Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Mewaspadai Ancaman Bioterorisme

Jumat, 11 Januari 2013 | 12:21 WIB
Antara

SEPERTI tidak mau kecolongan, pemerintah serius melacak sinyalemen aksi bioterorisme yang ditularkan melalui wabah flu burung di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, Badan Intelijen Negara (BIN) turut diterjunkan untuk menyelidiki ancaman serius ini.

Bermula dari kejadian epidemik ratusan ribu itik mati tertular flu burung di Brebes, Jawa Timur, Jawa Barat, DIY, Banten dan Sulawesi Selatan, yang selanjutnya diteliti oleh akademisi Unari, CA Nidom. Dia menyatakan bahwa virus baru itu bukan hasil mutasi, melainkan buatan manusia. Nidom menduga bahwa ini merupakan bioterorisme.

Varian baru flu burung ditemukan pertama kali di Danau Qinghai, Tiongkok. Padahal, Indonesia bukan tempat migrasi burung dari Tiongkok, tetapi ketika masuk ke Indonesia, daerah pertama yang terjangkiti adalah Sumatera kemudian secara bersamaan merambat langsung Brebes dan dalam waktu cepat menyebar ke-24 kabupaten di seluruh Indonesia.

Sekertaris Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis Emil Agustiono mencium aroma tidak sedap ini dan mengatakan bahwa terdapat pihak yang sengaja memasukkan jenis varian flu burung, H5N1 clade 2.3.2, untuk disebarkan ke Indonesia. Hal ini bisa dimasukkan dalam kejahatan bioterorisme.

Menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia untuk menjawab dugaan tersebut, apakah benar terjadi penyebaran virus flu burung oleh pihak tertentu dengan tujuan menggoyang ketahanan pangan dan perekonomian nasional yang sedang tumbuh bagusbagusnya. Perlu langkah penyelidikan lebih lanjut dari BIN untuk mengungkap siapa pihak yang harus bertanggung jawab dalam menyebarkan itu. BIN tentunya harus ekstra keras mengumpulkan informasi secara tertutup agar mendapatkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Julia Gisel
Bumi Sawangan Indah
Depok, Jawa Barat

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN