Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Membaca Pilihan Politik Generasi Milenial

Oleh Paulus Mujiran, Senin, 23 April 2018 | 11:03 WIB

Di tahun politik 2018 dan 2019, generasi milenial menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Generasi milenial atau sering disebut generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah generasi X, terlahir pada kisaran tahun 1980-2000-an. Anak muda umumnya apatis bahkan menganggap politik adalah dunia nista.

 

Partai politik selayaknya terlecut untuk menggaet anak muda. Menurut Tapscott (2009), ada tiga pembagian generasi, yakni generasi X (1965-1976), generasi Y (1977-1997), dan generasi Z (1998-sekarang). Artinya, generasi milenial berumur antara 17-37 tahun. Generasi ini sangat berbeda dari generasi sebelumnya, terutama dalam penguasaan teknologi.

 

Mereka lebih akrab dengan dunia maya, khususnya penggunaan media sosial. Generasi milenial memiliki cirri khas tersendiri, ia terlahir ketika era di mana sudah ada televisi berwarna, telepon seluler dan internet. Sehingga generasi ini mahir dalam memanfaatkan teknologi modern.

 

Merujuk data tahun 2015, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 255 juta jiwa, sebanyak 81 juta di antaranya masuk kategori generasi milenial. Dalam penguasaan media sosial, generasi milenial lebih mendominasi ketimbang generasi X. Karena lahir di era teknologi, generasi ini kurang peduli dengan keadaan sekitar termasuk politik.

 

Dalam perhelatan politik, terutama pilkada serentak 2018 dan pemilu 2019, generasi milenial merupakan pemilih potensial (voter) yang sangat berpotensi sebagai agen perubahan. Generasi milenial kelak menjadi calon penerima estafet kepemimpinan bangsa. Terhadap kehidupan politik, generasi milenial mempunyai karakter, pertama, mereka lebih melek teknologi tetapi cenderung apolitis terhadap politik. Mereka tidak loyal kepada partai, sulit tunduk dan patuh instruksi. Generasi milenial cenderung tidak mudah percaya pada elite politik, terutama yang terjerat korupsi dan mempermainkan isu negatif di media sosial.

 

Kedua, generasi milenial cenderung berubah-ubah dalam memberikan hak politiknya. Mereka cenderung lebih rasional, menyukai perubahan dan antikemapanan. Mereka cenderung menyalurkan hak politik kepada partai yang menyentuh kepentingan dan aspirasi mereka sebagai generasi muda.

 

Menurut Alexis de Toqcueville (2013), di negara demokrasi, setiap generasi adalah manusia baru. Generasi baru ini pun mengisi kekosongan gerakan politik Indonesia pasca-Orde Baru. Generasi milenial adalah satu-satunya generasi yang disebut “digital native”, lahir dan tumbuh berbarengan dengan berkembangnya teknologi. Generasi ini lebih berpendidikan, terbuka pada perubahan terutama pada perubahan iklim, hingga kebijakan pelayanan kesehatan. Mereka menggunakan media sosial dan internet untuk berkomunikasi yang selangkah lebih maju dari generasi sebelumnya.

 

Sebagai bagian dari perjalanan berbangsa dan bernegara, generasi milenial menjadi bagian dari anak bangsa yang penting. Selain mereka kelak akan melanjutkan kepemimpinan bangsa ini, populasi mereka yang besar tidak dapat diabaikan dalam perhelatan pilkada dan pemilu. Agar generasi milenial melek politik dan mau terlibat dalam kehidupan politik, mereka harus mendapatkan pendidikan politik. Perilaku pemilih muda umumnya cenderung rasional. Dalam diri kaum muda memiliki kemampuan mengakses beragam media guna memperoleh informasi.

 

Demokratisasi dewasa ini pun lebih banyak digerakkan oleh internet. Pendidikan politik generasi muda tidak didapat dengan cara-cara konvensional melainkan melalui media sosial. Kecenderungan politik ditandai dengan tren global dalam mewujudkan demokrasi partisipatoris. Sehingga transformasi politik terhubung ke internet dan memberikan akses yang bersifat personal.

 

Yang menjadi persoalan, apakah partai politik konsisten memberikan pendidikan politik kepada mereka? Terpotret sekarang bahwa partai politik tidak mempunyai strategi jitu mendekati generasi milenial ini. Dengan karakternya yang berbeda, generasi milenial bukanlah pemilih instan seper ti anggapan partai politik selama ini. Partai politik cenderung melakukan pendekatan kepada pemilih, termasuk kaum muda dan pemilih pemula, hanya ketika sedang ada maunya.

 

Ketika dukungan dan kekuasaan sudah diraih, pemilih ditinggalkan. Kerapkali partai juga secara pragmatis beranggapan dengan bagibagi uang dan sembako, maka suara dukungan dapat diraih. Generasi milenial sadar betul tindakan pembodohan partai hanya merugikan bangsa ini.

 

Sebagai generasi yang haus perubahan, sayangnya sampai saat ini tidak banyak partai politik yang memiliki strategi jitu menggaet suara generasi milenial dengan program dan bahasa yang mampu menyapa mereka. Partai politik masih cenderung beranggapan bahwa yang disebut rakyat pemilih adalah semua rakyat yang selama ini sudah memberikan hak suaranya.

 

Oleh karena itu, pendidikan politik kepada generasi milenial adalah penting. Sebab, bukan tidak mungkin dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, generasi milenial tidak memberikan suaranya karena merasa program partai tidak menyentuh atau terlalu banyak janji yang sulit terpenuhi. Bisa jadi mereka tidak berpartisipasi dalam perhelatan politik ketika mereka tidak mendapatkan pencerahan politik.

 

Literasi politik dapat diberikan baik melalui media sosial maupun internet yang bersinggungan langsung dengan kaum milenial. Mereka adalah pengawal perubahan. Mencerdaskan mereka dalam berpolitik merupakan investasi yang berharga untuk perubahan di masa depan.

 

Paulus Mujiran, Pengamat politik, alumnus Pascasarjana Undip Semarang

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA