lemah, hina. Pelucutan jubah adalah pelecehan asasi manusia. Dan Yesus merasakannya dari pelucutan jubah ungu ala raja Mesias bahkan penutup tubuh secara umum bagi orang awampun dilucuti. Kisah jubbah adalah titik kulminasi kewibawaan Mesias yang diolok-olok dan dilecehkan dunia. Sekaligus titik nadir tiadanya hak sebagai manusia normal tanpa penutup tubuh.

Pada sekuel kisah jubah ini Yesus tidak marah juga tidak putus asa. Bahkan jauh sebelumnya Yesus tidak kampanye akbar, pun berdebat sengit atas dakwaan pengadilan, apalagi membawa pengacara.

Pengarang Amerika, Walker Percy (1916-1990), yang disebut juga Albert Camus-nya Amerika mempunyai kalimat yang bagus yang bisa disejajarkan untuk melukiskan Pemilihan Surgawi, Paskah perdana itu. Yesus mempunyai kesediaan yang teguh untuk memandang penderitaan dan kematian dengan tanpa berkedip. (Steve Garber, 2018) Yesus melihat Diri-Nya dalam titik terbawah derita dunia dan titik terbawah derita sakral. Karena pada titik itu Ia dihukum salib rasa sakit dunia yang paling akut dan rasa sakit jiwa terdalam saat Allah Bapa meninggalkan Diri-Nya.

Tampak dalam Jeritan Agung pada kisah Paskah, yakni “Eli-Eli Lama Sabakhtani” (AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?). Jeritan mana telah menjadi terapi Ilahi dengan menjadikan penderitaan dunia dikawal, ditemani, diempati, dikuatkan, disembuhkan oleh Jeritan Agung itu. Percy menambahkan jeritan Yesus menunjukkan Ia adalah seorang realis sampai ke inti keberadaannya yang terdalam.

Jeritan Agung menjadi simbol bahwa umat Kristiani dalam momen Paskah melihat dirinya sebagai ‘peziarah dalam puing-puing’. Kita diciptakan secitra dan segambar dengan-Nya tetapi ketika dosa berkecamuk dan relasi kita dengan Tuhan terputus, yang tersisa hanya usaha tak berhasil, compang-camping dan puing-puing. Kita mempunyai akar kemuliaan sekaligus aib.

Tapi Percy seperti dalam karya-karyanya The Last Gentleman, The Second Coming, Love in the Ruins, dan The Thanatos Syndrome selalu menginginkan secercah harapan. Dalam konteks Paskah, cercah itu adalah kebangkitan Yesus pada hari ketiga.

Memilih Kebaikan

Kebangkitan Yesus pada hari ketiga adalah kemenangan-Nya atas kendali kematian. Dalam penampakan Yesus kepada orang-orang di ring satu-Nya, tidak terbersit untuk membalikkan keadaan dengan menyiapkan pasukan berkuda dan pusat kerajaan ala dunia. Warisan-Nya bukan warisan yang fana dan mudah lenyap. Ia mewariskan iman akan penyertaan Tuhan dan kedaulatan Tuhan atas segala kecamuk dunia.

Paskah sebagai Pemilihan Surgawi tentang siapa yang akan dipilih sebagai Juruselamat meski di tengah rezim kekaisaran Romawi saat itu, justru bermakna spiritual. Paskah sebagai Pemilihan Surgawi mengingatkan akan umat Kristiani bahwa kita secara spiritual sebagai warga kerajaan surga.

Ini bukan mempertentangkan dengan kehidupan dunia sebagai warga sebuah negara. Pilpres-Pileg tetap harus diikuti sebagai kewajiban warga negara yang baik. Menghormati pemerintah kini dan kelak karena Firman mengatakan tak ada pemerintah yang tidak datang dari Tuhan, seperti kata Paulus. Sebaliknya juga memuliakan siapapun pemimpin kini dan kelak terpilih dengan meyakini bahwa siapapun yang terpilih adalah ada dalam kedaulatan Tuhan sebagai penentu akhir.

Warga kerajaan surga dalam konteks ini mendukung sikap untuk percaya dan meyakini semua keputusan Tuhan atas apa pun yang terjadi. Tugas dunia dijalankan sebaikbaiknya hikmat dunia. Tugas iman menyerahkan apa yang terjadi pada tangan Tuhan yang tidak kelihatan, yang sampai hari ini tetap bekerja atas dunia ciptaan-Nya.

Dunia boleh mencoblos pemimpin dan wakil rakyat dan mereka akan menjadi penguasa atau pejabat yang berhak atas jubah kebesaran. Paskah sebaliknya, Yesus yang dipilih dalam Pemilihan Surgawi dan harus mencoblos dosa dunia sebagai karier yang akan dijalani-Nya dan ditebus-Nya. Dunia telah berdosa, manusia semua berdosa dan itu dipilih-Nya sebagai tugas akhir skripsi-Nya untuk menyelamatkan. Paskah adalah peringatan tentang orang-orang yang telah diambil pilihannya dalam mencoblos dosa.

Secara prinsip kita tidak bisa lagi memilih dosa, melakukan dosa, tinggal dalam dosa, karena dosa telah dipilih-Nya dan dibebankan pada pundak-Nya pada penebusan salib itu. Memang karena kita masih tinggal di dunia yang berdosa natur dosa masih bercokol kuat, kecenderungan dosa masih tetap ada. Di sinilah titik krusialnya. Pascapaskah bukan lagi mati-matian menghindari dosa, tetapi mati-matian membalas penebusan itu dengan hidup nirdosa, antidosa. Yaitu tonggak kelahiran kembali (born again).

Dalam konteks pasca hajatan politik hari-hari ini, umat Kristiani harus memiliki kepekaan relasi dengan orang atau tempat. Artinya dengan sesama warga bangsa, siapapun mereka dan tempat di mana kita ditempatkan, untuk hidup bersama dan bermanfaat. Tanpa hal ini kita tidak memiliki rasa bertanggung jawab terhadap sesama dan bangsa. Umat Kristiani harus menyadari bahwa dosa, kala melahirkan dunia dengan anonimitasnya, hidup untuk diri sendiri dan tidak menjadi manfaat bagi siapapun.

Jika relasi yang penting saja tidak punya, mana mungkin kita bertanggung jawab pada sesama dan bangsa? Novelis-environmentalis Wendell Berry dalam What Are People For?, mengatakan bahwa kasih tidak abstrak, ia tidak harus muluk terkait pada alam semesta, planet, bangsa, profesi, lembaga. Jika kepada seekor burung pipit di jalan, bunga bakung di padang dan kepada salah seorang saudara-Ku yang paling hina saja (seperti kata Yesus) kita tidak bisa mengasihi, bertanggung-jawab dan memberi manfaat.

Apa yang kita omongkan tentang kasih Tuhan yang menebus manusia dalam Paskah dengan menggebu-gebu dan fanatik sekalipun, terbang terbawa angin. Awasilah dirimu dan ajaranmu, kata Timotius.

Stevanus Subagijo, Peneliti Center for National Urgency Studies Jakarta

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN