Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Menanti Derasnya FDI

(gor/ant), Rabu, 24 Mei 2017 | 08:06 WIB

Setumpuk harapan positif disandarkan setelah lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) pekan lalu menaikkan peringkat utang Indonesia dari BB+ menjadi BBB-. Dengan kenaikan peringkat, RI masuk investment grade dan berprospek stabil (stable). Kenaikan peringkat ini diberikan karena perbaikan sejumlah indikator perekonomian dan juga proyeksi ekonomi Indonesia ke depan.

 

Wajar Indonesia sangat berharap karena sudah menunggu hamper lima tahun kenaikan peringkat dari S&P. Terlebih lagi, lembaga pemeringkat internasional lainnya sudah mengganjar Indonesia dengan peringkat layak investasi. Sebelumnya, peringkat layak investasi diberikan oleh Fitch (Desember 2011), Moody’s (Januari 2012), Japan Credit Rating Agency/JCRA (Juli 2010), dan Rating & Investment (Oktober 2012).

 

Dampak positif utama dari perbaikan peringkat ini adalah bakal meningkatnya aliran modal masuk (capital inflow), baik ke portofolio maupun investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI). Dampak langsung kenaikan peringkat surat utang adalah mendorong penurunan imbal hasil (yield) obligasi sekaligus menaikkan harga obligasi. Credit default swap juga akan menurun. Hal ini akan membuat surat utang, khususnya surat utang negara, akan makin menarik bagi investor seiring dengan berkurangnya risiko.

 

Namun yang tidak kalah pentingnya adalah dampak kenaikan peringkat terhadap FDI. Dengan menyandang investment grade dari lima lembaga ternama dunia, jelas Indonesia semakin masuk ke dalam radar investasi global. Memang, dampak terhadap investasi langsung tidak seketika, melainkan jangka menengah-panjang. Transformasi capital inflow dari portofolio ke sektor riil dalam bentuk investasi langsung tetap butuh waktu.

 

Untuk itu, Indonesia tetap harus memanfaatkan momentum kenaikan peringkat S&P ini. Setidaknya, Indonesia telah memiliki modal dan fondasi untuk menarik FDI. Faktor utama yang menjadi daya tarik adalah fundamental ekonomi makro yang tetap solid dan stabil, dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

 

Peringkat kemudahan berbisnis (ease of doing business) di Indonesia berdasarkan survei Bank Dunia juga melonjak 15 level dari posisi 106 ke 91. Indonesia dinilai berhasil dalam melakukan reformasi dalam aspek memulai bisnis, memperoleh kredit atau pembiayaan, membayar pajak, kegiatan perdagangan lintas batas, dan masalah kontrak.

 

Indonesia juga tengah agresif membangun jaringan infrastruktur secara masif, mulai jalan tol, pelabuhan, bandara, hingga infrastruktur energy dan telekomunikasi. Infrastruktur yang lengkap dan bagus akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. Jumlah penduduk yang besar, 260 juta, adalah magnet dan potensi yang luar biasa dengan tingkat konsumsi yang tinggi.

 

Terlebih lagi jumlah kelas menengah terus meningkat, ditambah bonus demografi yang ditandai dengan dominasi penduduk usia produktif. Meski demikian, Indonesia masih harus berbenah. Peringkat daya saing Indonesia merosot dari posisi ke-37 tahun lalu menjadi peringkat ke-41 tahun ini dari 138 negara. Indonesia masih menghadapi masalah buruknya pelayanan birokrasi, berbelitnya perizinan terutama di daerah, peraturan yang tidak saling mendukung antara pusat dan daerah, rendahnya kualitas sumber daya manusia, serta tingginya tingkat korupsi.

 

Ke depan, pemerintah harus terus memperbaiki program debirokratisasi perizinan investasi. Paket-paket kebijakan ekonomi yang sudah diluncurkan harus benar-benar dapat diimplementasikan dengan baik, sembari melanjutkan paket kebijakan ekonomi yang dibutuhkan pengusaha.

 

Kecuali itu, insentif pajak harus diperbanyak, terutama keringanan pajak (tax allowance) dan penundaan pajak dalam jangka waktu tertentu (tax holiday). Tak kalah penting, iklim ketenagakerjaan harus tetap dijaga agar investor tetap nyaman berinvestasi di Indonesia. Jika seluruh strategi di atas dijalankan secara konsisten, niscaya kita akan kebanjiran investasi asing langsung. Ada prediksi bahwa kenaikan peringkat S&P ini akan menarik tambahan FDI sedikitnya US$ 10 miliar hingga tahun depan.

 

Selama kuartal I, realisasi FDI atau penanaman modal asing mencapai Rp 97 triliun. Target realisasi investasi senilai Rp 679 triliun tahun ini diyakini bakal terlampaui dengan upgrade rating S&P.

 

Kita berharap bahwa FDI masuk ke sektor-sektor yang sangat kita butuhkan, terutama untuk memperkuat struktur industri nasional yang masih lemah, yakni industry dasar dan intermediate. Selain itu, FDI juga bisa diarahkan menyasar sektor yang banyak menyerap tenaga kerja. Itulah sebabnya, momentum kenaikan peringkat oleh S&P harus benar-benar dimanfaatkan agar capital inflow, termasuk FDI, deras mengalir ke Indonesia. (*)

BAGIKAN