Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kurs Rupiah dan Presiden Baru

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 22 April 2014 | 02:36 WIB

Kurs merupakan harga pertukaran dua mata uang. Saat ini kurs sangat berperan karena semua negara telah menjadi ‘satu’ melalui perdagangan. Adanya aktivitas perdagangan internasional itulah yang menyebabkan harga barang harus disesuaikan melalui kurs.

Dengan demikian terjadilah satu harga yang dikenal dengan istilah purchasing power parity (PPP). Sebut saja contoh harga sepotong burger (McD) di berbagai negara (Tabel). Dari tabel tersebut ternyata harga McD berkisar U$2 - U$3 kecuali di Jerman berkisar US$ 5. Harga McD di Indonesia terbilang cukup murah, dan lebih mengejutkan lagi harga yang paling murah justru di Jepang.

Estimasi kurs dengan sepotong McD memiliki error (penyimpangan) yang cukup besar, berkisar antara 7-69%. Di Inggris, kurs estimasi lebih rendah, yaitu 8% dan di Jepang kurs estimasi lebih tinggi, yakni 41% dibandingkan aktualnya. Mengapa hal itu dapat berbeda? Hal ini disebabkan perdagangan melibatkan banyak komoditas, sehingga fluktuasi kurs ditentukan oleh berbagai harga. Karena itu, alat yang dijadikan pembanding adalah inflasi.

Teori Keseimbangan
Teori kesimbangan menunjukkan kurs atau nilai tukar akan menyesuaikan sebesar perbedaan faktor domestik dan luar negeri. Ada tiga faktor yang sering dijadikan rujukan, yakni inflasi (purchasing power parity), suku bunga (interest rate parity), dan suku bunga riil (fisher effect parity). Apabila faktor domestik lebih besar dibandingkan dengan faktor luar negeri maka kurs akan meningkat (premium). Artinya, mata uang domestik akan lebih banyak atau mata uang domestik melemah.

Saat ini, kurs rupiah per dolar Amerika Serikat berkisar Rp 11.457, inflasi di Indonesia sebesar 5,6% dan inflasi di AS sebesar 1,8%. Dengan begitu maka kurs diperkirakan sebesar Rp 11.885, atau rupiah mengalami depresiasi/melemah sebesar 3,7%. Karena inflasi biasanya diperhitungkan dalam waktu satu tahun maka perubahan kurs tersebut juga merupakan prediksi untuk satu tahun.

Untuk menyeimbangkan aliran uang, maka negara dengan suku bunga tinggi akan diikuti dengan mata uangnya yang melemah. Baiklah diberikan ilustrasi berikut. Suku bunga nominal rupiah sebesar adalah sebesar 10% dan suku bunga dolar AS sebesar 5% kurs awal berlaku sebesar Rp 10.000 per dolar AS.

Seseorang saat ini memiliki uang Rp 1 juta, itu berarti dengan kurs sekarang setara dengan US$ 100. Jika ditabung dalam rupiah, pada akhir periode kekayaan orang tersebut sebesar Rp1,1 juta, dan jika ditabung dalam dolar AS maka kekayaannya menjadi US$ 105.

Agar situasinya menjadi indifferen maka kurs yang berlaku nantinya harus sebesar Rp 1,1juta per US$ 105 atau senilai Rp 10.476 per dolar AS. Jika kurs sebesar Rp 10.476 dolar AS maka US $105 setara Rp1,1 juta. Saat ini suku bunga di Indonesia berkisar 7,25% dan di AS berkisar 1% dan kurs sebesar Rp 11.457 per dolar AS. Dengan demikian estimasi kurs akan terdepresiasi sebesar 6,2% atau akan menjadi Rp 12.166 per dolar AS.

Bagaimana jika dipergunakan suku bunga riil? Suku bunga riil adalah besaran suku bunga nominal setelah dikurangi inflasi. Untuk Indonesia, ini berarti 7,25% -5,6% menjadi sebesar 1,65% dan untuk AS berarti 1%-1,8% sebesar – 0,8%. Dengan rumusan yang sama diperoleh estimasi kurs terdepresiasi sebesar 2,5% atau akan menjadi Rp 11.740 dari kurs saat ini, yaitu sebesar Rp 11.457 per dolar AS

Terdapat tiga prediksi kurs di atas, dimana hal tersebut menunjukkan adanya depresiasi antara 2,5% hingga 6,2%. Prediksi manakah yang benar? Atau dengan pertanyaan ekstremnya, dapatkah rupiah mengalami apresiasi? Jawabannya dapat. Ekspektasi Rasional Kurs atau nilai tukar mencerminkan kondisi ekonomi suatu negara.

Sementara itu, kondisi ekonomi sebuah negara biasanya dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya ekonomi-bisnis dan politik. Faktor ekonomi sendiri terdiri atas empat faktor utama, yakni konsumsi, investasi, sektor pemerintah, dan ekspor-impor. Keempat faktor tersebut memengaruhi permintaan mata uang, sekaligus memengaruhi ketersediaan mata uang. Faktor ini sebenarnya lebih riil dibandingkan faktor-faktor yang disebutkan dalam teori paritas/keseimbangan di atas.

Kenaikan permintaan mata uang otomatis menyebabkan harga mata uang tersebut meningkat. Jadi jika harga kurs dolar AS meningkat relatif terhadap rupiah, maknanya adalah permintaan dolar AS lebih tinggi dibandingkan permintaan rupiah, atau permintaan dolar AS lebih tinggi dari ketersediaan dolar. Pertanyaannya, bagaimana agar permintaan dolar AS tidak meningkat, atau bagaimana agar ketersediaan dolar meningkat?

Inilah yang harus didukung secara bersama-sama, sehingga terjadi penguatan rupiah. Orang menyatakan bahwa solusi jitu untuk penguatan rupiah adalah dengan mengurangi impor dan mendorong ekspor.

Sudah menjadi tugas masing-masing untuk mencapai tujuan tersebut. Pemerintah harus mendorong keran ekspor melalui berbagai aturan yang memudahkan, sementara para wirausahawan berusaha memperbaiki kualitas produk sehingga barang-barang yang dihasilkannya laku terjual di luar negeri.

Selain itu, ada satu faktor psikologis yang ikut memengaruhi hasil. Ekonom menyebutnya sebagai ekspektasi rasional (rational expectation). Ekspektasi rasional menyatakan apa yang kita perkirakan begitu pula hasilnya. Jika kita memperkirakan besok harga barang naik, otomatis kita akan membeli sekarang. Jika semua orang membeli sekarang, saat ini pula akan terjadi kenaikan permintaan, dan terjadilah harga naik.

Pandangan negatif kita terhadap rupiah merupakan salah satu penyebab rupiah sulit menguat. Pandangan negatif ini ditandai dengan transaksi yang mempergunakan mata uang valas. Jika pelaku ekonomi optimitis dengan rupiah, maka tindakan ke arah tersebut juga harus dijalankan secara bersama.

Sikap optimistis dan kepercayaan terhadap rupiah ini merupakan resultansi dari tindakan pemerintah yang berwibawa dan masyarakat yang mendukung jalannya roda pemerintahan.

Menyambut Pemilu
Presiden 2014, mari kita bangunkan sikap optimistis, bahwa akan terpilih presiden dan wakil presiden yang didukung rakyat, dengan jajaran pemerintahnya yang bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta kebijakan-kebijakannya yang mendukung dunia usaha. Semoga!


Said Kelana Asnawi
Dosen pada Kwik Kian Gie School of
Business

BAGIKAN