Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Muliaman: 65% Saham yang Diperdagangkan Milik Asing

Oleh Farid Firdaus dan Agustiyanti, Senin, 28 September 2015 | 11:37 WIB

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad menuturkan, saat ini sekitar 65% saham yang diperdagangkan di pasar modal dimiliki oleh asing. Kondisi tersebut menciptakan tantangan karena menimbulkan volatilitas yang lebih tinggi. “Karena itu, market deepening menjadi topik yang penting,” ujar dia.


Menurut dia, guna memperdalam pasar modal, pihaknya sudah mengundang tidak hanya BUMN tetapi juga anak-anak usahanya untuk melantai di bursa efek. Sedangkan di sisi permintaan, pihaknya akan mendorong investor ritel domestik untuk lebih banyak berpartisipasi melalui reksa dana mikro.


“Kami sudah mengundang anak usaha BUMN untuk masuk ke pasar modal, dan kami juga sudah bertemu dengan Ibu Rini (Menteri BUMN). Kami tidak tahu hasilnya tapi responsnya cukup positif,” terang dia.


Menurut Muliaman, permintaan terhadap produk jasa keuangan di dalam negeri ke depan masih akan tumbuh kencang seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat dan meningkatnya kebutuhan terhadap produk asuransi dan investasi. Hal ini mengingat masih rendahnya penetrasi masyarakat terhadap produk jasa keuangan.


Di tengah perlambatan kondisi ekonomi saat ini, menurut dia, kondisi industri jasa keuangan, terutama perbankan berada pada kondisi yang aman. OJK telah melakukan berbagai skenario, tidak hanya terkait dengan berbagai kemungkinan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, tetapi juga berbagai kemungkinan penurunan pertumbuhan ekonomi, harga komoditas, dan berbagai skenario pemburukan ekonomi.


“Kami sudah minta bank-bank untuk lakukan stress test secara individual. Kami juga rutin melakukan stress test. Hasilnya tentu tidak bisa kami paparkan, tapi masih aman,” ungkap dia.


Menurut Muliaman, industri perbankan di Tanah Air berbeda dengan perbankan di Tiongkok. Di Indonesia, melemahnya nilai tukar dan penurunan harga saham tidak berpengaruh langsung terhadap perbankan. Pasalnya, industri perbankan tidak diperbolehkan memberikan pembiayaan untuk memberi saham dan tujuan spekulatif lainnya.


“Untuk nilai tukar, saat ini perbankan di Indonesia berada dalam long position, sehingga tidak ada masalah. Memang ada tekanan terhadap kenaikan NPL, tapi masih terkendali,” terang dia.


Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menjelaskan, kondisi di pasar modal sedang mengalami negative feedback loop. Harga-harga saham turun, investor menjual saham, dan earning juga turun. Market confidence melemah sehingga investor cenderung memilih jual (sell). Kondisi ini tidak hanya terjadi di saham-saham bank saja, tapi juga di saham sektor-sektor lain.


Aksi jual saham di sektor komoditas seperti saham-saham perusahaan tambang, kata dia, sudah terjadi sejak tahun 2013. Soalnya, sekitar 60% ekonomi Indonesia ditopang oleh ekspor komoditas. Ketika harga komoditas turun, investor pun menjual saham di sektor tersebut. “Hal ini juga merambah ke sektor konsumsi, manufaktur, lalu ke saham-saham bank. Harga saham-saham bank yang big cap juga turun,” kata dia. (th)

BAGIKAN