Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Memacu Produktivitas Kerja

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 1 September 2015 | 07:34 WIB

Di sosial media, bergulir rangkaian foto suasana kerja para karyawan di kantor Google seperti kantor piknik, banyak mainan dilengkapi makanan dan gaya kerja santai.

 

Dengan kantor seperti itu ternyata Google menjadi ternama untuk urusan di bidangnya. Google juga merupakan perusahaan yang meraih keuntungan dengan harga sahamnya berkisar US$ 612 per lembar atau dengan kurs Rp 14.000 per dolar AS setara dengan Rp 8,6 juta juta per lembar.

 

Di Jerman, jam bekerja konon lebih pendek, hanya berkisar tujuh jam, namun dengan iming-iming tidak sempat berselancar ria di dunia maya. Kedua contoh di atas hanya sekadar menunjukkan bagaimana produktivitas dihasilkan dengan cara yang tidak lazim.

 

Jauh sebelumnya, teori ekonomi klasik mengenalkan konsep diminishing marginal product (DMP). Dalam pengertian sederhana, tingkat output (produktivitas) bekerja akan bertambah namun dengan tambahan semakin kecil hingga jenuh. Untuk menghindari konsep DMP ini maka fungsi produksi ini harus dikurangi. Caranya dapat melalui dua hal yakni, pertama, menginjeksikan teknologi sehingga terbentuk fungsi yang baru; atau kedua, sengaja memutus fungsi produksi dan akhirnya juga membentuk fungsi baru.

 

Cara pertama adalah pemanfaatan instrumen/tool yang berguna bagi produksi. Cara kedua, secara sederhana dapat diartikan ‘istirahat’. Beberapa informasi menunjukkan istirahat siang, bahkan tidur sejenak, dapat menyegarkan dan meningkatkan produktivitas. Kedua cara itu pada dasarnya akan menghasilkan hal yang sama yakni: fokus pada pekerjaan/hasil.

 

Meningkatkan Daya Saing

Produktivitas harus diartikan dalam ukuran per satuan waktu. Motivator menyatakan kita memiliki waktu yang sama, tetapi ada orang yang mampu melakukan lebih banyak. Salahkah yang melakukan lebih sedikit? Hemat saya belum tentu!

 

Untuk kota seperti Jakarta, dimana kemacetan kadang membuat segala sesuatunya tidak berjalan normal maka produktivitas orang sudah tergerus karena suasana stres itu. Kebetulan saya pernah ditanya seorang manajer sumber daya manusia, apa kunci sukses bagi seorang pengajar, dan saya mengatakan: karena pekerjaan seorang pengajar itu masuk katagori industri kreatif dan dia dapat melakukan di mana saja, maka karena jalanan kadang membuat semua aktivitas terganggu, berilah dia sedikit kebebasan waktu dan tentukan saja target yang diperlukan.

 

Seperti Google yang mengacu pada industri kreativitas, maka unsur-unsur kreativitas itu harus dipenuhi dari banyak situasi waktu dan tempat. Jika jam kerja dan tempat kerja tidak dibatasi sebenarnya kita membuka peluang lebih banyak waktu untuk bekerja dan berharap produktivitas dapat meningkat. Itulah sebabnya banyak orang yang memilih nongkrong di kafe dan/ atau berkantor di mobil atau ruangan bebas seraya menggunakan laptop untuk suatu pekerjaan yang dapat diselesaikan.

 

Berbagai pihak yang bekerja sering terikat pada aturan jam kerja. Produktivitas mereka sering diartikan pada pemenuhan jam kerja. Produktivitas di sini ukurannya rentang waktu, walaupun tidak banyak pekerjaan produktif. Prof Rhenald Kasali, guru besar manajemen menyindir kelompok ini, bahwa bekerja di Indonesia itu enak, masih sempat sibuk dengan facebook atau aktif di sosial media. Hal ini tidak bisa ditemukan di luar negeri.

 

Untuk hal ini sebenarnya kesalahan dapat bersumber dari dua hal yakni perusahaan dan si pekerja itu sendiri. Perusahaan yang menciptakan suasana itu, dan pekerja juga yang tidak memiliki etos kerja yang lebih. Bagi pekerja, sebaiknya, dia perlu memperbaiki etos kerjanya untuk kepentingan dirinya dan juga perusahaan. Dia dapat menyambikan waktu kosong itu untuk suatu yang bermanfaat. Para pengelola perusahaan yang dapat mengelola beberapa aktivitas, jelas menunjukkan pemanfaatan satu waktu yang sama untuk berbagai aktivitas. Anda dapat memantau harga saham, menulis artikel, dan sekaligus membimbing mahasiswa pada waktu yang sama.

 

Setelah itu Anda dapat menikmati kopi Lampung sambil mendengarkan lagu kesayangan Anda. Pada kelompok pekerja produksi, mungkin jam kerja dapat dipadatkan dengan meminta lebih produktif. Tantangannya mungkin keraguan kita pada etos kerja karyawan yang ada. Beri target seperti biasa, namun beri pengertian untuk diselesaikan lebih cepat. Keuntungan hal ini dinikmati oleh pekerja dan perusahaan.

 

Untuk pekerja, dia memiliki waktu bebas lebih banyak, dan seyogyanya bisa dia nikmati atau untuk menambah produktivitas personalnya. Bagi perusahaan, jam kerja lebih pendek akan dapat menghemat biaya operasional, dan saat ini memiliki pekerja yang lebih cekatan. Diharapkan dengan tipe pekerja ini, perusahaan dapat meningkatkan daya saing.

 

Pertimbangkan Waktu Kerja

Untuk Jakarta yang akrab dengan kemacetan, mungkin sudah saatnya untuk mempertimbangkan waktu kerja dari 5 hari menjadi 4 hari dengan waktu kerja sama 36-40 jam/ minggu. Pemadatan jam kerja, seperti alasan di atas, akan memberikan manfaat baik bagi perusahaan dan pekerja.

 

Untuk pekerjaan yang dapat diselesaikan di luar kantor, beri kebebasan untuk diselesaikan tanpa harus ke kantor. Gampang, hokum saja. Pola kerja ini juga akan membantu masyarakat secara umum, yakni mengurangi hari macet. Tantangannya adalah jika teori ekonomi klasik DMP di atas berlaku, yakni hanya jam kerja yang bertambah, bukan produktivitasnya.

 

Untuk hal inilah maka perlu dievaluasi dulu apakah pekerjaan tersebut memang dapat diselesaikan dengan waktu yang ditambah, dan juga tentu saja, kesadaran dari pekerja itu sendiri tentang produktivitas. Apakah pengurangan hari kerja ini akan mengurangi layanan? Tentu saja tidak boleh berlaku hal seperti itu, bahkan sebaliknya, waktu layanan secara umum bertambah dua jam per hari atau 10 jam per minggu, dengan cara pengaturan waktu kerja dan informasi yang jelas. Tentu hal ini harus dikaji seksama terlebih dahulu.

 

Sering juga diungkapkan fenomena gunung es di mana kemampuan yang tampak dari seseorang hanya berkisar 20% saja, potensi yang perlu dikembangkan masih 80%. Potensi inilah sebagai salah satu sumber produktivitas. Alih-alih meminta gaji naik, sebaiknya perusahaan menaikkan gaji dari pekerja tipe ini dengan memberi syarat tingkat produktivitas yang diinginkan. Pekerja itu akan merasa terhormat, dan perusahaan juga akan mendapatkan yang terbaik. Hal ini janggal/ jarang dilakukan, tetapi mungkin dapat dicoba. Setidaknya jika ada karyawan yang meminta naik gaji, tidak perlu ditolak, namun cukup disesuaikan lagi target kerjanya.

 

Walaupun buruk, dan tidak bermaksud setuju, biro jasa juga meningkatkan produktivitas bagi sebagian orang. Aturan birokrasi yang ribet/tidak jelas, menyebabkan penggunaan tangan lain menjadikan biaya lebih murah. Untuk hal ini, solusi peningkatan produktivitas, adalah dengan de-birokrasi, standar waktu yang lebih efisien, dan juga mungkin sistem on-line.

 

Yang tepat, jangan menghakimi orang yang ingin meningkatkan produktivitasnya, tetapi harus menciptakan system yang meningkatkan produktivitas. Pemerintah sudah mencanangkan Ayo Kerja. Tentunya yang dimaksudkan adalah kerja yang profesional, yakni mengerjakan sesuatu dengan waktu yang lebih pendek dan hasil yang lebih baik. Ayo kerja produktif!

 

Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business

BAGIKAN