Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Merawat Kebangsaan Melindungi Keragaman

Gora Kunjana, Senin, 7 Agustus 2017 | 00:53 WIB

SEMARANG - Komunitas Gus Durian Semarang bersinergi dengan Pelita, eLSA, EIN, Kom HAK KAS, Hikmabudhi dan berbagai komunitas lain menyelenggarakan Malam Peringatan Hari Lahir Gus Dur yang ke-77 di Merby Club Semarang, Minggu (6/8/2017).  Acara diskusi dan testimoni, pertunjukan seni dan doa lintas agama ini dipandu Hesti dan Fira. 

 

Musa yang bertindak sebagai moderator diskusi memanggil Romo Budi, Khoirul Anwar, Pdt Ary Nugroho, Pandita Agus, dan Pdt Silo. Musa pun membawa arus diskusi menjadi suatu sharing dan kesaksian sebab tentang Gus Dur memang tak perlu banyak diskusi. Yang diperlukan adalah aksi dan implementasi.

 

Musa pun mempersilakan Romo Aloys Budi Purnomo Pr sebagai pemberi kesaksian pertama. Ketua Komisi HAK KAS dan Pastor Kepala Campus Ministry pun segera berbagi kisah. 

 

"Kematian Gus Dur membawa kehidupan dan semangat baru dalam relasi antarumat beragama. Gus Dur adalah sosok yang merawat kebangsaan dan melindungi keragaman di dunia ini," kata Romo Budi mengawali sharing-nya.

 

Dalam kesaksiannya Romo Budi mengaku mendapat berkat dalam mewarisi nilai-nilai semangat Gus Dur. Dirinya menjadi salah satu dari para deklarator Gus Durian di Jawa Tengah, tepatnya 49 hari sesudah Gus Dur wafat. Deklarasi Gus Durian dibacakan oleh Romo Budi di Taman Budaya Raden Saleh Semarang kala itu disaksikan Alisa Wahid, Putri Gus Dur dan Gus Umar, adik Gus Dur.

 

Gus Dur adalah sosok pemersatu dan peduli kepada kaum tersingkir. Ia selalu membela yang teraniaya meski dia sendiri harus memdapatkan dan mengalami celaan. 

 

Menjadi Juru Damai

Selanjutnya, menurut narasumber lain yakni Khoirul Anwar, ada oknum yang tidak suka dengan perdamaian, persaudaraan, kerukunan. Ada situs penyebar kebencian dan anti perbedaan. Maka diperlukan juru damai yang menyampaikan pesan Gus Dur untuk merawat kebangsaan melindungi keragaman.

 

Dalam Islam, menjadi juru damai merupakan kewajiban yang harus dijalankan. Bahkan Nabi Muhammad meninggalkan salah sholatnya demi mendamaikan yang sedang berkonflik. Mendamaikan umat hukumnya wajib (fardlu kifayah). 

 

Musuh perbedaan adalah pembenturan. Yang diperlukan ishlah bainan nas (= mendamaikan konflik yang terjadi di antara manusia). Peringatan ini menjadi sarana untuk melanjutkan dan memperjuangkan itu.

 

Spontan Bersahabat

Sementara itu, Pendeta Ary berkisah tentang pengalaman Gereja Kristen yang dibela oleh Gus Dur. Putra Pdt. Nugroho yang bersahabat dengan Gus Dur. Gara-gara Gus Durlah maka Gereja Unitarian bisa eksis di masa pemerintahannya. Sinode Gereja Unitarian Pdt Nugroho ditetapkan oleh Gus Dur saat masih menjadi Presiden.

 

Kerukunan mestinya tak hanya bersifat seremonial melainkan seharusnya menjadi personal dan realitas sehari-hari. NBB nusantara bangkit bersatu menjadi gerakan untuk menjaga Nusantara. NKRI harus dirawat dengan gerakan NBB. 

 

Pengalaman personal saat tiba-tiba Gus Dur mampir ke rumah Pdt Nugroho. Tanda bahwa Gus Dur sangat merakyat dalam merawat kebangsaan melindungi keragaman. Datang ke rumah teman tanpa protokoler.

 

Pandita Agus dari Buddha dengan rendah hati mengakui betapa Gus Dur adalah Presiden Juara Stand Up Comedy. Gus Dur memberi warna indah dalam humor kehidupan. “Stand Up Comedy yang menyadarkan kita untuk memiliki nurani yang jernih di tengah dunia yang bobrok,” katanya.

 

Sebagai warga Buddha, Pandita Agus mengatakan merasa bombong. Umat Buddha memiliki bermacam-macam komunitas. Namun Gus Dur merawat dan menghormati semua tanpa diskrimimasi. 

 

Sedangkan menurut Abraham Silo Williar - Intelektual Protestan UKSW, Gus Dur adalah sosok yang luar biasa. Sejak Gus Dur lahir, Gus Dur sudah memiliki tanda luar biasa di masa mendatang, kata Gus Mus saat Silo wawancara penelitian di Rembang. Gus Dur sosok yang memiliki spontanitas dan mampu melewati batas-batas. 

 

Itu juga yang ditempuh oleh Silo saat membuat penelitian di Pondok Pesantren. Dengan itu Silo belajar dan mewarisi sikap berani menembus batas dalam keberagaman.

 

Karenanya perjumpaan itu penting. Perjumpaan menjadi cara untuk menerobos lintas batas. Untuk sikap itu dibutuhkan sikap iman yang mendalam.

 

Acara yang diawali penampilan Musik Bohemian yang berkolaborasi dengan Romo Budi melibatkan juga para Wanita Katolik Semarang Utara. Tampil pula Kelana, penyair asal Kendal yang membacakan puisi Burung-Burung Kondor karya WS Rendra. Acara ditutup dengan doa oleh Romo Budi dan Khoirul Anwar. Semoga membawa berkat merawat kebangsaan dan melindungi keragaman. (gor)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA