Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Nilai Wajar yang Tak Wajar

Oleh Said Kelana Asnawi, Selasa, 9 Desember 2014 | 08:42 WIB

Tidak ada yang pernah mengira harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun dari Rp 8.000-an pada 2008 menjadi hanya gocapan saat ini. Penurunan yang tajam dan tersebut menunjukkan ada sesuatu yang tidak mampu dianalis oleh investor atas kinerja emiten. Bagaimana analis melakukan valuasi?


Secara umum, nilai sekarang adalah cerminan masa lalu. Jika saham berharga Rp 1.000 per lembar, maka itu adalah hasil fundamental masa lalu. Tapi perlu diingat, investor yang membeli saham tidak mendapatkan masa lalunya melainkan ke masa depan. Karena itu,

seyogyanya investor memperkirakan situasi masa depan, sambil mencari hubungannya dengan masa lalu.


Terdapat tiga faktor utama dalam mencari nilai wajar. Pertama, investor perlu memperkirakan masa depan. Meskipun diyakini ada hubungan antara sejarah dan masa depan, tetapi sejarah tetaplah data usang. Contoh yang sederhana adalah adalah industri musik yang terus berkembang, tapi industri recording (kaset) sudah mati. Jika Anda membangun industri kaset, boleh jadi Anda akan membangun atau membuat besi tua.


Damodaran, Maestro valuasi, menyebutkan, industri yang dekat dengan teknologi sangat cepat berubah, dan tiba-tiba dapat segera menjadi usang. Investasi Anda dapat sia-sia. Untuk kasus BUMI di atas, anjloknya harga batubara dianggap sebagai biang keladi. Bisnis inti dari BUMI tergolong sederhana, keruk dan jual.


Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php

BAGIKAN