Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Minat IPO Tetap Tinggi

Minat IPO Tetap Tinggi

Menghimpun Dana di Pasar Modal

ID, Selasa, 2 April 2019 | 09:08 WIB

Minat perusahaan menghimpun dana atau fundraising di pasar modal tetap tinggi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi fundraising oleh korporasi tahun ini akan tumbuh sekitar 10% hingga 12% seiring meredanya tekanan dari eksternal dan internal. Sementara itu, situasi ekonomi dan geopolitik global diyakini akan lebih mendukung kembalinya arus modal asing masuk ke Indonesia.

Tahun lalu, OJK mencatat total penghimpunan dana di pasar modal jeblok 34,9% menjadi hanya sebesar Rp 166 triliun dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp 255 triliun. Penghimpunan dana di pasar modal itu berasal dari berbagai aksi korporasi perusahaan, seperti penerbitan surat utang dan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.

Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah perusahaan yang melantai di bursa tahun lalu sebanyak 57 emiten, yang merupakan jumlah terbanyak terutama setelah privatisasi 1992. Pada tahun 2017, hanya mencapai 37 perusahaan dan pada 2016 sebanyak 16 perusahaan. Sedangkan dari sisi nilai, total dana yang dihimpun melalui IPO mencapai Rp 16,01 triliun atau naik 68% dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 9,55 triliun.

Ada sejumlah kondisi yang mendorong penggalangan dana oleh korporasi. Pasar modal Indonesia dinilai masih tetap menarik bagi investor asing. Dibandingkan 2018, tekanan pada 2019 akan jauh lebih berkurang. Tahun lalu, pasar modal Indonesia dihantui oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sehingga harus direspons dengan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia.

Dengan meredanya tekanan dari global, aliran dana asing (capital inflow) akan lebih deras ke pasar modal Indonesia tahun ini. Menurut data OJK, capital inflow ke Indonesia terus meningkat hingga Rp 74,7 triliun di penghujung Maret 2019. Kondisi ini menunjukkan bahwa asing sudah mulai confident lagi menanamkan uangnya di Indonesia. Masuknya dana asing ke pasar berkembang termasuk Indonesia dipicu oleh keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang menahan bunga acuannya, Fed Funds Rate (FFR), di level 2,25-2,50%. Bank sentral AS diperkirakan tidak menaikkan bunga acuannya tahun ini. Tidak hanya The Fed, bank sentral Eropa dan Jepang juga diperkirakan tetap mempertahankan suku bunganya.

Mengalirnya dana asing ke pasar modal Indonesia memberi sentiment positif. Indeks harga saham gabungan (IHSG) terdongkrak. Hingga 1 April 2019, berdasarkan data BEI, IHSG sudah menguat 4,17% secara year to date (ytd). Sementara itu, BEI mencatat investor asing sudah membukukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 12,02 triliun.

Membaiknya kinerja pasar modal dalam negeri tahun ini akan menjadi momentum bagi korporasi untuk menghimpun dana melalui IPO. Karena itu, BEI menargetkan 75 korporasi mencatatkan sahamnya di bursa pada tahun ini, lebih tinggi dari realisasi tahun lalu sebanyak 57 korporasi.

Pihak bursa pun optimistis perekonomian membaik karena adanya dukungan pemerintah. Sehingga, ke depannya akan lebih banyak lagi perusahaan yang tertarik melakukan IPO dan melantai di bursa. Hingga 20 Maret lalu, sudah tercatat tujuh perusahaan melangsungkan IPO dengan dana yang dihimpun mencapai Rp 1,18 triliun.

Saat ini, BEI telah mengantongi daftar antre (pipeline) sekitar 16 perusahaan yang berencana menggalang dana melalui IPO saham. Di samping itu, sekitar delapan perusahaan masuk daftar BEI untuk menerbitkan surat utang, baik obligasi maupun sukuk. Total penggalangan dana dari rencana emisi surat utang ini berkisar Rp 8,85 triliun. Sedangkan hingga 29 Maret 2019 sudah ada 23 korporasi yang mencatatkan surat utang senilai Rp 19,68 triliun.

Dengan animo yang besar itu, minat korporasi menghimpun dana di pasar modal sepertinya tidak terganggu tahun politik, penyelenggaraan pemilu legislatif dan pemilihan presiden serentak pada 17 April medatang. Tingginya animo perusahaan menggalang dana di pasar modal juga sejalan dengan beragamnya produk investasi yang ditawarkan kepada investor. Dan, yang lebih menggembirakan, hampir semua produk itu laris diserap pasar karena permintaan yang tinggi.

Otoritas bursa efek tidak sendirian dalam mendorong perusahaan menghimpun dana di pasar modal. OJK akan mengawal dan membantu BEI dalam menambah daftar perusahaan yang melantai di bursa. Perusahaan yang disasar bukan hanya dari korporasi beraset besar, tapi juga perusahaan dengan jumlah aset sedang dan termasuk kelas usaha kecil menengah (UKM). OJK juga akan memperluas instrumen investasi yang bisa dikeluarkan oleh emiten, baik yang bersifat konvensional, syariah, sosial maupun yang bersifat ramah lingkungan (green bond dan sukuk).

Tidak hanya berupaya mengejar target jumlah emiten baru, BEI juga kerap melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan jumlah investor. Pada 2017, jumlah investor mencapai 1,12 juta single investor identification (SID). Lalu, naik menjadi 1,62 juta SID pada akhir 2018 dan menjadi 1,7 juta SID hingga pertengahan Maret 2019. Jumlah tersebut meliputi jumlah investor saham, reksa dana, dan surat utang. Namun demikian, optimisme kinerja pasar modal akan membaik itu harus pula didukung oleh upaya menjaga integritas pelaku pasar modal. Aturan pasar modal harus ditegakkan demi menjaga kepercayaan investor serta melindungi pemilik modal. Terjaminnya integritas pelaku pasar akan mendorong masyarakat mau berinvestasi di pasar modal, yang pada akhirnya akan meningkatkan volume dan nilai transaksi, mendorong laju IHSG serta kapitalisasi pasar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN