Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Membangkitkan Optimisme 2016

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 29 Desember 2015 | 05:22 WIB

Apa yang Anda rasakan berkenaan dengan ekonomi sepanjang tahun 2015? Pertanyaan tersebut saya ajukan ke sejumlah staf di lingkungan kampus tempat saya mengajar. Separuh menjawab biasa saja, tapi sisanya menjawab makin sulit.

 

Mereka yang menjawab biasa saja adalah memiliki pendapatan tetap, sedangkan yang menjawab makin sulit dihubungkan dengan harga kebutuhan pokok yang meningkat. Jawaban staf tersebut tidak serta merta ilmiah, tetapi saya memercayainya untuk sampai pada kesimpulan betapa pentingnya pendapatan dan stabilitas harga.

 

Nyawa dari ekonomi adalah pendapatan yang dinyatakan sebagai produk domestik bruto atau gross dometic product (GDP) atau juga gross national product (GNP). Berbagai pengukuran biasanya berdasarkan rasio dari pendapatan seperti rasio defisit, rasio utang, dan lain-lainya. Ukuran ini untuk mengetahui ambang kemampuan, atau peluang potensi default di mana ukuran ini menjadi peringatan bagi sebuah perusahaan/Negara untuk segera membuat strategi penyelamatan.

 

Faktor penting lainnya adalah indek harga (inflasi). Istilah ekonomi menyebutnya sebagai nilai riil; untuk besaran yang dibagi dengan indek harga ini. Dengan demikian kita mengenal sebagai GDP riil, upah riil, suku bunga riil, di mana semuanya itu menunjukkan nilai bersih.

 

Katalisator Pendapatan Rakyat

Jika pendapatan dan tingkat harga sebagai faktor penting, maka pemerintah seharusnya berfokus juga pada dua hal ini. Pendapatan rakyat berbanding lurus dengan pendapatan pemerintah, tetapi bisa tidak berlaku sebaliknya, karena pendapatan pemerintah bersumber dari pajak (mengurangi pendapatan rakyat).

 

Dalam konotasi ini, tugas pemerintah menjadi katalisator bagi peningkatan pendapatan rakyat. Faktor-faktornya adalah: (1) kemudahan dalam berusaha dan memberikan pelayanan, (2)ketersediaan fasilitas publik, (3) keamanan, dan (4) ketersediaan infrastruktur. Keempat hal itu harus disediakan, setelah itu barulah tarikan pajak.

 

Jika keempat hal di atas tak tersedia, berarti terjadi ketidakseimbangan. Pada beberapa daerah penghasil energi/tambang, dengan potensi tarikan pajak sangat besar, tersedianya ke empat hal di atas adalah suatu kemutlakan. Jika hal di atas tidak bagus, itu akan cenderung menimbulkan potensi ketidakstabilan.

 

Tingkat harga merupakan faktor ekonomi yang diduga selalu positip. Pendapatan dan harga adalah pasangan serasi, namun seharusnya pemerintah mengintervensi tingkat harga ini melalui cara yang elegan. Harga adalah cerminan demandsupply; dimana pemerintah dapat memperbanyak supply atau mengurangi demand.

 

Memperbanyak supply dapat dilakukan dengan mendorong Bank Indonesia untuk mengambil kebijakan suku bunga rendah; memperbaiki fasilitas maupun pelayanan aparatur, serta alokasi APBN untuk hal produktif. Kenaikan harga memakan kekayaan dari sebagian rakyat, terutama yang pendapatannya sebagian besar untuk konsumsi.  Untuk hal inilah maka ketersediaan barang publik yang murah dapat meningkatkan kekayaan rakyat kelas bawah.

 

Indonesia dalam Angka

Sejak 2012, ternyata data ekonomi makro menunjukkan kondisi ekonomi yang lesu (slowdown). Tingkat GDP dari tahun 2012-2014 menunjukkan besaran US$ 917,9 miliar; US$ 910,5 miliar, dan US$ 888,5 miliar. Untuk periode 2015 GDP berkisar US$ 887,4 miliar. GDP per kapita juga turun dari US$ 3.701; 3.624; 3.492 untuk periode yang sama (2012-2014).

 

Untuk tren yang panjang, naik turun suatu data adalah hal yang biasa, namun hal ini tidak berlaku untuk pandangan yang pendek. Situasi kelesuan ekonomi ini, sinyal di masyarakat terjadi hal-hal yang tidak menggembirakan. Indeks pada pasar modal, yang dipakai sebagai ‘leading indicator’ juga memperlihatkan hal sama. IHSG awal Januari 2015 berkisar 5243; saat ini Akhir Desember {22/12/2015) berkisar 4517 (turun 13.8%), dimana seluruh indek sektoral juga mengalami penurunan, dengan Indeks harga sektor pertambangan turun terbesar yakni hampir 41% (1374 menjadi 813) , indeks harga pertanian turun sebesar 29% (2240 menjadi 1588) sedangkan indek harga barang dan konsumsi turun terkecil yakni 1.5% (2091 menjadi 2059). Turunnya indeks ini juga ditunjukkan oleh turunnya kapitalisasi pasar modal dari Rp 5287 trilyun (awal 2015) menjadi Rp 4718 Trilyun, atau turun sebesar 10.8%.

 

Kenyataan angka ini menunjukkan pada semua sektor, seluruh bisnis telah terpengaruh situasi buruk. Indeks komposit yang menurun, menunjukkan ‘return market’ negative dan kondisi ini masuk dalam situasi ‘anomali’. Dalam situasi ini, maka alat estimasi yang sering dipakai analis menjadi tidak berlaku lagi. Instrumen keuangan berisiko, membuktikan risiko aktualnya, sehingga akan lebih baik jika melakukan investasi pada aktiva bebas risiko.

 

Jika kondisi ini berlanjut, maka akan terjadi pengalihan dana dari pasar modal menjadi pasar uang. Terjadi kelebihan dana pada pasar uang, dimana sebenarnya dapat menjadi sinyal positip bagi ketersediaan dana untuk membangun proyek; jika perbankan menyalurkan dana tersebut pada sektor produktif (tidak menukarnya dengan SBI). Namun, situasi ini bermakna buruk bagi pengembangan pasar modal, dimana ketersediaan dana jangka panjang menjadi berkurang, dan dampaknya ‘sharing’ kepemilikan perusahaan melalui IPO dapat terganggu. Untuk hal ini pemerintah wajib membantu pasar modal ini dengan serangkaian rencana kebijakan yang diharapkan dapat berpotensi baik bagi sector yang ada.

 

Turun tajamnya indek sector tambang disebabkan oleh factor eksternal, berupa turunnya harga berbagai komoditas tersebut. Ke depan, prediksi tentang harga jual sektor ini tentunya bukan soal mudah. Sektor barang dan konsumsi turun sangat rendah, tapi dapat diyakini ke depan memiliki potensi rebound. Seharusnya sektor konsumsi ini tidak boleh turun, karena itu mencerminkan jumlah serapan (barang) oleh masyarakat. Turunnya sektor ini dapat menjadi sinyal turunnya kesejahteraan rakyat. Indeks harga sektor per tanian juga turun cukup besar, di mana sebagian besar produksi pertanian ini adalah berkaitan dengan sektor konsumsi. Hal ini harus menjadi perhatian sungguh-sungguh dari pemerintah.

 

Apakah ekonomi bertumbuh ataukah sebenarnya turun sebesar 10,8% (mengutip IHSG) sepanjang 2015 ini? Untuk hal ini, 20 tahun lalu, seorang profesor ekonomi bertanya pada penulis: apakah ukuran disparitas ekonomi? Dengan tangkas penulis menjawab rasio gini, tapi sang profesor itu tersenyum dan memberikan jawaban lain yakni: mata. Pada hari yang sama profesor tadi pergi melihat segitiga emas yang dipenuhi gedung gemerlap lalu kemudian ia pergi ke kawasan kawasan kumuh, masih di wilayah Jakarta.

 

Apakah jawaban dari staf penulis seperti digambarkan pada awal tulisan ini dapat menjadi konklusi? Kita tidak perlu menjadi pesimistis. Data dan berbagai fakta harus menjadi cambuk bagi kita untuk mempersiapkan lebih baik lagi. Sudah saatnya ekonomi rebound tinggi, dan hal ini harus menjadi target pada 2016. Tentu semuanya harus mengawalinya dengan baik: perencanaan yang terukur, berani belajar dari kesalahan masa lalu, serta mengibarkan semangat bekerja keras dan bekerja cerdas untuk menata Indonesia yang lebih baik.

 

Selamat Tahun Baru 2016! Semoga ekonomi nasional semakin menggeliat dan rakyat semakin sejahtera.

 

Said Kelana Asnawi, Ketua Program Studi Manajemen Kwik Kian Gie School of Business, Jakarta

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN