Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Merger, Pilihan Masa Depan

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 24 Maret 2015 | 17:34 WIB

Merger merupakan salah satu strategi bisnis di masa depan. Adanya sinergi, merupakan alasan utama perlunya merger. Sinergi dapat bersumber dari perluasan penerimaan maupun efisien biaya.


Efisien biaya dapat dilakukan dengan mengurangi biayabiaya tetap, pembelian bahan baku lebih banyak, sehingga rerata biaya turun. Perluasan penerimaan dengan memperluas pasar mengurangi persaingan, membuat barrier to entr y dan penetapan harga serta daerah penjualan. Pada situasi merger internal dapat juga dilakukan dengan motif menghemat pajak yang dibayar. Caranya perusahaan yang untung mengakuisisiperusahaan yang rugi, sehingga keuntungan total menurun, dan pajak dibayar menjadi turun.


Perusahaan yang membesar setelah diharapkan memiliki tingkat efisiensi yang lebih baik. Sekalipun begitu, merger dapat saja gagal menghasilkan sinergi. Beberapa hal berikut ini dapat menjadi patokannya: pertama, lack of carefull analysis. Ini terjadi jika merger didesain tidak melalui kajian yang dalam, juga karena terlalu optimistis dengan sumberdaya saat ini sehingga sinergi tidak terjadi.


Kedua, kesulitan memprediksi kebutuhan yang akan datang, terutama berkenaan dengan besarnya pasar/permintaan. Perubahan lingkungan dapat menjadi penyebab, faktor lain adalah sumber daya yang tidak dapat dioptimalkan. Ketiga, salah baca terhadap sumberdaya yang ada, invisible assets yang dimiliki oleh perusahaan; juga terhadap benefit sinergi. Keempat, terjadinya kanibalisasi produk.


Mungkin lebih tepat menciptakan beberapa anak perusahaan, lalu memproduksi barang yang sama, namun masing-masing memiliki variasi kualitas. Dengan demikian, apa punpilihan konsumen, maka semuanya membeli pada produsen dengan holding yang sama. Kelima, ada juga merger yang dipaksakan, dimana kedua pihak sebenarnya tidak memiliki keinginan untuk merger. Hal ini karena dalam banyak hal, akan sangat banyak pertentangan, baik dari budaya organisasi, maupun dalam hal penilaian saham perusahaan.


Teknologi Informasi

Impian merger yang kandas diceritakan oleh Gaughan (2007). Adalah Montana Power, sebuah perusahaan yang didirikan pada 1912 dan bergerak di industri gas, minyak, dan batubara. Pada 1980 perusahaan memasuki industri telekomunikasi dengan membeli anak perusahaan AT&T). Tahun 2001, perusahaan menjual bisnis power utility senilai US$ 1,3 miliar dan menginvestasikan pada bisnis high-flying telecomunication.


Montana Power kemudian mengubah namanya menjadi Touch America Holding Inc. Harga saham pada saat menjual power utility-nya adalah sebesar US$ 65 per lembar. Pada kuartal ketiga 2003 harga sahamnya hanya US$ 0,53 per lembar dan selanjutnya delisting. Penyebab gagalnya transformasi ini adalah industri ini over capacity, meningkatnya kompetisi, serta marjin yang rendah.


Gaughan juga memberikan panduan rentang angka untuk merger, yakni rerata total entreprise value sebanyak 8,6 kali EBITDA, rerata PER 25,7 kali dengan rentang 17,5x (untuk industri manufaktur) hingga 33,3x (real estat). Rerata (tertimbang) premium sebesar 34,5% dengan rentang 15,5% (comm &broadcasting) dan 78,3% (natural resources).


Selain perusahaan biasa, seperti kasus Montana Power tersebut di atas, merger juga terjadi di bursa. Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah merger antara Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). Di berbagai negara terdapat merger antara sesama bursa sejenis, misal bursa saham dengan bursa saham, atau bursa berjangka dengan bursa berjangka. Merger juga terjadi bukan hanya melewati batas negara melainkan juga antarbenua. Alasan utama merger intra & inter business ini adalah kemungkinan memiliki teknologi informasi yang superior sebagai survival tool utama.


See Liang Foo menulis artikel bertajuk The Proposed Merger of the Australian and Singaporean Exchanges: A Match Made in Heaven:

Singapore Management University 2012), yang berkisah soal kegagalan merger bursa Singapura dan bursa Australia. Pada Oktober 2010 Singapore Exchange Limited (SGX) mengumumkan akan membeli ASX. Jika hal ini terjadi maka posisi bursa yang baru (merger) akan menempati nomor lima di dunia dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$ 2,7 triliun. Kapitalisasi pasar ASX dan SGX masing-masing ranking 11 dan21 di dunia dari jumlah perusahaan (listed) sebanyak 750 (SGX) dan 1900 (ASX). Grup ASX merupakan gabungan antara Australian Stock Exchange dan The Sydney Futures Exchange (2006).


Baik SGX dan ASX akan tetap berbadan hukum terpisah, memelihara nama baik bersama dan tetap patuh pada aturan masing-masing negara. Merger SGX dan ASX dianggap akan memberikan produk dan jasa baru yang inovatif, kesempatan bagi pelanggan mengoptimalkan peluang yang ada. Sayangnya, ide ini akhirnya ditentang oleh parlemen Australia dan dianggap sebagai suatu ide gila (lunacy on a grand scale).


Bagi parlemen Australia, ide ini merendahkan harkat negaranya karena harus dikontrol oleh Bursa Singapura. Pada 8 April 2011, pihak Australia mengumumkan menolak proposal merger. Alasan gagalnya merger ini bukan karena pertimbangan bisnis, tetapi stakeholder

(Australia) yang merasa ‘terhina’. Dalam konteks bisnis, ini sama dengan keinginan stakeholder yang tidak sepaham, perbedaan budaya organisasi, dan lainnya sebagaiman diuraikan di atas.


Berikan Nilai Tambah

Selain merger, pasar dapat diperluas dengan jalan difersifikasi. Itaki (1987) menyebutnya sebagai efek komplemen. Untuk menjelaskannya, Itaki memberikan ilustrasi tentang sebuah tempat peristirahatan, berupa resort untuk bermain sky.


Resort ini hanya akan dipakai pada musim salju. Pada musim panas, resort ini menjadi sepi pengunjung, sehingga tidak memperoleh pendapatan tambahan. Jika pengelola resort mensiasati dengan membuat lapangan golf, maka di musim panas resort ini akan memiliki pendapatan dari pengunjung yang ingin bermain golf. Sekarang resort memiliki pendapatan di sepanjang waktu.


Namun, ini hanyalah efek komplemen. Efek sinergi akan terjadi jika resort (penginapan) dibuat menyenangkan, sehingga mengesankan bagi pengunjung. Dengan demikianpengunjung yang ingin bermain golf, ingin menikmati suasana musim salju di resort ini, dan pengunjung yang bermain sky, ingin menikmati saat santai di musim panas di resort ini. Ini disebut sebagai efek sinergi dari keberadaan penginapan yang menyenangkan.


Dari uraian di atas, pertanyaannya bukan pada merjer atau tidak merger, tetapi keputusan mana yang memberikan nilai tambah bagi stakeholder. Merger juga tidak harus diartikan sebagai penggabungan dua perusahaan, sebagaimana ilustrasi Itaki di atas. Keputusan tidak merjer hendaknya juga tetap berdasarkan rasionalitas, misal karena kebutuhan pasar memang menghendaki adanya lebih banyak pemain.


Dalam konteks bernegara, ternyata keputusan merger tidak semata didasarkan pertimbangan profit secara bisnis. Hal ini dapat menjadi panduan bagi pengambil keputusan.

BAGIKAN