Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Naik 7,2%, ULN Indonesia Capai Rp 5.404 Triliun

GR, Jumat, 15 Maret 2019 | 15:02 WIB

JAKARTA- Utang luar negeri (ULN) Indonesia meningkat 7,2% secara tahunan pada akhir Januari 2019 menjadi US$ 383,3 miliar atau setara dengan Rp5.404 triliun, berdasarkan asumsi kurs referensi Bank Sentral akhir Januari 2019.

Menurut Statistik ULN Indonesia yang dilansir Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Jumat, utang luar negeri Indonesia hingga akhir Januari 2019 itu terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 190,2 miliar dan utang swasta termasuk BUMN sebesar US$ 193,1 miliar.

"Pertumbuhan ULN 7,2% (year on year/yoy) yang relatif stabil tersebut sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ULN pemerintah di tengah perlambatan pertumbuhan ULN swasta," tulis Bank Sentral dalam laporannya.

Adapun ULN pemerintah yang sebesar US$ 187,2 miliar atau tumbuh 3,7% (yoy) dipengaruhi oleh arus masuk dana investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) selama Januari 2019.

Aliran dana ke SBN itu, disebut BI, menunjukkan peningkatan kepercayaan investor asing terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

Sektor-sektor prioritas yang dibiayai melalui utang luar negeri pemerintah antara lain sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, sektor konstruksi, sektor jasa pendidikan, sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib, serta sektor jasa keuangan dan asuransi.

Sedangkan, utang luar negeri swasta melambat pada Januari 2019. Jumlah ULN swasta hanya meningkat US$ 1,5 miliar, atau tumbuh 10,8% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan Desember 2018 yang sebesar 11,5% (yoy).

"Perlambatan tersebut terutama disebabkan oleh pertumbuhan ULN sektor industri pengolahan dan sektor jasa keuangan dan asuransi yang melambat. Sementara itu, pertumbuhan ULN sektor pertambangan dan sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas (LGA) mengalami peningkatan dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya," tulis Bank Sentral.

BI memandang struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat saat ini, yang terlihat dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di kisaran 36%.

Rasio tersebut, menurut Bank Sentral, masih berada di kisaran rata-rata negara dengan kapasitas ekonomi serupa (peers).

Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,2% dari total ULN.

"Bank Indonesia dan Pemerintah terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan ULN dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," ujar Bank Sentral. (*)

Sumber: ANTARA

BAGIKAN